Belajar dari Filipina: Memahami Kemiskinan Multidimensional dan Perlindungan Sosial bagi Kelompok Prekariat

Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Public Lecture bertajuk “Social Protection for the Precariat: Insights from the Philippines” pada Rabu (3/6/2026) di Ruang 410 Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Kegiatan ini merupakan bagian dari perkuliahan Mata Kuliah Penanggulangan Kemiskinan yang diampu oleh Muhammad Izzul Haq, PhD dan diikuti oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial.

Kuliah publik menghadirkan Emir Tumanon, Union Leader dari ABC 5 Employees Union, Philippines, sebagai narasumber utama. Dalam kesempatan tersebut, Emir berbagi pengalaman mengenai kondisi pekerja rentan (precariat) di Filipina serta berbagai upaya perlindungan sosial yang dikembangkan untuk mengurangi kerentanan ekonomi dan sosial yang mereka hadapi.

Dalam paparannya, Emir menjelaskan bahwa kelompok prekariat merupakan kelompok pekerja yang hidup dalam situasi ketidakpastian pekerjaan, pendapatan, dan perlindungan sosial. Mereka umumnya bekerja dalam sektor informal, kontrak jangka pendek, pekerjaan lepas, maupun bentuk-bentuk kerja fleksibel lainnya yang sering kali tidak disertai jaminan sosial yang memadai. Kondisi tersebut menyebabkan kelompok ini lebih rentan mengalami kemiskinan, ketidakamanan ekonomi, dan eksklusi sosial.

Salah satu fokus utama kuliah publik ini adalah pembahasan mengenai Dimensions of Poverty yang dikembangkan oleh Swedish International Development Cooperation Agency (Sida). Melalui pendekatan tersebut, kemiskinan dipahami bukan semata-mata sebagai kekurangan pendapatan, melainkan sebagai fenomena multidimensional yang mencakup berbagai aspek kehidupan manusia. Menurut Sida, seseorang yang hidup dalam kemiskinan tidak hanya mengalami keterbatasan sumber daya, tetapi juga dapat mengalami kekurangan dalam dimensi lain yang memengaruhi kemampuan mereka untuk hidup secara layak dan bermartabat.

Emir menjelaskan bahwa kerangka multidimensional tersebut terdiri atas empat dimensi utama. Pertama, resources (sumber daya), yaitu akses terhadap pendapatan, aset, pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan berbagai modal yang dibutuhkan untuk mempertahankan standar hidup yang layak. Kedua, opportunities and choice (kesempatan dan pilihan), yang berkaitan dengan akses terhadap pekerjaan produktif, pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, pasar, serta informasi yang memungkinkan seseorang keluar dari kemiskinan. Ketiga, power and voice (kekuasaan dan suara), yaitu kemampuan individu atau kelompok untuk menyuarakan kepentingannya, memperjuangkan hak-haknya, serta berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka. Keempat, human security (keamanan manusia), yang mencakup perlindungan dari kekerasan fisik, psikologis, maupun berbagai bentuk ancaman yang dapat menghambat kesejahteraan seseorang.

Lebih lanjut, Emir menekankan bahwa kemiskinan tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan yang melingkupinya. Oleh karena itu, perlindungan sosial yang efektif tidak cukup hanya berbentuk bantuan tunai atau program jaminan sosial semata. Perlindungan sosial juga harus mampu memperluas kesempatan hidup masyarakat, memperkuat posisi tawar kelompok rentan, serta menciptakan rasa aman bagi individu dan keluarga dalam menghadapi berbagai risiko kehidupan. Perspektif inilah yang menjadi landasan penting dalam memahami tantangan yang dihadapi kelompok prekariat di Filipina maupun di negara-negara berkembang lainnya.

Dalam sesi diskusi, mahasiswa menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan terkait hubungan antara pekerjaan informal, kemiskinan multidimensional, peran serikat pekerja, serta tantangan pengembangan sistem perlindungan sosial yang inklusif di era ekonomi digital. Berbagai contoh kasus yang disampaikan narasumber membantu peserta memahami bagaimana kebijakan publik, kondisi pasar kerja, dan relasi kekuasaan dalam masyarakat dapat memengaruhi kesejahteraan kelompok rentan.

Melalui penyelenggaraan kuliah publik ini, Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga terus berupaya memperkaya wawasan global mahasiswa sekaligus memperkuat pemahaman mereka terhadap berbagai isu kesejahteraan sosial kontemporer. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen program studi dalam menghadirkan pembelajaran yang kritis, kontekstual, dan relevan dengan tantangan sosial yang berkembang di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.