IKS UIN Sunan Kalijaga dan National Taipei University Berbagi Perspektif tentang NPO dan Inovasi Sosial
Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS), Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Public Lecture bersama Dr. Shu-Hua Kang, Assistant Professor, Department of Social Work, National Taipei University, Taiwan, Kamis (1/10/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB tersebut mengangkat tema “Non Profit Organisation Development in Taiwan: Practical Insights from My Journey in Social Work & Social Innovation.”
Kegiatan dipandu oleh Wiwin Elsa, mahasiswa IKS angkatan 2025, sebagai Master of Ceremony (MC). Turut hadir Lathiful Khuluq, PhD, dosen IKS UIN Sunan Kalijaga, sebagai pembanding yang memberikan tanggapan dan perspektif terhadap materi yang disampaikan narasumber.
Dalam sambutan pembukaan, Ketua Program Studi IKS, Muhammad Izzul Haq, S.Sos., MSc., PhD, menyampaikan selamat datang kepada Shu-Hua Kang. Pertemuan ini memiliki kedekatan akademik tersendiri karena keduanya sama-sama pernah menempuh studi doktoral di School of Social Work, McGill University, Kanada.
Izzul menekankan bahwa pembahasan mengenai NPO penting bagi mahasiswa pekerjaan sosial karena praktik pekerjaan sosial tidak hanya berlangsung dalam lembaga pemerintah atau pelayanan sosial formal. Organisasi nonprofit juga memiliki peran penting dalam pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, advokasi kelompok marginal, hingga pengembangan inovasi sosial. Mahasiswa didorong untuk membandingkan pengalaman Taiwan dengan Indonesia dan melihat kemungkinan pembelajaran yang relevan bagi pengembangan kesejahteraan sosial di Indonesia.
Dari Perkembangan NPO hingga Social Innovation
Dalam pemaparannya, Kang menjelaskan Nonprofit Organizations (NPOs) sebagai bagian dari third sector yang melengkapi peran pemerintah dan sektor bisnis dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Mengacu pada Ralph M. Kramer, ia menunjukkan bahwa NPO tidak hanya berfungsi memberikan pelayanan (service provision), tetapi juga menjalankan peran pioneering and innovation, reform and advocacy, serta value preservation.
Kang kemudian menggambarkan perkembangan NPO di Taiwan dari organisasi kesejahteraan yang pada masa awal banyak dipengaruhi kegiatan amal dan bantuan luar negeri menuju sektor masyarakat sipil yang semakin mandiri. Demokratisasi Taiwan, terutama setelah berakhirnya martial law pada 1987, turut memperluas ruang bagi organisasi masyarakat sipil, partisipasi publik, dan advokasi. Izzul's students_10012026 Sektor ini kemudian berkembang pesat; data yang dipresentasikan Kang menunjukkan terdapat lebih dari 70.000 organisasi nonprofit di Taiwan berdasarkan estimasi luas yang memasukkan berbagai jenis organisasi, termasuk yayasan, pada 2019.
Materi kemudian beralih pada perjalanan profesional Kang sendiri. Pengalamannya di Taipei Women’s Rescue Foundation dan AMA Museum memperlihatkan bagaimana praktik pekerjaan sosial dapat bergerak dari pendampingan (accompaniment), advokasi publik, hingga tindakan kolektif. AMA Museum yang dibuka pada 2016, misalnya, menjadi ruang untuk menjaga ingatan mengenai perempuan Taiwan penyintas perbudakan seksual militer sekaligus menampilkan kekuatan dan kemanusiaan mereka, bukan semata pengalaman kekerasan yang mereka alami.
Pengalaman tersebut kemudian turut mendorong Kang mengembangkan inovasi sosial melalui Swing Reeds. Inisiatif ini memanfaatkan kembali karung goni bekas kopi menjadi produk kreatif melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Model tersebut sekaligus menghubungkan pelestarian lingkungan, penguatan kelompok perempuan lokal, serta penciptaan kesempatan kerja dan partisipasi sosial bagi perempuan.
Menurut Kang, tantangan NPO bukan hanya memperoleh pendanaan, tetapi juga bagaimana organisasi dapat menjaga misi sosial sekaligus mempertahankan keberlanjutan organisasi. NPO perlu mengembangkan inovasi, mendiversifikasi sumber pendanaan, menjaga otonomi dalam kerja sama dengan pemerintah, memperhatikan keberlanjutan beban kerja staf, serta tetap akuntabel kepada masyarakat yang dilayani.
Public Lecture ini memperlihatkan bahwa pekerjaan sosial dapat berkembang dari praktik pendampingan individu menuju advokasi, tindakan kolektif, pengembangan organisasi, dan inovasi sosial. Pengalaman Taiwan sekaligus memberikan perspektif komparatif bagi mahasiswa IKS untuk melihat bagaimana NPO dapat menjadi salah satu wahana penting bagi praktik pekerjaan sosial.
Menutup kegiatan, Prodi IKS berharap pertemuan dengan akademisi National Taipei University tersebut dapat memperluas wawasan internasional mahasiswa sekaligus membuka peluang pertukaran akademik dan kolaborasi lebih lanjut antara komunitas pekerjaan sosial di Taiwan dan Indonesia. Sebagaimana ditekankan Kaprodi dalam sambutannya, pertukaran internasional bukan sekadar untuk menyalin model dari negara lain, melainkan menjadi ruang untuk saling belajar, membandingkan pengalaman, dan merefleksikan konteks kesejahteraan sosial masing-masing.