Pendekatan Praktikum

Ada beberapa pendekatan yang dipakai dalam praktikum ini, yaitu agency setting-based, structured, generalis
practice skill, block placement dan problem solving-oriented.
 
Pertama, pendekatan praktikum agency setting-based adalah pendekatan yang berbasis pada setting lembaga. Pada
praktikum ini, Prodi IKS bekerja sama dengan organisasi mitra yang memberikan layanan sosial, baik yang berasal
dari pemerintah (Dinas Sosial, Lembaga Pemasyarakatan dan lain-lain) maupun swasta (LSM, ormas dan lain-lain). Prodi
IKS mengirimkan mahasiswa praktikan ke organisasi mitra, baik untuk melakukan praktek di organisasi tersebut maupun
terlibat dalam pengorganisasian di masyarakat dampingan mereka. Prodi IKS tidak mengirimkan mahasiswa secara
langsung ke masyarakat seperti yang lazim dilakukan oleh mahasiswa KKN, melainkan bekerja sama dengan lembaga
yang mapan agar mahasiswa bisa secara profesional terlibat dalam program dan layanan mereka.
 
Kedua, structured approach adalah pendekatan terstruktur, yaitu pendekatan praktikum yang memiliki
desain yang sistematis dan terukur. Praktikum memiliki format tertentu yang dibakukan berkaitan dengan
perencanaan, pelaksanaan sampai monitoring dan evaluasi. Mahasiswa praktikan dan organisasi partner diharapkan
mengikuti aturan dan prosedur dari Prodi IKS agarpelaksanaan praktikum dapat diukur, dinilai dan dievaluasi
serta bermanfaat untuk kedua belah pihak.
 
Ketiga, Prodi IKS menggunakan pendekatan generalis practice skills. Dalam pendekatan ini mahasiswa menangani
satu kasus/masalah klien atau keluarga dari aspek mikro, mezzo dan makro sekaligus sejak tahapan assessment
hingga terminasi. Mahasiswa dapat melaksanakan intervensi mikro, mezzo, dan makro tanpa harus berurutan.
Sehingga mahasiswa praktikum dapat belajar menerapkan keterampilan pekerjaan sosial yang meliputi penelitian, konseling individu 
dan kelompok, brokering, edukasi, advokasi, penyuluhan masyarakat, dan lain-lain.
 
Keempat, pendekatan block placement. Praktikum IKS ditempatkan dalam satu periode khusus, yaitu satu semester
atau sekitar 4 bulan, tanpa jeda dan tidak berbarengan dengan kuliah lain di kelas. Dalam masa satu semester, mahasiswa
melakukan praktik mikro yang berfokus pada individu, praktik mezzo yang berfokus pada keluarga dan kelompok,
dan praktikum makro yang berfokus pada komunitas yang lebih besar/masyarakat, negara dan kebijakan. Tahapan
praktikum didasarkan pada tahapan intervensi (engagement, assessment, planning, intervensi, evaluasi, dan terminasi)
bukan tahapan level intervensi.
 
Pendekatan ini dengan demikian secara otomatis menegaskan pentingnya praktikum untuk berorientasi
pada penyelesain masalah (problem solving-oriented) dan atau manajemen kasus. Pada praktikum ini, Prodi
IKS menekankan pentingnya mahasiswa praktikan untuk memahami dan mendalami masalah klien secara
komprehensif dan luas. Mahasiswa harus menganalisa dan membantu menyelesaikan masalah klien dari level mikro,
mezzo dan makro. Praktek di level mezzo yang berbentuk kelompok juga dapat dijadikan sebagai media dalam praktek
mikro dan makro. Alasan pendekatan yang berorientasi pada problem solving dan manajemen kasus adalah
agar mahasiswa mendapatkan sebuah model/gambaran penanganan suatu masalah klien yang terpadu dan ideal
serta berjejaring dengan significant others.