Belajar Melihat Dunia dari Perspektif yang Berbeda: Refleksi Perjalanan dalam Forum Model United Nations di Negeri Jiran

Belajar Melihat Dunia dari Perspektif yang Berbeda: Refleksi Perjalanan dalam Forum Model United Nations di Negeri Jiran

Oleh: Nabil Rifqi Nidhomi
Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Di tengah perkembangan dunia yang semakin terhubung, kemampuan memahami perspektif yang berbeda menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki generasi muda. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali memandang berbagai persoalan hanya dari sudut pandang yang dekat dengan pengalaman dan identitas kita sendiri. Pengalaman mengikuti International Youth Exchange (IYE) di Singapura dan Malaysia pada Agustus 2025 memberikan pelajaran berharga bahwa memahami dunia tidak cukup hanya dengan melihatnya dari posisi kita sendiri.

Salah satu agenda utama dalam program tersebut adalah Model United Nations (MUN), sebuah simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang untuk mendiskusikan isu global. Dalam forum tersebut, saya mendapat kesempatan menjadi delegasi yang mewakili Myanmar dalam pembahasan mengenai migrasi internasional di kawasan ASEAN.

Sekilas, tugas tersebut terdengar sederhana. Namun, kenyataannya tidak demikian. Sebagai warga negara Indonesia, saya terbiasa melihat berbagai isu berdasarkan pengalaman sosial dan politik yang saya kenal. Ketika harus mewakili Myanmar, saya tidak lagi dapat berbicara berdasarkan pendapat pribadi. Saya dituntut untuk memahami terlebih dahulu kondisi domestik negara tersebut, termasuk dinamika politik, tantangan sosial, serta kepentingan nasional yang memengaruhi sikapnya terhadap isu migrasi.

Tantangan ini menjadi semakin kompleks mengingat Myanmar sedang menghadapi gejolak politik yang cukup serius dalam beberapa tahun terakhir. Situasi tersebut tidak hanya berdampak pada stabilitas dalam negeri, tetapi juga berpengaruh terhadap pola migrasi masyarakatnya dan hubungan negara tersebut dengan negara-negara ASEAN lainnya. Untuk dapat menyampaikan argumen secara tepat, saya harus mempelajari berbagai informasi terkait kondisi aktual Myanmar dan memahami bagaimana negara tersebut kemungkinan akan memandang isu migrasi dalam forum regional.

Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa persoalan internasional jarang dapat dipahami secara hitam-putih. Dalam diskusi mengenai migrasi, misalnya, setiap negara memiliki kepentingan, tantangan, dan prioritas yang berbeda. Negara tujuan migrasi mungkin lebih menekankan aspek keamanan dan kapasitas ekonomi, sementara negara asal migran lebih fokus pada perlindungan warga negaranya. Di sisi lain, negara transit memiliki tantangan tersendiri yang tidak selalu terlihat dalam pemberitaan umum.

Forum MUN memperlihatkan bagaimana perbedaan perspektif tersebut muncul dalam ruang diskusi yang sama. Para peserta tidak sekadar menyampaikan opini pribadi, melainkan berusaha memahami dan merepresentasikan posisi negara yang mereka wakili. Dalam proses tersebut, saya menyadari bahwa diplomasi pada dasarnya bukan tentang mencari siapa yang paling benar, melainkan tentang menemukan titik temu di antara berbagai kepentingan yang berbeda.

Bagi saya, pengalaman ini juga memberikan pelajaran penting mengenai empati dalam konteks global. Selama ini, empati sering dipahami sebagai kemampuan memahami perasaan orang lain. Namun, dalam forum internasional seperti MUN, empati memiliki makna yang lebih luas, yaitu kemampuan memahami cara berpikir pihak lain yang memiliki latar belakang politik, sosial, dan budaya yang berbeda. Kemampuan inilah yang memungkinkan dialog tetap berlangsung meskipun terdapat banyak perbedaan pandangan.

Menariknya, proses yang paling berkesan bukan terjadi ketika debat berlangsung, melainkan saat mempersiapkan posisi negara yang saya wakili. Saya belajar bahwa untuk memahami suatu negara, kita perlu melihat berbagai faktor yang membentuk kebijakannya. Pendekatan ini membuat saya menyadari bahwa banyak persoalan global tidak dapat diselesaikan hanya dengan penilaian normatif, tetapi memerlukan pemahaman yang lebih mendalam terhadap konteks yang melatarbelakanginya.

Pengalaman tersebut menjadi semakin bermakna ketika saya memperoleh penghargaan Best Position Paper dalam forum MUN tersebut. Bagi saya, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan atas kemampuan menyusun argumen, tetapi juga menjadi bukti bahwa proses memahami perspektif yang berbeda merupakan bagian penting dalam membangun diskusi yang konstruktif. Selain itu, penghargaan tersebut menjadi simbol dari perjalanan belajar untuk keluar dari cara pandang yang sempit dan mencoba melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas.

Sebagai mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial, pengalaman ini memiliki relevansi yang kuat dengan bidang yang saya pelajari. Kesejahteraan sosial pada dasarnya menuntut kemampuan memahami berbagai kelompok masyarakat yang memiliki kondisi dan kebutuhan berbeda. Kemampuan mendengarkan, memahami konteks, serta melihat persoalan dari perspektif pihak lain merupakan fondasi penting dalam praktik sosial maupun dalam kehidupan bermasyarakat secara umum.

Dalam akselerasi global, generasi muda hari ini sepatutnya tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan akademik pada tingkat lokal saja, tetapi juga kemampuan berpikir lintas perspektif secara global. Dunia yang semakin kompleks membutuhkan individu yang mampu memahami perbedaan tanpa harus kehilangan identitasnya sendiri. Pengalaman menjadi delegasi Myanmar dalam forum MUN mengajarkan bahwa memahami perspektif orang lain bukan berarti meninggalkan keyakinan pribadi, melainkan memperkaya cara kita melihat berbagai persoalan yang ada di sekitar kita.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar yang saya peroleh dari forum tersebut bukanlah tentang diplomasi internasional semata. Lebih dari itu, saya belajar bahwa dunia akan selalu dipenuhi oleh berbagai sudut pandang yang berbeda. Tantangan sesungguhnya bukan memilih siapa yang paling benar, melainkan bagaimana membangun pemahaman di tengah keberagaman perspektif tersebut. Dan mungkin, dari situlah dialog yang bermakna dapat dimulai.