WHAT'S NEW?
Loading...


Kepada mahasiswa IKS yang kami sayangi,

Seperti kami sampaikan sebelumnya, terkait hiruk pikuk SIA, sikap final Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial adalah menyediakan fasilitas KRSdarurat untuk Anda yang gagal input via SIA. (Cek berita sebelumnya: http://iks.uin-suka.ac.id/2016/02/sikap-prodi-iks-terkait-perpanjangan.html)

Terkait layanan tersebut, Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial akan mengirimkan data yang telah masuk besok pagi pukul 08.00 kepada pihak yang 'berkewajiban'.

Oleh sebab itu, mohon kerjasama Anda untuk:
  • Pertama, memeriksa daftar yang telah masuk ke sistem KRSdarurat berikut ini.
  • Kedua, bila ada yang perlu diupdate, direvisi, atau ditambah silakan isi ulang KRSdarurat. Data yang masuk lebih akhir akan kami nggap sebagai data yang sahih. Alamat formnya masih di bit.ly/KRSdarurat
  • Bagi yang ingin membatalkan karena sudah berhasil input via SIA, tolong input ulang dengan mengisi "Batal" pada isian "mata kuliah dan kelas yang diharapkan"
  • Update data akan kami tunggu hingga besok pagi pukul 07:00
Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial TIDAK akan melayani pendaftaran secara offline.

Terimakasih perhatiannya.

Kaprodi IKS
Arif Maftuhin, M.Ag, MAIS


Rekap Data KRSdarurat


Foto bersama Sebelum Berpisah
Oleh Teguh MU

Jumat (5/2/2016). Acara closing ceremony student workshop: ”Exploring Cross-cultural Social Work”, di hall pascasarjana UIN Sunan Kalijaga berubah menjadi forum diskusi dadakan. Sebanyak 30an peserta baik dari UIN maupun dari Sydney, saling bertukar pendapat mengenai penanganan permasalahan social. Pemicunya adalah presentasi penutup yang disampaikan oleh Mrs. Margareth.
Dalam presentasinya, Margareth memaparkan kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Australia terhadap para imigran gelap. Alasan ekonomi dan politik, menjadi alas an kuat yang mempengaruhi campur tangan pemerintah dalam mengintervensi para imigran. Di Australia, tidak semua warganya menerima keberadaan para pendatang ini. Sebagian orang menganggap para pengungsi (terutama yang berasal dari Negara konflik) dapat menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah Australia adalah dengan mengirimkan para imigran tersebut ke pulau-pulau kecil disekitar wilayah perairan Australia.

Di pulau-pulau seperti Nauru dan Christmas Island, yang notabene merupakan Negara dunia ketiga. Tentu masih sangat kekurangan dalam hal sumber daya, baik alam maupun manusia. Menempatkan imigran di kedua pulau tersebut dianggap sebagai langkah ‘pembuangan’ secara halus. Center-center imigran yang tersedia pun dinilai masih kurang memadahi.

Menurut data dari asosiasi pekerja social Australia, ada sekitar 370 pengungsi yang berada di Nauru rawan terhadap tindak kekerasan. Pemerintah Australia seakan cuek dengan apa yang terjadi di Nauru dan center-center yang lain. Besarnya anggaran untuk memfasilitasi mereka menjadi salah satu factor lemahnya perhatian pemerintah terhadap para imigran. Pun dengan mengembalikan mereka ke Negara asal, juga butuh biaya yang besar.

Secara garis besar, Margareth menyimpulkan bahwa, sebagai seorang peksos, peksos jangan hanya terpaku pada tindakan pertolongan level mikro. Peksos juga harus berfikir tentang level makro. Kebijakan yang merugikan klien, merupakan bagian dari sesuatu yang harus diperjuangkan. Oleh karena itulah, sangat pentingt bagi seorang peksos, untuk mampu menganalisis suatu kebijakan, apakah kebijakan tersebut pro rakyat kecil ataukah justru menindas rakyat kecil.

Presentasi dari Margareth tersebut, mendapat respon dari salah satu peserta workshop. Nadjib, mahasiswa IIS UIN, berpendapat bahwa langkah yang dilakukan pemerintahan Australia dengan ‘menggantungkan’ nasib para imigran ini sebagai tindakan yang kurang etis. Nadjib juga mengungkapkan bahwa, baik Indonesia maupun Australia, sebenarnya memiliki kesamaan dalam penanganan imigran. Yakni sama-sama melihat dari aspek ekonomi dan politik, dengan mengesampingkan nilai kemanusiaaan.

Suasana diskusi semakin hidup setelah para peserta saling berbagi pengalaman saat praktik pekerjaan social di negaranya masing-masing. Dari diskusi ini, peserta saling memberi tips dan saran terkait kasus yang dihadapi selama di lapangan. Seperti kasus yang didampingi oleh Ekmil, mahasiswa semester 6 IKS ini mendampingi klien pengguna narkoba. Klien sudah merasa sangat nyaman dengan Ekmil, sehingga klien tidak mau didampingi oleh peksos lain. Menanggapi kasus tersebut, Katie menyarankan kepada Ekmil, agar ketika hendak melakukan intervensi, klien harus diberi pemahaman tentang tugas atau fungsi peksos dalam kasusnya. Peksos juga harus memiliki batasan-batasan tertentu agar kejadian semacam ini tidak terjadi.
Jumat (5/2/2016). Kesempatan beasiswa 2016 sudah mulai dibuka. Dua kesempatan pertama datang dari BNI dan Laznas Bank Syariah Mandiri. Silakan cek informasinya di bawah dan hubungi Pak Darmawan untuk mendapatkan bantuan penyediaan surat keterangan dan formulir yang diperlukan.


Untuk informasi selengkapnya unduh file PDF di link ini.


Selengkapnya unduh di link ini.




Exploring Cross-cultural Social Work- 
A Student Workshop by University of Sydney and UIN Kalijaga  
by Nur Kholidah

Yogyakarta (5/2/2016). The profession of social work developed with its unique emphasis on directly helping people as well as improving their environment. Social work deals not only with internal aspect of human condition but also with its external aspects. Social workers are able to help clients to receive needed medical, financial, groceries, educational services that improve their lives. Because social workers act as advocates by helping their clients to access the services from the government, their goals is  to help people become self-sufficient by only doing for people what they may be unable to do for themselves. Its look like our goal as students of social welfare (IKS) at UIN Kalijaga is helping people to help themselves.
            Social workers have to understand social problems in society. The problem in society is very complex. For example: poverty, social stratification, economic issues, public health, abortion, environmental racism, education and public schools, immigrant, work and occupations, ect.  According many social problem in society, students of social welfare already trained to finishing a social problem. So, this workshop be importantly for social work students discussing about social issue in Australia and Indonesia. The first, we have been talking about illegal immigrant in Australia which have a complex of social problem by Mrs. Margaret.
            The Australian government has a controversial policy in dealing with the refugees. The country is not reluctant to stop refugees' boat and make them return or restrain them in Nauru Island. The refugees' life is very heartbreaking, because they stay only on tent in warming area and all of them are locked up with a grating. Nauru island didn’t has a hospital, school, places of worship, a shop for their needed. So one day, there is a pregnant women need a doctor or hospital. Then, this women taken to city in Australia to get medicine by social worker. And this problem made social workers try to make negotiation with Australian government policy to let illegal immigrants have a good life without a grating and they can take a service public in Australia cities, but it have not realizable yet. Although Australian government has given the budgets $1.2 billion to take care of illegal immigrants, but its not good influentially with illegal immigrants. Luckily, church in Australia make career to assist illegal immigrants and protect them. So the government can’t touch them, when an illegal immigrant stay in church, it make some social workers make a cooperation with the church to helping an illegal immigrant to get a good life “hidup layak” .
        In Indonesia, as we know the social problem is complex too, there are poverty and unemployment that has an impact to society. Any job openings really little, it make crimes anywhere. But for solving that problem, government has provided health assurance “JAMKESMAS”, welfare rices, social assist, some scholarship for poverty, etc. It’s just not maximum to help society. If the social services still not maximum, we have to learn about policy which organize about social problem. The same problem with Australia about controversial policy, so social workers should to knowing, learning, criticized about that policy. And then, social workers can change the social condition as a whole.
            Listening to discussion in this workshop, we as social workers need to remember that we need to see social problems more widely. Social workers do not work only in social area, but in the larger area. Social workers need to utilize skills and experience in management, education, research, policy development, politics and economic, to help our clients better.