Sejarah

Seiring dengan perkembangannya, Fakultas Dakwah dan Komunikasi saat ini memiliki lima program studi sarjana dan empat program pascasarjana. Adapun program studi sarjana tersebut meliputi:

  • Komunikasi dan Penyiaran Islam
  • Bimbingan dan Konseling Islam
  • Pengembangan Masyarakat Islam
  • Manajemen Dakwah
  • Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) 

Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) merupakan program studi yang paling muda, didirikan pada tahun 2009. Sebelum pendirian Program Studi IKS, mata kuliah pekerjaan sosial diajarkan dalam Konsentrasi Kesejahteraan Sosial di Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam.

Program Studi IKS diresmikan pada tanggal 20 Januari 2009 berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor DJ.I/32/09. Cikal bakal dari pendirian program studi ini merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Agama Republik Indonesia dan CIDA Canada.

Program studi ini dibentuk sebagai respons terhadap semakin kompleksnya persoalan kesejahteraan sosial di tingkat lokal, nasional, maupun global, khususnya terkait kemiskinan, ketimpangan, kerentanan kelompok marjinal, serta tantangan pembangunan sosial yang lebih luas.
 

Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memiliki perjalanan kelembagaan yang terus berkembang sejak resmi didirikan pada tahun 2009. Sebagai salah satu program studi yang mengusung integrasi keilmuan kesejahteraan sosial dengan nilai-nilai Islam, Prodi IKS tumbuh melalui kepemimpinan para akademisi dan intelektual yang memiliki kontribusi penting baik di tingkat universitas maupun nasional.

Keunikan utama Program Studi IKS terletak pada integrasi antara ilmu-ilmu keislaman dan ilmu kesejahteraan sosial (social welfare dan social work). Integrasi ini menjadi ciri khas yang membedakan Program Studi IKS UIN Sunan Kalijaga dari program studi sejenis di Indonesia, dengan memfokuskan pada karakteristik Islamic and Critical Social Work.

Kepemimpinan pertama Prodi IKS diemban oleh Prof. Dr. H. Waryono, M.Ag pada periode 2009–2012. Beliau merupakan salah satu figur penting dalam masa awal pendirian dan penguatan fondasi akademik program studi. Di bawah kepemimpinannya, Prodi IKS mulai membangun identitas keilmuan serta jejaring kelembagaan di bidang kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial. Saat ini, Prof. Waryono mengemban amanah sebagai Direktur Zakat, Wakaf, dan Infak Kementerian Agama Republik Indonesia.

Kepemimpinan berikutnya dilanjutkan oleh Dr. H. Zainudin, M.Ag pada periode 2012–2015. Pada masa ini, Prodi IKS semakin memperluas penguatan akademik dan pengembangan jejaring sosial-keagamaan, khususnya dalam konteks dialog sosial dan pemberdayaan masyarakat. Saat ini, beliau dikenal sebagai Direktur Dialogue Center UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Selanjutnya, Prodi IKS dipimpin oleh Prof. Dr. Arif Maftuhin, M.Ag., M.A.I.S pada periode 2015–2016. Meskipun berlangsung relatif singkat, kepemimpinan beliau memberikan kontribusi penting dalam penguatan tradisi akademik, riset, dan perspektif inklusivitas sosial dalam pengembangan program studi. Kini, Prof. Arif Maftuhin menjabat sebagai Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pada periode 2016–2020, kepemimpinan Prodi IKS dilanjutkan oleh Andayani, MSW. Di bawah kepemimpinannya, Prodi IKS semakin memperkuat orientasi praktik pekerjaan sosial, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, serta perluasan kerja sama dengan berbagai lembaga sosial dan kemanusiaan.

Selanjutnya, tongkat estafet kepemimpinan dipegang oleh Siti Solechah, M.Si pada periode 2020–2024. Masa kepemimpinan ini ditandai dengan penguatan tata kelola akademik, adaptasi pembelajaran pada masa pandemi Covid-19, serta peningkatan berbagai kerja sama tridharma perguruan tinggi. Pada periode ini pula, Prodi IKS semakin aktif dalam penguatan branding akademik, pengembangan jejaring profesi, dan internasionalisasi program studi.

Memasuki periode 2024–2028, Prodi IKS dipimpin oleh Muhammad Izzul Haq, S.Sos., MSc., PhD. Kepemimpinan ini membawa semangat penguatan internasionalisasi, pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), pembukaan kelas International Undergraduate Program (IUP) sekaligus peningkatan kolaborasi global, serta penguatan positioning Prodi IKS sebagai pusat pengembangan ilmu kesejahteraan sosial yang integratif, humanis, dan responsif terhadap isu-isu sosial kontemporer di tingkat lokal maupun global.

Perjalanan kepemimpinan tersebut menunjukkan bahwa Prodi IKS UIN Sunan Kalijaga terus berkembang secara dinamis, tidak hanya sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai ruang pengembangan intelektual dan praksis sosial yang berorientasi pada keadilan sosial, kemanusiaan, dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

Internasionalisasi program studi ini menjadi sangat relevan secara strategis mengingat meningkatnya kebutuhan tenaga profesional kesejahteraan sosial, khususnya di kawasan Timur Tengah dan Asia Timur, di mana isu-isu seperti migrasi, buruh migran, filantropi Islam (zakat dan wakaf), respons kemanusiaan, serta pelayanan sosial berbasis komunitas terus berkembang. Dalam konteks ini, lulusan program studi memiliki keunggulan komparatif melalui perpaduan antara kompetensi profesional dan pemahaman terhadap nilai-nilai Islam.