TALK SHOW PRODI IKS RAYAKAN WSWD 2024

Bertempat di lobby lantai 1 FDK, pada hari Selasa 19 Maret 2024, Prodi IKS menggandeng IPSPI Jogja, LP3S, HMPS-IKS dan AKSES menyelenggarakan peringatan Hari Pekerjaan Sosial Sedunia (World Social Work Day) yang jatuh pada tanggal 19 Maret. Kegiatan berupa Talk Show dengan tema ‘Social Work for Sustainable Development: Promoting Equity, Empowerment, and Environmental Justice” sekaligus dilanjut dengan buka bersama para dosen, mahasiswa, dan alumni, serta stakeholder terkait.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Dekan Fakultas Dakwah & Komunikasi. Dalam sambutannya, Prof Marhumah mengapresiasi terselenggaranya acara ini dan mengucapkan terimakasih kepada Prodi IKS yang memperingati hari besar dan penting ini.Talk Show peringatan WSWD 2024 yang dimulai pukul 15.30 WIB ini menghadirkan narasumber Johanes Jenito, aktivis lingkungan dari Kaoem Telapak, dan 3 alumni Prodi IKS, Dede Dwi Kurniasih, M.Si. (Angkatan 2011), M. Ahsanuddin Firdaus, S.Sos. (Angkatan 2013), dan Dhea Mursyidan, S.Sos. (Angkatan 2018). Adapun yang bertindak selaku moderator yaitu Dr. Asep Jahidin, M.Si. dosen Prodi IKS.

Sesi pemaparan materi dimulai oleh Johanes yang merupakan aktivis gereja dan bergerak di pendampingan masyarakat adat di Kalimantan Tengah sejak 2010, selepas menyelesaikan short course di Filipina. Dalam kesempatan itu Johanes menyinggung tentang bagaimana political will menjadi tantangan berat dalam advokasi. Misalnya, terkait pembangunan IKN yang meminggirkan masyarakat adat yang tidak dilibatkan, sudah berulangkali pihaknya memberi masukan, saran, input tentang pembangunan IKN, tapi semuanya bertabrakan dengan political will, tiba-tiba sudah jadi UU dan IKN dibangun. Ia juga menceritakan bagaimana Kaoem Telapak sudah 2 dekade ini melakukan advokasi pengesahan UU Perlindungan Komunitas Adat.

Kemudian dilanjutkan oleh Firdaus yang merupakan Pekerja Sosial Ahli Pertama Dinsos Jawa Timur dengan penugasan menangani penyandang eks-kusta di daerah Tuban. Diceritakan bagaimana stigma kusta menjadi pemicu marjinalisasi para eks-kusta dan membuat pihak Dinsos menyediakan layanan bagi mereka di Kampung Singgahan Tuban. Berikutnya, Dede bercerita pengalamannya dalam advokasi isu kesehatan reproduksi perempuan di daerah pedalaman. Ia menyebutkan pentingnya pekerja sosial menjadi perekat lintas stakeholder terlebih sekarang ada konsep pentahelix yang menekankan pada kolaborasi lintas sektor. Dhea selaku pendamping ekonomi Yayasan Baitul Mal (YBM) BRIlian Yogyakarta menjelaskan programnya berupa pengelolaan dana Lazis dari BRI, programnya mencakup pemberian beasiswa BRU Scholarship, pemberdayaan ekonomi, respon terhadap isu kekeringan, pemberian modal dan alat, pendampingan UMKM, penanganan family stunting, termasuk juga penguatan keislaman bagi mustahik. Cakupan layanan YBM sendiri dari Karanganyar sampai Cilacap. Acara berakhir pukul 17.45 WIB, ditutup dengan doa oleh Dr. Latiful Khuluk dan dilanjutkan dengan acara buka bersama sekaligus ramah tamah.