WHAT'S NEW?
Loading...
A.    Sejarah Berdirinya Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Yogyakarta 
Pada tahun 1973, Kanwil Departemen Sosial Provinsi DIY mendirikan Panti Petirahan Anak (PPA) Kaliurang dengan menempati gedung peninggalan Belanda di kawasan Kaliurang dengan sasaran garap anak-anak SD di wilayah DIY dengan Program Pelayanan Sosial dan Peningkatan Gizi.
Pada saat terjadinya Erupsi Merapi di Yogyakarta pada tanggal 22 November 1994, program Panti Petirahan Anak Yogyakarta di Kaliurang tidak  dapat dilaksanakan karena wilayah Kaliurang dinyatakan sebagai Daerah Merah, tidak diijinkan kegiatan jangka panjang apalagi yang melibatkan  anak-anak untuk beraktifitas di Wilayah  Kaliurang. Untuk sementara kegiatan Panti Petirahan Anak (PPA) Kaliurang dilaksanakan di Kantor Loka Bina Karya di Dusun Klido, Kelurahan Sukoharjo, Ngaglik, Sleman Yogyakarta.
Pada tahun 1998 Kanwil Departemen Sosial Provinsi DIY mendapatkan alokasi dana Loan dari Jepang untuk membuat bangunan Panti Petirahan Anak sebagai Pengganti PPA di Kaliurang, atas ijin dari Kraton Yogyakarta maka lokasi Bangunan PPA di berikan Dusun Banjarharjo, Bimomartani, Ngemplak, Sleman Yogyakarta. Maka sejak tanggal 1 April 1999 gedung tersebut sudah dipakai untuk kegiatan pelayanan Panti Petirahan Anak Yogyakarta.
Dengan adanya otonomi daerah berdasarkan pertimbangan kebutuhan masyarakat, maka pada tahun 2004 Panti Sosial Petirahan Anak Yogyakarta beralih fungsi dan Program menjadi Panti Sosial Asuhan Anak Yogyakarta. Panti Sosial Asuhan Anak Yogyakarta mulai beroperasi pada tanggal 1 April 2004 dengan jumlah sasaran garap 40 anak, dengan berbagai tingkatan Pendidikan, ditempatkan dalam 10 asrama yang ada di PSAA.
Pemilihan nama Panti Sosial Asuhan Anak Unit BIMA, dengan harapan bahwa, Bima adalah tokoh pewayangan yang merupakan bagian dari Pandawa yang mempunyai perwatakan Jujur dan Pembela kebenaran, jadi diharapkan Anak usuh yang dilayani di Panti Sosial Asuhan Anak bisa menjadi anak yang profesional karena dibekali ilmu yang cukup dan tetap mengedepankan kejujuran dalam berkarya di masyarakat serta terus berjuang dalam kebenaran.
B.    Kondisi Geografis dan Kondisi Ruangan
Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Yogyakarta unit Bimomartani terletak di Desa Banjarharjo, Kelurahan Bimomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Provinsi D.I. Yogyakarta. PSAA ini terletak jauh dari perkotaan kota Yogyakarta dan berdekatan dengan Gunung Merapi, kurang lebih 20 km jarak dari panti sampai gunung. Perjalanan menuju Panti dari kota Yogyakarta, melewati persawahan luas dan perkebunan yang dikelola oleh masyarakat disekitarnya.
Selain itu, jalan utama dari kota Yogyakarta menuju panti, selalu dilewati dengan banyaknya truk angkutan pasir yang berdatangan dari dalam maupun luar Yogyakarta. Hasil pasir tersebut didapat dari Gunung Merapi, yang memiliki sumber pasir yang melimpah.
A.    Alamat PSAA Yogyakarta Unit Bimomartani Ngemplak
1.    Dusun            : Banjarharjo
2.    Desa            : Bimomartani
3.    Kecamatan        : Ngemplak
4.    Kabupaten        : Sleman
5.    Kode Pos        : 55584
6.    Telepon            : 0274.7489571
B.    Tahun Berdiri        : 2003
C.    Kapasitas Tampung    : 100 Orang
D.    Kapasitas Isi        :  80  
E.    Jangkauan Pelayanan    : Daerah Istimewa Yogyakarta
F.    Luas Bangunan        : 3.474 M2
Terdiri Dari        :
1.    Kantor            : 200 M2
2.    Aula / Ruang Pertemuan    : 200 M2
3.    Gedung Pendidikan        : 120 M2 x 3   = 1.360 M2
4.    Asrama            : 120 M2 x 10 = 1.200 M2
5.    Dapur / Ruang Makan    : 180 M2
6.    Rumah Dinas Tipe 36    : 36 M2 x 4  =  144 M2
7.    Rumah Dinas Tipe 70    : 70 M2
8.    Gardu Listrik            : 12M2
9.    Gudang            : 96 M2
10.    Ruang Konseling dan bermain    : 70 M2
11.    Ruang Ibadah            : 120 M2
12.    Perpustakaan                : 112 M2
13.    Poliklinik                : 108 M2
14.    Pos Jaga                : 6 M2
G.    Sarana Transportasi dan Komunikasi
1.    Kendaraan Operasional Roda 4    : 2 Unit
2.    Kendaraan Operasional Roda 2    : 3 Unit
3.    Telephon Fleksi            : 1 Unit.
C.    Visi dan Misi
VISI : PSAA menjadi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Profesional yang mampu mengentaskan anak dari keterlantaran, perlakuan salah, serta memberikan Perlindungan dan Bimbingan sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak mandiri dan bertanggung jawab.
MISI:
1.    Memenuhi hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan hak berpartisipasi melalui pelayanan kebutuhan dasar, pendidikan dan program bimbingan psikososial, bimbingan belajar dan bimbingan ketrampilan hidup.
2.    Memberikan perlindungan kepada anak dari tindak kekerasan dan diskriminasi.
3.    Meningkatkan profesionalisme pegawai di bidang pelayan sosial anak menuju pelayanan prima.
4.    Memperluas jaringan dan partnership dengan lembaga-lembaga lokal, nasional dan internasional di bidang perlindungan anak.
D.    Tugas dan Fungsi
1.    Tugas : Sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta dalam penyelenggaraan pelayanan, perlindungan dan pengembangan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial anak.
2.    Fungsi :
a.    Penyusunan program panti
b.    Penyusunan pedoman teknis perlindungan, pelayanan dan pengembangan sosial bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Anak.
c.    Pelaksana identifikasi dan pemetaan perlindungan, pelayanan dan pengembangan sosial bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Anak.
d.    Penyelenggaraan kegiatan perlindungan, pelayanan dan pengembangan sosial bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Anak.
e.    Penyelenggaraan kegiatan pengasuhan berbasis keluarga baik di dalam panti maupun dalam keluarga sejak penerimaan, perencanaan dan pelaksanaan program pelayanan sampai dengan pembinaan lanjut.
f.    Penyelenggaraan pengawasan, evaluasi dan pelaporan terhadap pelaksanaan programkegiatan panti.
g.    Penyelenggaraan jaringan/ koordinasi dengan Dinas/ instansi/ lembaga terkait serta yayasan maupun orsos dalam rangka pengasuhan, perlindungan, dan pelayanan keejahteraan sosial anak.
h.    Pelaksanaan peningkatan peran serta masyarakat dalam penanganan anak.
i.    Fasilitas penelitian dan pengembangan perguruan tinggi/ lembaga kemasyarakatan/ tenaga kesejahteraan sosial untuk perlindungan, pelayanan dan pengembangan sosial anak.
j.    Pelaksana tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai tugas dan fungsinya.
k.    Penyelenggara ketata usahaan.
E.    Kedudukan, Tujuan Pelayanan, Sasaran, Fasilitas Pelayanan dan Program Pelayanan.
1.    Kedudukan
Panti Sosial Asuhan Anak Yogyakarta adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi D.I. Yogyakarta yang memberikan pelayanan kesejahteraan sosial pada anak melalui program pelayanan dalam Panti.
2.    Tujuan Pelayanan
a.    Mewujudkan terpenuhinya hak anak, yaitu kelangsungan hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi, yang berupa kebutuhan dasar, pendidikan dan keterampilan hidup, agar anak dapat tumbuh kembang secara wajar, sehingga mampu menghidupkan diri untuk hidup mandiri dan bertanggungjawab.
b.    Meningkatkan profesionalisme kerja dalam memberikan pelayanan dan perlindungan seta pengembangan kesejahteraan sosial bagi anak terlantar.
c.    Meningkatkan koordinasi dengan instansi/ lembaga/ yayasan/ organisasi sosial dan pihak-pihak terkait dalam penanganan anak terlantar.
d.    Meningkatkan peran serta masyarakat, dunia usaha dan dunia pendidikan serta keluarga dalam upaya pelayanan, perlindungan dan pengembangan sosial anak.
e.    Memperkuat pemenuhan hak anak untuk mendapatkan pengasuhan dalam keluarga
3.    Sasaran
a.    Anak Tidak Mampu Terlantar.
1.    Laki laki atau perempuan usia 6- 18 tahun.
2.    Yatim, Piatu, Yatim piatu yang mengalami masalah dalam
kepengasuhan.
3.    Anak terpisah dari keluarga (AMPK)
4.    Anak terancam keamanannya (AMPK, KTK)
b.    Keluarga Anak Asuh.
c.    Masyarakat, lingkungan anak asuh dan PSAA.
4.    Fasilitas Pelayanan
a.    Pemenuhan kebutuhan dasar, yang berupa pengasramaan, permakanan, kebersihan, pakaian.
b.    Pengasuhan dan perlindungan, berupa kesehatan, bimbingan mental agama, bimbingan mental psikologi, bimbingan mental kepribadian, dan bimbingan ketrampilan hidup/ life skill ( bagi anak asuh dalam panti).
c.    Sarana pendidikan formal, berupa biaya pendidikan dari SD sampai dengan SLTA ( baik anak asuh dalam panti maupun dalam keluarga).
5.    Program Pelayanan
a.    Program pelayanan didalam panti (keluarga alternative).
b.    Program pelayanan dalam keluarga (keluarga inti).
c.    Program pelayanan anak berkebutuhan khusus (AMPK, KTK).
F.    Persyaratan Masuk Panti, dan Proses Penerimaan
1.    Persyaratan Masuk Panti
a.    Menyerahkan surat keterangan tidak mampu, (Yatim, piyatu, yatim piyatu) dari kelurahan atau desa setempat.
b.    Menyerahkan surat keterangan sehat jasmani dan rohani serta tidak berpenyakit menular dari dokter pemerintah (Puskesmas).
c.    Tidak cacat baik fisik maupun mental.
d.    Mampu mengurus diri sendiri.
e.    Bersedia tinggal dan mengikuti kegiatan didalam Panti (untuk pelayanan didalam Panti).
f.    Menyerahkan rujukan lengkap dengan hasil asesmen dari lembaga perujuk ( khusus bagi AMPK dan KTK).
g.    Mengisi formulir yang disediakan.
h.    Bersedia menandatangani kesepakatan pelayanan.
2.    Proses Penerimaan
a.    Tahap Persiapan ( pendekatan awal atau asesmen awal: orientasi dan identifikasi, motivasi dan seleksi).
b.    Tahap Penerimaan atau Registrasi.
c.    Tahap penempatan dalam pengasuhan.
d.    Tahap pelaksanaan pengasuhan.
e.    Tahap reintergrasi/reunifikasi/resiosialisasi.
f.    Tahap monitoring dan evaluasi.
g.    Tahap terminasi.
h.    Tahap pembinaan lanjutan.
G.    Prinsip-prinsip Pelayanan dan Indikator Keberhasilan
1.     Prinsip-prinsip Pelayanan
a.    Prinsip Tidak Diskriminasi
b.    Prinsip Keutuhan Keluarga
c.    Prinsip Kepentingan Terbaik Untuk anak
d.    Prinsip Menghargai Pendapat anak
e.    Prinsip Mengutamakan Hak Hidup, Kelangsungan Hidup, dan Tumbuh Kembang anak
f.    Prinsip Kerahasiaan
g.    Profesionalitas Penanganan.

2.    Indikator Keberhasilan
Masukan (input). Yang diukur dari kelengkapan masukan sesuai stadar pelayanan antara lain kelembagaan, SDM, keuangan, sarana dan prasarana yang disediakan, pola pelayanan yang diberikan dan lain lain:
a.    Proses (process)  yang diukur dari penerapan setiap tahap penanganan yang diberikan.
b.    Keluaran (output) diukur dari tingkat kepuasan penerima penanganan di lingkungan PSAA.
c.    Hasil (outcomes) diukur dari seberapa jauh penanganan yang disediakan oleh PSAA mampu menangani masalah keterlantaran pada anak.
d.    Manfaat (benfit) yang diukur dari kemampuan anak untuk memanfaatkan hasil penanganan yang disediakan oleh PSAA.
e.    Dampak (impact), yang diukur dari kemampuan anak dan keluarganya untuk mengatasi keterlantaran anak.
H.    Program dan Aktivitas Lembaga KKL
Sebagai tempat dalam pengasuhan terhadap anak, maka PSAA ini memiliki beberapa program-program pelayanan yang diantaranya adalah : Program Pelayanan di dalam Panti (Keluarga Alternative), Program Pelayanan dalam Keluarga (Keluarga Inti), dan Program Pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus (AMPK, KTK).
Untuk mengembangkan program-program tersebut, PSAA telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak seperti:  LSM, Departemen Agama, Puskesmas, Rumah Sakit, Sekolah negeri maupun swasta meliputi SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi yang ada di Yogyakarta. Dari berbagai pihak yang bekerjasama, salahsatunya bekerjasama dengan perguruan tinggi ialah dengan melakukan sebuah kegiatan yang menjadikan mahasiswa dapat berkecimpung dalam setiap program-program yang ada di Panti. Kegiatan-kegiatan tersebut seperti, Praktek Kerja Lapangan (PKL), Kuliah Kerja Lapangan (KKL), Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan kegiatan lainnya.
Proses saat penerimaan mahasiswa yang melakukan praktikum di PSAA, biasanya dari pihak lembaga akan memberikan beberapa program yang terkait yang harus dilakukan oleh setiap mahasiswa praktikan kepada setiap perguruan tinggi dengan konsentrasi dari jurusan yang sesuai dengan isu yang terkait di lembaga. Aktivitas yang dilakukan oleh para mahasiswa yang menjalankan proses praktek, tidak lain dan tidak bukan untuk anak-anak panti itu sendiri. Seperti halnya mahasiswa magister dari Universitas Gadjah Mada jurusan Psikologi, maka konsentrasi mereka adalah terhadap perkembangan psikologi anak-anak di panti, apakah ada gangguan atau tidak, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan mahasiswa sarjana dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial yang konsentrasinya kepada permasalahan yang sedang dihadapi anak, sehingga mahasiswa akan mudah membuat perencanan kedepannya setelah mengetahui permasalahan yang dialami oleh anak, untuk berusaha mencapai pada kesejahteraan hidup anak-anak.
I.    Pendanaan dan Jaringan
Sumber dana yang dimiliki oleh lembaga ini berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), karena lembaga ini merupakan lembaga sosial milik pemerintah. Selain itu, jaringan atau mitra kerja yang dimiliki oleh lembaga sangatlah penting untuk terus dilakukan, karena untuk mempermudah lembaga dalam proses pelayanan pada program-program di setiap tahunnya. Berikut adalah jaringan atau mitra kerja lembaga PSAA :
1.    Instansi Pemerintah dan Swasta terkait:
a.    Dinas Dikpora
b.    Puskesmas RSUD Sleman, RSUP Dr. Sardjito
c.    Bapeljamkessos DIY
d.    Kepolisian
e.    Koramil
2.    SD, SLTP, dan SLTA sekitar
3.    Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta
4.    Masyarakat dan Organisasi Sosial
J.    Karakteristik Komunitas Sasaran Program
Karakteristik masyarakat yang menjadi komunitas sasaran program merupakan masyarakat yang notabene mempunyai profesi dan bermata pencaharian sebagai petani dan penambang. Letak geografis disekitar lembaga mayoritas persawahan dan karena dekat dengan Gunung Merapi yang memiliki pasir yang begitu berlimpah, sehingga mayoritas masyarakat hanya menggantungkan pada mata pencaharian tersebut. Suhu udara yang lembab dan dingin pun sangatlah cocok bagi para petani untuk dapat bercocok tanam, mulai dari padi, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan. Potensi itulah yang dimanfaatka oleh warga sekitar untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.




Perpisahan Praktikan di BRTPD
 TENTANG LEMBAGA MITRA 
A.    Sejarah Lembaga
Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) terletak di Dusun Piring, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Menempati lahan seluas 4 hektar dan berada jauh dari perkotaan, membuat BRTPD menjadi sebuah tempat yang cocok untuk penyelenggaraan kesejahteraan sosial bagi penyandang disabilitas.
Sebelum berganti menjadi BRTPD, dulu lahan seluas 4 hektar ini hanyalah pabrik gula dan kemudian dialih fungsikan menjadi Pusat Rehabilitasi Terpadu Penyandang Cacat (PRTPC) yang diresmikan pada tanggal 27 Mei 2009. Tujuan didirikannya PRTPC adalah untuk membantu korban gempa bumi di Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 silam. Seiring dengan berjalannya waktu dan kemunculan beberapa aturan-aturan baru terkait disabilitas seperti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas) dan Peraturan Daerah (PERDA) DIY Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas, maka PRTPC digeser paradigmanya dari pelayanan dan rehabilitasi sosial dari bentuk kepedulian (charity), bergeser kepada upaya pemenuhan hak—hak dan kebutuhan penyandang disabilitas. Tepat pada tahun 2012, PRTPC resmi berganti nama menjadi BRTPD dan berada di bawah naungan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta hingga sekarang.

B.    Kondisi Geografis
Adapun batas wilayah Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) Yogyakarta adalah sebagai berikut:
1.    Sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Jetis
2.    Sebelah selatan berbatasan dengan pantai Parangtritis
3.    Sebelah barat berbatasan dengan Bambanglipuro
4.    Sebelah timur berbatasan dengan Imogiri.

C.    Sasaran Program Lembaga
Adapun sasaran program Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) dibagi menjadi 3, yaitu:
1.    Dasar Pelaksanaan
Adapun dasar pelaksanaan penyelenggaraan kesejahteraan sosial oleh Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) adalah:
a.    UU RI Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.
b.    UU RI Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas.
c.    PERDA D.I. Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tatakerja Dinas Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
d.    PERDA D.I. Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas.
e.    PERGUB D.I. Yogyakarta Nomor 40 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas PERGUB D.I. Yogykarta Nomor 36 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tatakerja Unit Pelaksana Teknis Dinas dan Unit Pelaksana Teknis Lembaga Teknis Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
f.    PERGUB D.I. Yogyakarta Nomor 53 Tahun 2010 tentang perubahan atas PERGUB D.I, Yogyakarta tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas dan Unit Pelaksanaan Teknis Pada Dinas Sosial.
2.    Tujuan
Adapun tujuan didirikannya Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) adalah membantu membangun kembali rasa percaya diri, harga diri, pengembangan potensi dan pemberdayaan penyandang disabilitas. Sehingga mampu melaksanakan fungsi sosialnya agar mandiri dalam  tatanan kehidupan keluarga dan masyarakat.


3.    Tugas dan Fungsi
a.    Tugas
Melaksanakan perlindungan pelayanan, rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial bagi penyandang disabilitas daksa, netra, grahita, rungu wicara, dan wreda disabilitasi
b.    Fungsi
Adapun fungsinya sebagai berikut:
1)    Penyusunan program balai.
2)    Penyusunan program operasional.
3)    Pengembangan mutu layanan rehabilitasi sosial dan medis.
4)    Identifikasi, seleksi dan penilaian (assesment).
5)    Penyelenggaraan perlindungan, pelayanan, rehabilitasi medis dan sosial.
6)    Penyelenggaraan rujukan bagi penyandang disabilitas sebelum, selama dan sesudah rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
7)    Pelaksanaan kemitraan dengan instansi/lembaga lainnya.
8)    Fasilitas pemberdayaan penyandang disabilitasi daksa, netra, grahita, rungu wicara dan kehidupan masyarakat.
9)    Palayanan konsultasi, penelitian dan pengembangan kesejahteraan sosial.
10)    Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan program balai.
11)    Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai tugas dan fungsinya.

D.    Visi dan Misi
1.    Visi
Pusat perlindungan, pelayanan, rehabilitasi medis dan sosial bagi penyandang disabilitas yang kreatif, inovatif dan profesional.
2.    Misi
Terdapat beberapa misi dari Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas, antara lain sebagai berikut:
a.    Penyelenggaraan perlindungan, pelayanan, rehabilitasi medis dan sosial, keterampilan bagi penyandang disabilitas netra, grahita, daksa, rungu wicara dan wreda disabilitas.
b.    Peningkatan profesionalitas Sumber Daya Manusia penyelenggaraan pelayanan.
c.    Pengembangan mutu, metode, model dan standar layanan rehablitasi.
d.    Memperluas rujukan baik pada tahap sebelum rehabilitasi, selama proses rehabilitasi maupun setelah rehabilitasi.
e.    Menjadi pusat penelitian dan pengembangan TKSP dan TKSM.

E.    Struktur Organisasi
1.    Kepala Balai
2.    Pekerja Sosial
Peranan/Tugas Pekerjaan Sosial
a.    Perantara (broker)
Ada tiga tugas utama bagi pekerja sosial dalam melakukan peranan sebagai broker: Pertama, mengidentifikasi dan melokalisir sumber-sumber kemasyarakatan yang tepat. Kedua, menghubungkan konsumen atau klien dengan sumber secara konsisten. Ketiga, mengevaluasi efektifitas sumber dalam kaitannya dengan kebutuhan-kebutuhan klien.
b.    Pendidik (educator)
Pekerja sosial sebagai pendidik harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan menyampaikan informasi dengan baik dan benar serta mudah diterima oleh individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat yang menjadi sasaran perubahan.

c.    Pembela (advokator)
Beberapa strategi dalam melakukan peran pembela adalah: keterbukaan (membiarkan berbagai pandangan untuk didengar), perwakilan luas (mewakili semua pelaku yang memiliki kepentingan dalam pembuatan keputusan), keadilan (kesetaraan atau kesamaan sehingga posisi-posisi yang berbeda dapat diketahui sebagai bahan perbandingan, pengurangan permusuhan (mengembangkan keputusan yang mampu mengurangi permusuhan dan keterasingan, informasi (menyajikan masing-masing pandangan secara bersama dengan dukungan dokumen dan analisis), pendukungan (mendukung patisipasi secara luas), kepekaan (mendorong para pembuat keputusan untuk benar-benar mendengar, mempertimbangkan dan peka terhadap minat-minat dan posisi-posisi orang lain).
d.    Fasilitator
Peran pekerja sosial sebagai fasilitator bertujuan untuk membantu klien agar menjadi mampu menangani tekanan situasional atau transisional. Menurut Barker (1987:49) terdapat berbagai strategi khusus yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, meliputi: pemberian harapan, pengurangan penolakan dan ambivalensi, pengakuan dan pengaturan perasaan-perasaan, pengidentifikasian dan pendorongan kekuatan-kekuatan personal dan aset-aset sosial, pemilahan masalah menjadi beberapa bagian sehingga lebih mudah dipecahkan, dan pemeliharaan sebuah fokus pada tujuan dan cara-cara pencapaiannya.
Pengertian ini didasari oleh visi pekerjaan sosial bahwa setiap perubahan terjadi pada dasarnya dikarenakan oleh adanya usaha-usaha klien sendiri dan peranan pekerja sosial adalah memfasilitasi atau memungkinkan klien mampu melakukan perubahan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama.
3.    Sub Bagian Tata Usaha
4.    Seksi Rehabilitasi Medik
5.    Seksi Bina Netra Dan Grahita
6.    Seksi Bina Daksa, Rungu Dan Wicara
7.    Kelompok Jabatan Fungsional

F.    Program dan Aktifitas Lembaga
1.    Proses Pelayanan
a.    Tahap pendekatan awal
1)    Orientasi dan konsultasi
Warga binaan sosial BRTPD sebelum masuk lembaga akan diberikan orientasi awal terkait lembaga dan memberikan konsultasi kepada calon warga binaan sosial.
2)    Identifikasi
Selanjutnya mengadakan identifikasi awal kepada warga binaan sosial tentang data-data diri mereka.
3)    Motivasi dan seleksi
Menjelaskan motivasi warga binaan sosial ingin masuk ke BRTPD dan juga akan melakukan seleksi nantinya, terkait umur dan sebagainya.
b.    Tahap penerimaan
1)    Registrasi
Warga binaan sosial akan melakukan registrasi atau mengisi data diri mereka secara lengkap, meliputi fotokopi KTP, fotokopi KK, dll.


2)    Assesment
Selanjutnya para asesor akan melakukan assesment kepada warga binaan sosial agar data diri warga binaan sosial diketahui secara utuh. Baik itu dari potensi diri dan masalah yang dihadapinya.
3)    Penempatan dalam program
Selanjutnya warga binaan sosial akan ditempatkan ke dalam program-program atau kelas keterampilan sesuai dengan minat dan bakat mereka.
c.    Tahap pembimbingan rehabilitasi
1)    Rehabilitasi medis
a)    Pelayanan klinik
Terdapat unit pelayanan klinik yang dapat diakses oleh seluruh warga binaan sosial. Bisa untuk mengecek kesehatan dan berobat-berobat ringan.
b)    Fisioterapi, hydroterapi
BRTPD juga memiliki pelayanan fisioterapi dan hydroterapi bagi seluruh warga binaan sosial. Pelayanan ini ditujukan untuk menterapi bagian tubuh klien yang lemah fungsinya menjadi lebih kuat kembali.
c)    Speechtherapy, ADL, OM.
Selain itu BRTPD juga ada pelayanan terapi
2)    Rehabilitasi sosial
a)    Pembinaan fisik
Untuk menunjang program-program yang diadakan, lembaga juga menyediakan pembinaan fisik bagi setiap warga binaan sosial. Baik berupa olahraga dan lain sebagainya.
b)    Bimbingan mental-sosial, spiritual dan psikologis
BRTPD juga menyediakan bimbingan mental-sosial, spiritual dan psikologis bagi semua warga binaan sosial. Itu ditujukan agar para penyandang disabilitas menjadi lebih percaya diri dan mandiri.
3)    Bimbingan keterampilan
a)    Massage (sport, sixte, shiatsu)
Terdapat keterampilan massage yang ditujukan untuk bagi warga binaan sosial yang menyandang disabilitas netra
b)    Desain grafis
Selanjutnya terdapat keterampilan desain grafis yang dapat diakses oleh disabilitas daksa.
c)    Komputer
Karena sekarang sudah jauh memasuki zaman globalisasi, BRTPD juga mengantisipasi keterbelakangan informasi yang bisa diakses oleh siapa saja, oleh karena itu BRTPD juga menyediakan keterampilan komputer.
d)    Elektronika
BRTPD juga mempunyai program keterampilan elektronika yang dapat diakses oleh disabilitas daksa.
e)    Kerajinan perak
Selain itu, BRTPD juga mempunyai program keterampilan kerajinan perak, karena bahan bakunya yang tidak sulit dicari dan pada waktu itu juga banyak peminatnya.
f)    Kerajinan kulit
BRTPD juga mempunyai program keterampilan kerajinan kulit yang dapat diakses oleh disabilitas daksa.
g)    Menjahit dan bordir
Keterampilan menjahit dan bordir merupakan keterampilan yang cukup diminati di BRTPD oleh warga binaan sosial. Dapat diakses oleh disabilitas daksa.
d.    Tahap resosialisasi
1)    Praktik Kerja Lapangan
Ini adalah tahap dimana para warga binaan sosial dilatih untuk melakukan praktik kerja lapangan. Mengaplikasikan keterampilan yang telah diperolehnya sewaktu di BRTPD. selain itu untuk melatih rasa kepercayaan diri mereka serta mengubah mindsei masyarakat bahwa penyandang disabilitas juga bisa mandiri.
2)    Bantuan sosial (UEP)
Terdapat juga bantuan sosial yang akan diberikan kepada warga binaan sosial agar mempunyai modal awal untuk bersosialisasi lagi di masyarakat, serta memfasilitasinya untuk menjadi mandiri.
e.    Tahap pembinaan lanjut
1)    Bimbingan peningkatan kehidupan bermasyarakat
Di BRTPD juga terdapat program bimbingan peningkatan kehidupan bermasyarakat bagi para warga binaan sosial. Dapat dijadikan salah satu upaya untuk membuat warga binaan sosial menjadi lebih optimis dalam menjalani hidup.
2)    Bimbingan peningkatan keterampilan
Selain itu, BRTPD juga mempunyai program bimbingan peningkatan keterampilan. Itu bisa diakses oleh warga binaan sosial melalui kelas-kelas keterampilan/pelajaran disetiap harinya.
3)    Bimbingan pengembangan/peningkatan usaha
Untuk menunjang kemandirian warga binaan sosial setelah lulus, BRTPD juga mempunyai program pengembangan / peningkatan usaha. Melalui kemampuan dalam mengelola usaha, diharapkan para lulusan dari BRTPD dapat mandiri sewaktu di masyarakat.
f.    Terminasi
Terminasi merupakan tahap terakhir dimana pada tahap ini pemutusan hubungan kegiatan pelayanan kepada para warga binaan sosial yang telah dinyatakan lulus.


2.    Proses Pelayanan Rehabilitasi




E. Pendanaan dan Jaringan


Pada awal balai ini diresmikan, sumber pendanaannya berasal dari APBN yang dikelola Pemerintah Pusat. Tetapi hanya sebatas dana awal untuk pengadaan sejumlah peralatan dan perlengkapan di balai. Setelah itu pengelolaan balai diserahkan kepada Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta karena lingkup balai hanya sebatas DIY dan sekitarnya. Jadi sekarang sumber pendanaan di BRTPD berasal dari APBD DIY. Untuk di bagian jaringan, BRTPD bermitra dengan pengusaha di daerah Bantul, lembaga-lembaga sosial di bawah naungan Dinas Sosial DIY dan Lembaga Swadaya Masyarakat/swasta.

KEGIATAN PPS DI BRTPD
(Dikutip dari Laporan Muhammad Makhribi)

A.    Analisis
Setidaknya terdapat 6 tahapan yang harus dilaksanakan pada Praktik Pekerjaan Sosial 1 kali ini, meliputi engagement, assesment, perencanaan, intervensi, evaluasi dan terminasi. Tahap pertama yang dilakukan ialah engagement (perkenalan, pendekatan dan kontrak awal). Praktikan melakukan engagement ke lembaga terlebih dahulu, mengetahui lembaga secara  umum, selanjutnya praktikan melakukan engagement kepada calon klien dan membuat kontrak yang nantinya akan dilaksanakan selama proses intervensi berlangsung.
Setelah itu, praktikan melakukan assesment terhadap klien. Data yang dicari adalah seputar data diri klien, permasalahan yang dihadapi, serta sumber eksternal lainnya yang juga terkait dengan permasalahan yang sedang dihadapi klien. Selanjutnya mengolah data yang telah diperoleh dan merumuskan suatu perencanaan intervensi. Setelah penyusunan rencana, intervensi dilakukan dengan target yang akan dicapai demi kebaikan bersama. Setelah itu proses dan hasil intervesi di evaluasi bersama klien, yang pada akhirnya akan dilakukan terminasi atau pemutusan kontrak karena hasilnya sudah tercapai dan waktunya telah selesai.
Permasalahan klien adalah tidak harmonisnya hubungan antara klien dengan orang tua. Intevensi yang dilakukan ialah memberikan konseling kepada klien dan motivasi untuk mengubah mindset serta membuat klien lebih bersemangat lagi. Setelah itu melaksanakan home visit yang didalamnya terdapat konseling dan pemberian edukasi kepada orang tua terkait pengetahuan pola pengasuhan anak. Selain itu membawa klien saat acara kelulusan warga binaan sosial dan di dudukan dengan orang-orang baru, agar lebih intensifnya sosialisai klien dengan lingkungan luas serta menambah teman baru.


B.    Pendekatan Teori
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna. Begitu pula dengan kebutuhan dan segala keinginannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa keinginan manusia tidak terbatas dan seringkali hanya sekedar menjadi harapan belaka. Tetapi ada hal-hal tertentu yang wajib dipenuhi oleh manusia, yaitu kebutuhan. Kebutuhan sendiri terbagi lagi menjadi 3 bagian, yaitu kebutuhan primer, kebutuhan sekunder dan kebutuhan tersier.
Abraham Maslow di dalam teori kebutuhannya memetakan kebutuhan manusia menjadi 5 bagian, sebagai berikut  :
1.    Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling mendasar dan sangat penting untuk bertahan hidup. Diantaranya adalah kebutuhan udara, air, makanan, tidur, dan lain-lain. Kebutuhan ini dinamakan juga kebutuhan dasar, jika tidak terpenuhi dalam keadaan yang sangat ekstrim maka manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri karena seluruh kapasitas manusia tersebut dikerahkan dan dipusatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya itu.
2.    Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Ketika kebutuhan fisiologis telah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan akan keamanan dan keselamatan. Diantaranya sebagai berikut:   aman dari kejahatan dan agresi, keselamatan kerja, keamanan sumber daya, keamanan fisiologis, keamanan keluarga, keamanan kesehatan, dan keamanan kekayaan pribadi dari kejahatan. Maka dari itu dibuatlah aturan untuk  mengarahkan perilaku agar tetap positif.
3.    Kebutuhan Akan Rasa Cinta
Manusia sebagai makhluk sosial tentu saja membutuhkan rasa memiliki dan dimiliki serta diterima, mereka juga membutuhkan rasa mencintai dan dicintai oleh yang lainnya. Kebutuhan itu bisa datang dari mana saja, seperti keluarga, teman sepermainan, dan lingkungan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi maka orang tersebut akan menjadi rentan merasa sendirian, gelisah, dan depresi. Kebutuhan akan rasa cinta paling erat kaitannya dengan keluarga, karena keluarga adalah agen pertama dalam membentuk kepribadian seseorang.
4.    Kebutuhan Penghargaan
Semua manusia pasti membutuhkan penghargaan, meliputi menghargai diri sendiri, dan juga menghargai orang lain. Orang perlu melibatkan diri untuk mendapatkan pengakuan dan mempunyai kegiatan atau kontribusi kepada orang lain serta menilai diri sendiri, baik di dalam pekerjaan ataupun hobi. Terdapat dua tingkatan kebutuhan penghargaan / penghormatan. Tingkatan yang lebih rendah terkait dengan unsur-unsur ketenaran, rasa hormat dan kemuliaan. Tingkatan yang lebih tinggi mengikat pada konsep kepercayaan diri, kompetensi, dan prestasi.
5.    Aktualisasi Diri
Aktualisasi diri adalah kebutuhan naluriah manusia untuk memanfaatkan kemampuan mereka yang unik dan berusaha menjadi yang terbaik. Ini adalah bagian kebutuhan yang paling puncak. Kebutuhan ini akan tercapai manakala kebutuhan-kebutuhan sebelumnya sudah tercapai.
Teori Maslow jika dikaitkan dengan kasus klien, maka akan mengacu pada kebutuhan nomor 3, yaitu kebutuhan akan rasa cinta. Karena hubungan antara klien dengan orang tua sedang tidak harmonis, hal itu berpengaruh pada tidak bersemangatnya klien mengikuti kegiatan kelas dan bimbingan di BRTPD. Kebutuhan akan rasa cinta sangatlah penting terlebih lagi dari keluarga, karena keluarga merupakan sistem terkecil yang saling berkaitan, saling memahami dan saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua, menjadikan klien lebih gelisah dan malas melakukan apa-apa.
Melalui pemberian intervensi yang tepat, dapat membuat klien lega dan bersemangat kembali dalam menjalankan fungsi sosialnya. Konseling dan pemberian motivasi menjadi langkah awal dalam intervensi kepada klien. Selanjutnya melakukan home visit dan bertemu dengan orang tua klien. Metode yang digunakan adalah konseling keluarga dan pemberian edukasi terkait pola pengasuhan anak. Menurut (Edwards, 2006), beliau menyatakan bahwa pola asuh merupakan interaksi anak dan orang tua, mendidik, membimbing, dan mendisplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Interaksi tersebut mencakup perawatan seperti mencukupi kebutuhan, mendorong keberhasilan, melindungi, dan mengajarkan tingkah laku umum yang diterima oleh masyarakat.
Pada interaksi antara anak dengan orang tua, seringkali ditemui perbedaan di dalamnya. Anak cenderung menggunakan cara-cara tertentu yang dianggap paling baik olehnya. Disinilah letak terjadinya beberapa perbedaan dalam pola asuh. Disatu sisi orang tua harus bisa menetukan pola asuh yang tepat dalam mempertimbangkan kebutuhan dan situasi anak, disisi lain sebagai orang tua juga mempunyai keinginan dan harapan untuk membentuk anak menjadi seseorang yang dicita-citakan yang tentunya lebih baik dari orang tuanya (Jas dan Rachmadiana, 2004).
Menurut (Edwards, 2006), terdapat tiga faktor yang memperngaruhi pola pengasuhan terhadap anak, yaitu :
1.    Pendidikan orang tua
Pendidikan dan pengalaman orang tua dalam perawatan anak akan mempengaruhi persiapan mereka menjalankan pengasuhan terhadap buah hati mereka. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang tokoh (Supartini, 2004), orang tua yang sudah mempunyai pengalaman sebelumnya dalam mengasuh anak akan lebih siap menjalankan peran asuh, selain itu orang tua akan lebih mampu mengamati tanda-tanda pertumbuhan dan perkembangan yang normal terhadap anaknya.
2.    Lingkungan
Lingkungan juga merupakan faktor yang banyak mempengaruhi perkembangan anak, maka tidak mustahil jika lingkungan juga ikut serta mewarnai pola-pola pengasuhan yang diberikan orang tua terhadap anaknya.
3.    Budaya
Sering kali orang tua mengikuti cara-cara yang dilakukan oleh masyarakat sekitar ataupun masyarakat terdahulu dalam mengasuh anak. Kebiasaan-kebiasaan seperti itu dipegang erat karena pola-pola pengasuhannya dianggap berhasil dalam mendidik anak kearah kematangan.
Maka dari itu, sangat perlu diberikannya eukasi kepada orang tua klien tentang pola pengasuhan anak agar tidak ada lagi perselisihan paham antara keinginan orang tua dan keinginan klien. Segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih bijak dan tentu saja demi kebaikan bersama. Setelah itu, intervensi dilanjutkan dengan memberi tugas kepada klien agar dapat lebih intensif dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, melalui wadah acara pelepasan kelulusan warga binaan sosial Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas. Tujuan dari keseluruhan intervensi tersebut agar terpenuhinya kebutuhan klien akan rasa cinta dari orang-orang terdekatnya, terutama orang tuanya. Karena pada dasarnya klien kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

C.    Hikmah
Hikmah yang dapat saya ambil dari pelaksanaan Praktik Pekerjaan Sosial ini adalah kepedulian merupakan kata kunci dari segala kunci kehidupan. Kepedulian untuk menolong sesama akan membuahkan hasil yang luar biasa jika di dalam proses kita menolong di dasari dengan rasa ikhlas dan tanggung jawab. Melalui pelaksanaan Praktik Pekerjaan Sosial ini, kita diajarkan untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT dan  selalu berfikir positif terhadap semua kemungkinan yang terjadi, karena setiap apapun yang diberikan Allah kepada kita ialah untuk mengukur derajat ketaqwaan kita sebagai hamba Allah.
Sebenci-bencinya anak kepada orang tua akan luluh dan sadar bahwa tidak sepantasnya anak memiliki perasaan seperti itu. Begitupun sebaliknya, sejahat apapun orang tua pasti memiliki rasa sayang dan cinta kepada anaknya. Anak hanya mengetahui hak-haknya dan selalu menuntut itu dari orang tua, anak sukar sekali memikirkan dari mana asalnya uang itu, seperit apa pekerjaan yang orang tua lakukan untuk mencukupi kebutuhannya, dan apakah anak pernah berterima kasih untuk itu semua. Hal itu perlu diluruskan dan dicarikan solusi terbaiknya agar keluarga tersebut dapat terus harmonis.
Kasus yang dihadapi oleh klien mengajarkan saya betapa pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak. Kadang ada orang tua yang mengeksklusifkan diri bagi anaknya yang membuat si anak menjadi takut untuk berbagi cerita dengan orang tua. Selain itu, butuhnya pendidikan pengasuhan anak terhadap orang tua, agar orang tua dapat dengan maksimal mengenal potensi diri anak dan cara mengasuhnya. Semua hal itu selalu berkesinambungan dan akan membentuk pola yang indah jika ada cinta di dalamnya.

D.    Rekomendasi
Rekomendasi yang dapat saya berikan untuk kedepannya adalah butuhnya ruang dialog bagi para praktikan dalam mendapatkan pemahaman dan arahan dari supervisior baik itu kampus ataupun lembaga dengan waktu dan tempat yang jelas. Memang di dalam perjalanan dan tujuan diadakannya Praktik Pekerjaan Sosial ini adalah agar mahasiswa dapat mengaplikasikan teori yang diperolehnya dari kampus ke lapangan, tetapi praktikan juga membutuhkan dampingan agar mereka tetap berjalan sesuai koridor. Tidak etis rasanya jika saling menyalahkan, hanya saja butuh introspeksi dari semua elemen yang berpengaruh terhadap pelaksanaan Praktik Pekerjaan Sosial ini.
Rekomendasi selanjutnya adalah memperbaiki sistem, administrasi dan kesiapan dari pelaksanaan Praktik Pekerjaan Sosial itu sendiri. Praktikan melihat masih banyak kekurangsiapan dari panitia dalam mempersiapkan dan menjalankan Praktik Pekerjaan Sosial ini. Yang mana kekurangsiapan tersebut berdampak pada proses yang dijalankan oleh praktikan dan kepercayaan lembaga tempat mahasiswa praktik. Akan muncul tanda tanya dari semua lembaga tentang kesiapan dari panitia pelaksana Praktik Pekerjaan Sosial ini.
Selain itu, butuhnya mata kuliah tambahan untuk membahas administrasi pekerja sosial. Karena mulai dari Praktik Pekerjaan Sosial, praktikan telah dihadapkan langsung dengan sistem administrasi yang cukup rumit dan penting untuk diketahui. Sedangkan untuk keseluruhannya, praktikan merasa bahwa dengan diadakannya Praktik Pekerjaan Sosial ini sangatlah berguna baik bagi mahasiswa itu sendiri, maupun bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan orang lain









A. TENTANG LSPPA

LSPPA (Lembaga Studi Pengembangan Perempuan dan Anak) berdiri pada tahun 1991. LSPPA adalah bagian dari Yayasan Prakarsa yang mengerjakan program penguatan perempuan dan anak. Kegiatan-kegiatan yang banyak dilakukan antara tahun 1991 – 1996 adalah melakukan diseminasi wacana permasalahan social akibat ketidak adilan gender melalui diskusi, seminar, penerbitan buku, dan kegiatan ekonomi kelompok perempuan miskin di pedesaan untuk peningkatan penghasilan perempuan dan keluarga.

Selama berinteraksi dengan sasaran di perkotaan, yang sebagian besar adalah kaum mahasiswa dan terpelajar kota lainnya, wacana yang dibangun LSPPA mengenai keadilan gender dalam kehidupan menghadapi reaksi pro dan kontra. Sikap kontra dari masyarakat pada kualitas tertentu sempat menimbulkan ancaman fisik dan emosional bagi staf dan relawan LSPPA. Hal ini membawa LSPPA untuk mencari alternatif strategi dan pendekatan yang lebih sesuai dengan kapasitas internal LSPPA. Di samping itu di perkotaan, terutama Yogyakarta, peran LSPPA dalam menyebarluaskan wacana keadilan gender mulai dilakukan juga oleh LSM-LSM yang lahir kemudian.

Sementara itu sasaran di pedesaan tenggelam dalam kesibukan kegiatan yang bersifat praktis ekonomis, yang sesungguhnya bagi LSPPA kegiatan tersebut hanyalah sebuah bungkus saja. Pesan esensial tentang pentingnya perempuan berdaya dalam ekonomi tidak terlalu dipedulikan oleh kelompok sasaran.Bagi mereka, kegiatan simpan-pinjam dapat membantu pemenuhan kebutuhan konsumsi rumah tangga secara jangka pendek.Gejala ini menggelisahkan LSPPA, meskipun respon masyarakat sangat positif terhadap program ini, karena LSPPA tidak mempunyai banyak waktu dan tenaga untuk menunggu mereka dapat memahami pesan esensial tersebut.

Di dalam LSPPA sendiri tengah terjadi ketertarikan yang besar untuk mengekplorasi isu pelemahan (de-empowering) terhadap anak perempuan, sebuah isu yang juga menjadi salah satu dari 12 area kritis dari Rencana Aksi Deklarasi Beijing tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Selain karena ketertarikan pada isu anak sejak lembaga ini didirikan, isu anak perempuan belum banyak diperhatikan oleh orang lain.

Pada tahun 1997 LSPPA kemudian mengadakan Strategic Planning untuk mengeksplorasi permasalahan anak perempuan. Hasil SP adalah mengubah focus LSPPA kepada permasalahan “sosialiasi nilai adil gender (SNAG) sejak dini”. Focus ini mempunyai tujuan akhir yaitu terwujudnya generasi baru, laki-laki dan perempuan, yang meyakini nilai keadilan gender sebagai dasar kehidupan mereka, sehingga kekerasan terutama terhadap perempuan benar-benar dapat dihilangkan.
Di Indonesia, dan di Yogyakarta pada khususnya, SNAG  sejak dini telah mulai disadari sebagai sebuah mata rantai penting dalam gerakan perempuan, namun belum banyak dilakukan oleh para aktivis. SNAG sejak dini sendiri adalah sebuah “belantara” baru yang memerlukan  eksplorasi dan pengembangan. Kenyataan ini justru memberikan dorongan yang kuat pada LSPPA untuk mengambil posisi sebagai perintis jalan menuju pengertian dan  penciptaan model  pelaksanaan SNAG sejak dini.

B.Sasaran Program lembaga / komunitas
a.Anak
b.Orang tua
c.Guru
d.Komunitas
e.Pemerintah

C. Visi dan Misi LSPPA

Visi :
Terciptanya masyarakat yang demokratis dan berkeadilan gender
Misi :
1.Mengadakan kajian dan penelitian dalam kerangka pengembangan wacana dan model pendidikan adil gender serta penghargaan terhadap keberagaman.
2.Mengembangkan wacana dan mensosialisasikan nilai gender serta penghargaan terhadap keberagaman sejak usia dini.
Mempengaruhi kebijakan dengan perspektif hak perempuan dan hak anak sebagai hak asasi manusia.

D. Program dan aktivitas LSPPA

LSPPA menjalankan program berdasarkan divisi-divisi, berikut diantaranya:
A.Divisi Litbang : Devisi litbang ini bertanggung jawab pada pengembangan konsep dan metodologi program Pendidikan Adil Gender dan Multikultur di Taman Kanak-kanak. Program yang dilakukan:
I.Perumusan konsep Pendidikan Adil Gender dan Multikultur di Taman Kanak-kanak
II.Pengembangan riset-aksi Pendidikan Adil Gender dan Multikultur di Taman Kanak-kanak
III.Diskusi kasus (case conference) temuan dari lapangan
IV.Perpustakaan

B.Devisi Pengembangan : Divisi ini bertanggung jawab pada pengembangan program aksi dengan pendekatan berbasis komunitas. Program yang dilakukan :
I.Bersama masyarakat mengembangkan program pengembangan diri remaja perempuan dari keluarga rentan melalui pendirian Rumah Belajar “Mentari” di Kampung Cokrodirjan Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta. Kegiatan di rumah belajar ini antara lain: perpustakaan komunitas,tutorial dan pelatihan ketrampilan bagi anak, pendidikan keorangtuaan, jaringan penguatan anak perempuan rentan.

II.Mendirikan Rumah Produksi “Mentari” untuk peningkatan taraf hidup anak jalanan perempuan,dengan kegiatan produksi kerajinan tangan
III.Mengembangkan program pengembangan model Pendidikan Adil Gender dan Multikutur di Taman Kanak-kanak di Kecamatan Kasihan dan Bambanglipura Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

C.Divisi Kampanye & advokasi : Divisi ini bertanggung jawab pada kampanye nilai adil gender pada masyarkat luas & melakukan advokasi terhadap kebijakan pemerintah.
Program yang dilakukan :
I.Sosialisasi nilai adil gender lewat radio,ceramah,training, media cetak (rubrik), mailing list, pembuatan film & buku
II.Advokasi. Bersama masyarakat Mengkritis kebijakan yang berkaitan dengan perempuan & anak. Dan kemudian memunculkan referensi baru atau opini masyarakat tentang kebijakan tsb

D.Layanan Selain program yang dilakukan devisi-devisi tersebut, LSPPA juga memberikan layanan-layanan :
I.TRAINING (Pendidikan Kritis : Gender, KHA, dll)
II.Narasumber untuk : diskusi & ceramah
III.Pemutaran film untuk anak
IV.Perpustakaan

LSPPA memiliki 3 lembaga dibawahanya, yaitu:
  • Playgroup & Day Care Warna-warni | Memberikan pelayanan pendidikan pada anak usia dini dalam bentuk playgroup dan penitipan anak. Dimana kurikulumnya menerapkan kurikulum inklusif yang mengedepankan keragaman dan kesetaraan gender.
  • Lembaga Pendidik & Pengasuh Anak Usia Dini (LPPAUD) Warna Warni | Memberikan pelayanan pendidikan bagi calon pengasuh anak usia dini. Di dalam kurikulumnya yang terdiri dari 10 modul, LPPAUD lebih menekankan praktek daripada teori, dengan harapan calon pengasuh anak akan lebih banyak mendapatkan kesempatan berinterkasi langsung dengan anak untuk menambah pengetahuannya.
  • ECCD – RC ( Early Childhood Center And Development – Resources Center) | ECCD – RC merupakan pusat informasi untuk anak usia dini. Selain itu di ECCD – RC juga memberikan pelayanan lab school , area bermain untuk anak, perpustakaan (mainan & buku) dan training untuk Guru TK & Playgroup. Pelayanan yang diberikan ECCD – RC diprioritaskan bagi kelompok marginal.

E.Pendanaan Dan Jaringan
a.Dana dari Pemerintah Pusat contohnya yaitu dari Kementrian Departemen Pendidikan Nasional dan dari Pemerintah Daerah contohnya yaitu dari Pemerintah Kota DIY.
b.Dana mandiri, yaitu dana yang diperoleh LSPPA bersumber dari aktifitas kelembagaan seperti saat menjadi narasumber yang mengisi dalam suatu sosialisasi dan saat menjadi trainer. Selain itu LSPPA mendapatkan dana dari penjualan hasil karya masyarakat dampingan (perempuan dan anak) mereka seperti menjual buku dan mainan.

B. PRAKTIKUM IKS DI LSPPA

Didalam menjalankan Praktek pekerja sosial , mahasiswa Ilmu kesejahteraan sosial yang menjadi Praktikan di lembaga melewati berbagai kegiatan yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan dari praktek ini. Kegiatan tersebut di mulai dari pembekalan di kampus sampai dengan pembekalan yang diberikan dilembaga. Dari kegiatan-kegiatan tersebut berikut urutan kegiatannya:
  1. Pembekalan Praktikum selama setengah semester atau selama 3 bulan oleh Dosen matakuliah PPS I. Dalam pembekalan yang ada di kelas, kami diberikan ancang-ancang seta gambaran kegiatan yang akan dilakukan di lembaga.
  2. Setelah itu mahasiswa diminta menentukan 3 lembaga yang sesuai dengan minat masing-masing mahasiswa, dengan catatan urutan pertama adalah lembaga yang memang benar-benar diminati.
  3. Setelah itu penentuan tempat PPS. Dosen Matakuliah PPS mengharuskan sebelum kita praktek ke lembaga kita harus memasukkan surat ijin untuk praktek ke lembaga. Sebagai syarat untuk melakukan Praktek.
  4. Setelah surat ijin masuk ke Lembaga , kita langsung terjun ke lembaga dan membaur dengan staf yang ada di Lembaga serta penentuan tempat praktek sesuai dengan konsentrasi minat.
Ketika sudah terjun ke lembaga, mahasiswa praktikan harus benar-benar serius dalam menjalankan profesinya dan belajar menjadi pekerja sosial profesional. Hal selanjutnya yang dilakukan oleh mahasiswa Praktikan adalah koordinasi sekaligus konsultasi dengan pihak lembaga, untuk menentukan isu yang di minati. Dalam hal ini LSPPA mempunyai dua konsentrasi, yaitu pelayanan dan penanganan kasus, yaitu Perempuan dan Anak. Fokus yang saya pilih adalah isu mengenai anak. Cabang LSPPA yang membantu menangani permasalahan anak adalah Taman Kanak-kanak Warna-warni yang beralamatkan di Jln. Amarta No.362 Puluhdadi, Seturan, Depok, Sleman 55281. TK Warna-warni mempunyai kurikulum pendidikan yang sangat jelas.

Kegiatan selanjutnya dilakukan oleh mahasiswa adalah observasi TK Warna-Warni. "Setibanya di TK Warna-warni disana kami sudah merasakan nuansa kedamaian dan kesejukan serta kenyamanan sesuai dengan apa yang dibutuhkan anak-anak. Di TK Warna-warni kami disambut dengan petugas yang ada disana, ada 4 pendamping yang mengurus dan memberikan pelayanan kepada anak-anak. Setelah menunggu beberapa menit kemudian akhirnya kami bertemu dengan Kepala sekolah Warna-warni yaitu Ibu Jundayah. Disana kami menjelaskan maksud kedatangan serta meminta ijin untuk melakukan praktikum serta meminta bantuan agar tetap memonitoring kami selama praktek disana," kisah Indri.







Dari kuota 30 mahasiswa yang disediakan lewat jalur SNMTPN, setelah melalui proses verifikasi berkas, 24 nama dinyatakan lulus sebagai mahasiswa Prodi IKS UIN Sunan Kalijaga

Daftar Nama dan Golonga UKT
Hal penting yang harus diperhatikan oleh para calon mahasiswa baru adalah:
  1. Semua biaya yang telah dibayarkan tidak dapat ditarik kembali; 
  2. Apabila tidak melakukan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) s.d. tanggal 17 Juni 2016 dan tidak mengisi Data Pribadi Mahasiswa (DPM) s.d. tanggal 20 Juni 2016, serta tidak menyerahkan persyaratan akhir registrasi s.d. tanggal 21 Juni 2016, maka calon mahasiswa yang bersangkutan DINYATAKAN MENGUNDURKAN DIRI. 
  3. Tidak ada dispensasi dalam bentuk apa pun.