WHAT'S NEW?
Loading...
Kampung Sayur Pilahan Rejowinangun Kota Gede Yogyakarta adalah sebuah kampung di tengah Kota Yogyakarta yang diberdayakan untuk menjadi kampung tujuan wisata agro di daerah perkotaan. Kampung ini memberdayakan ibu-ibu rumah tangga untuk bertani di lahan rumahnya sendiri dengan media polybag sehingga dibentuklah Kelompok Tani Wanita.
Di kampung ini mahasiswa IKS semester 6 belajar tentang pengelolaan kampung sayur, manfaatnya bagi warga, juga belajar menanam dengan media polybag sebagai bagian usaha urban farm.








Pembukaan Welfare Studies oleh Dosen IKS, Arin Mamlaka Kalamika S. Sos MA. Lembaga Pengembangan Profesi Pekerjaan Sosial (LP3S) mengadakan Welfare Studies bagi mahasiswa semester II dan IV Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) UIN. Kegiatan berlangsung selama tiga hari (15-17/4) di Desa Wonolelo, Pleret, Bantul. Dengan mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Komunitas untuk Mewujudkan Desa yang Mandiri Berbudaya dan Sejahtera”, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 25 orang peserta.
Wonolelo merupakan desa yang sedang merintis desa ekowisata dan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Hampir 80% penduduknya bekerja sebagai petani, 50% di antaranya sebagai pemilik lahan dan 30% sisanya sebagai buruh tani. Profesi petani tidak mengenal umur dan starata sosial, baik sarjana mau pun masyarakat dengan keterbatasan pendidikan. Lahan yang luas dan memadai menjadi kekuatan desa ini untuk mengembangkan sayap dalam bidang pertanian.
Kegiatan ini mendapat dukungan serta apresiasi dari perangkat desa dan karang taruna. “Saya senang karena teman-teman mahasiswa tergerak hatinya untuk belajar dari desa kami. Kami mendukung acara dan kami merasa terbantu dengan adanya kegiatan ini”, ungkap Lurah Wonolelo Puji Astuti dalam sambutannya.
Mahasiswa dilatih untuk memiliki skill wawancara, pencatatan data saat melakukan assessment dan bagaimana mengolah data yang telah diperoleh di lapangan. Dalam melakukan analisis sosial terdapat dua factor yang perlu dianalisis, yakni faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal berupa kekuatan serta kelemahan yang terdapat dalam diri setiap individu. Sedangkan faktor eksternal berupa faktor yang berasal dari luar dan mempengaruhi individu, berupa kesempatan dan ancaman.
 “Di sini saya bisa mengetahui bagaimana kehidupan sosial yang ada di desa Wonolelo, saya juga senang mengikuti swelfare studies ini karena ini menjadi pengalaman baru yang tidak saya dapatkan dari kampus”, tutur salah satu peserta, Arizka Endah Chayani.
Pembelajaran di dalam kelas merupakan sarana untuk memberikan pembekalan bagi mahasiswa sebelum turun ke lapangan. Sejatinya proses pembelajaran yang sesungguhnya adalah saat sudah berhadapan dan terjun langsung ke dalam masyarakat. Karean output dari perguruan tinggi adalah melahirkan generasi yang mampu berguna serta memberdayakan masyarakat. Seperti yang tertuang dalam Tri Darma Perguruan Tinggi, salah satunya adalah pengabdian kepada masyarakat.
Selain sebagai sarana pembelajaran bagi peserta, kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap masyarakat Wonolelo sendiri. Salah satunya adalah masyarakat mampu untuk mengenali lebih dalam potensi-potensi yang mereka miliki untuk meningkatkan taraf serta kesejahteraan hidupnya.
Melalui kegiatan ini peserta diharapkan mampu menerapkan teori-teori yang telah didapatkan di kelas saat melakukan analisis sosial dalam suatu masyarakat. Analisis sosial tidak hanya tentang bagaimana interaksi sosial dalam masyarakat. Namun juga hal-hal yang berkaitan dengan religiusitas, budaya, profesi, dan kegiatan-kegiatan desa yang mendukung pemberdayaan masyarakat. (emy)

Prodi IKS UIN Sunan Kalijaga mengirimkan delegasi dalam Kongres ke-8 IPPSI (Ikatakan Pendidikan Pekerjsaan/Kesejahteraan Sosial Indonesia) di Ambon, Maluku. Acara yang dibuka oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa ini diuanrumahi oleh Universitas Kristen Indonesia Maluku. Kongres berlangsung antara tanggal 10-14 April 2016.

Pembukaan

Dalam pembukaan kongres yang dilaksanakan di lokasi Gong Perdamaian Ambon, Menteri Sosial, seperti dikutip oleh Berita Maluku, mengharapkan agar Ikatan Pendidikan Pekerjaan Sosial Indonesia (IPPSI) harus dapat membangun konektifitas dengan berbagai profesi lainnya.
Dalam kongres yang dihadiri 26 perguruan tinggi penyelenggara pendidikan kesejahteraan seluruh Indonesia, Khofifah berpesan agar konfrensi nasional IPPSI menjadi bagian dari penguatan, percepatan, perwujudan kesejahteraan sosial yang mestinya bisa dibangun konektifiti dengan berabagai sektor lainnya. “Diantaranya dalam upaya perwujudan kesejahteraan rakyat membutuhkan infrastuktur yang relative memadai misalnya di Ambon ada Jembatan Merah Putih (JMP), pasti akan membantu percepatan moda transportasi termasuk perdagangan dan ekonomi,” ujarnya.
Selain itu, daerah-daerah lain yang memiliki sektor pertambangan staretgis harus memiliki keterkaitan, sama halnya dengan layanan pendidikan dan kesehatan. “Olehnya itu IPPSI harus membangun konektifitas dengan berbagai profesi lainnya, agar proses kesejahteraan sosial bisa terwujud,” ucapnya.
Menurutnya, tema yang ditetapkan dalam konfrensi nasional IPPSI “Membangun keserasian dari bawah” diharapkan akan membangun kehidupan yang harmonis, interen antar umat beragama di Indonesia. “Perdamaian yang kita bangun adalah perdamaian inklusif bukan perdamaian kalitatif. Nuansa di area Gong Perdamaian Dunia akan memberikan nuansa dan roh dari upaya untuk terus mewujudkan kehidupan yang harmonis terutama interen antar umat beragama,” tuturnya.
Seperti dikutip Harian Rakyat Maluku, Ketua Umum IPPSI Pusat, Dr. Sony Nulhakim mengatakan, pelaksanaan Konfrensi dan Kongres IPPSI ini mengusung tema Membangun Keserasian Sosial Dari Bawa”. Tema ini merupakan tema faktual dan selaras dengan tema pembangunan kesejahteraan sosial yang diselenggarakan Kemensos RI yakni Restorasi Sosial.
Sony mengatakan, selain dihadiri Mensos RI, Khofifa Indra Parawansa sebagai pembicara, pelaksanaan Seminar Nasional itu juga nantinya dihadiri oleh narasumber yang berasal dari Akademisi UKIM, Pemda, NGO, termasuk perwakilan dari Perguruan Tinggi Pendidikan Kesejahteraan Sosial untuk memberikan makalah yang dapat menginspirasi pengembangan kebijakan atau model-model terkait dengan pembangunan keserasian sosial.
Hasil dari Seminar tersebut nantinya dijadikan sebuah buku tentang keserasian sosial dari perspektif kesejahteraan sosial yang akan menjadi refrensi utama untuk pendidikan sosial dan pekerjaan sosial di Indonesia.” Ini juga untuk membangun satu komitmen bahwa UKIM punya keungulan dalam Pendidikan Kesejahteraan Sosial dalam kaitan dengan menciptakan harmony, menciptakan keserasian sosial atau juga mengembangakan model model yang terkait dengan resolusi konflik.”ujar Sony sembari menambahkan.


Kegiatan
Acara Kongres diawali dengan konferensi yang menghadirkan para pembawa makalah dari berbagai perguruan tinggi anggota IPPSI. Peserta dibagi dalam beberapa tema, lalu masing-masing mendapatkan respon dari hadirin. Hasil presentasi dan respon akan digunakan untuk memperbaiki makalah dan kelak diterbitkan oleh IPPSI.
Acara inti berupa Kongres diawali dengan pembacaan tata tertib, laporan pertanggunjawaban dan dilanjutkan dengan sidang komisi-komisi. Sebagai puncak acara, dilakukan pemilihan ketua umum IPPSI periode 2016-2018. Kongres akhirnya menetapkan Dr. Oman Sukmana dari Universitas Muhammadiyah Malang sebagai ketua.
Para anggota delegasi UIN Sunan Kalijaga juga terpilih untuk mengisi sejumlah pos penting dalam kepengurusan IPPSI 2016-2018.
Penjelasan program oleh Pak Fajar Suryatman

Bertempat di kantor Save the Children - Yayasan Sayangi Tunas Bangsa, pada hari Kamis 31 Maret 2016, berlangsung briefing untuk 10 mahasiswa magang periode 2016-2017 kerjasama Prodi IKS dan Save the Children dalam rangka penguatan program PDAK (Pusat Dukungan Anak & Keluarga).

Kegiatan magang ini merupakan realisasi kerjasama MoU antara Prodi IKS UIN Sunan Kalijaga dengan Save the Children dalam rangka penguatan program PDAK untuk lebih mendekatkan layanan baik dari Prodi IKS maupun Save the Children untuk perlindungan anak.

Kesepuluh peserta magang yang juga akan menjadi caseworker PDAK itu adalah: Meliya Morniwati (2011), Dwi Papsa, Iis Arfiyani, Dian Panji Permana, Anika Miratul Bariroh (2012), M. Iqbal Hanafi, M. Makhribi, Iddah, Ekmil Lana Dina, dan Hartoyo (2013).

Para mahasiswa magang terpilih.
Briefing diberikan oleh Rose Merry selaku Gate Keeping Officer Save the Children Jogja.
Dalam briefing, dijelaskan mengenai profil Save the Children, program, tugas dan tanggung jawab magang, penjelasan mengenai PDAK, share pengalaman dari peserta magang periode 2015-2016.