Opini
Menelaah Paradigma Prof Amin Abdullah Tentang Core Values UIN Sunan Kalijaga: Integrasi-Interkoneksi
Moh Fawais
Paradigma Integrasi-Interkoneksi lahir seiringan dengan berubahnya status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ke Universitas Islam Negeri (UIN) berdasarkan keputusan Presiden No. 50 Tahun 2024. Paradigma tersebut lahir agar menjawab permasalahan terjadinya dikotomi kedua ilmu (ilmu dan agama) dalam peradaban Islam. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) dikotomi adalah pembagian atas kedua kelompok yang saling bertentangan, hal memisahkan tersebut membuat keruntuhan.
Dalam jurnal yang ditulis oleh Dewi Masyitoh dkk bahwa Pemikiran yang bersifat dikotomis antara agama dan sains (ilmu) dialami oleh masyarakat modern dimana pandangan mereka menganggap bahwa sains dan agama merupakan hal yang terpisah yang tidak ada kaitannya bahkan tidak mempertimbangkan dari berbagai aspek. Padahal pandangan yang seperti itu sangat berpengaruh terhadap dunia pendidikan, sosial, budaya dan ekonomi. Seandainya kita mencoba menyatukan itu diangggap mengurangi objektivitas dan sakralitas agama.
Pada abad pertengahan ajaran dikotomi itu lebih berpatokan kepada taklid dan membatasi kajian-kajian agama diantaranya tauhid, tafsir, fiqih dan seterusnya. Dikarenakan pada masa itu umat Islam belum begitu peduli akan ilmu umum atau ilmu pengetahuan. Ulama fiqih dan ulama tarekat yang menjadi tokohnya.
Integrasi-interkoneksi yang digagas oleh Prof Amin Abdullah dilatar belakangi karena dikotomi ilmu. Maka dari itu untuk membenahi dan meluruskan persoalan tersebut perlunya adanya kritikan kontrukstif . Perspektif Prof Amin ini di pengaruhi oleh Muhmmad ‘Abid al-jabiri yang biasa disebut al-jabiri, beliau merupakan cendikiawan muslim kreatif yang sering mengkritisi untuk menyadarkan umat.
Ada trilogo epistemologi yang perlu kita ketahui untuk menyelesaikan persoalan dikotom. Yang pertama, epistemologi bayani dimana pemikiran yang mengacu kepada teks Nash Al-qur’an dan hadist. Yang kedua, epistemologi irfani yaitu pemikiran yang mengacu terhadap proses nalar dan pengalaman (ilham dan kasyf). Yang terakhir, epistemologi burhani yaitu pemikiran yang mengacu kepada rasio dimana akal menjadi dalil-dalil logika.
Kalau dikaji dalam segi bahasa bisa diartikan integrasi itu “menghubungkan dan sekaligus menyatukan antara dua hal atau lebih” sedangkan interkoneksi “mempertemukan atau menghubungkan dua hal atau lebih” kemudian muncullah sebuah kajian dimana kemudian UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bisa menghubungkan, mengaitkan bahkan kalau bisa menyatukan kedua ilmu yaitu ilmu umum dan ilmu agama melalui dialek segitiga diantaranya hadarah al-nas yang artinya tradisi teks, hadarah al-‘ilm yang artinya tradisi akademik-ilmiah dan yang terakhir hadarah al-falsafah (tradisi etik-kritis).
Core values UIN Sunan Kalijaga ini masih dipakai sampai sekarang bahkan Rektor Prof Makin sering mengemukakan kepada para mahasiswa agar menjadi mahasiswa yang bisa melihat sesuatu persoalan bukan dari satu sisi atau kaca mata saja. Tetapi, melihat dari segala aspek yang kemudian menghubungkan bahkan diharapkan bisa menyatukan.