Workshop Model Pembelajaran Berbasis OBE

Outcome Based Education (OBE) atau pendidikan berbasis hasil/capaian lulusan menjadi persyaratan atau kriteria dalam akreditasi baik oleh Nasional, regional maupun internasional. BAN PT menuntut dipenuhinya instrument sembilan standar yang menuntut kesesuaian capaian pembelajaran dengan profil lulusan dan pemenuhan capaian pembelajaran lulusan dalam pekerjaan lulusan. Hal serupa juga berlaku untuk akreditasi internasional. Dalam rangka mempersiapkan akreditasi unggul dan internasional, Prodi IKS menyelenggarakan workshop model pembelajaran berbasis OBE pada Selasa, 31 Agustus dan 1 September 2021. Workshop ini bukan hanya membahas OBE secara umum dalam kurikulum, namun hingga penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis OBE.

Workshop ini mengundang 3 narasumber, yaitu Dr. Ety Rahayu, M.Si dari Prodi Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia, Prof. Dr. Edi Istiono, M.Si dari Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta, dan Dr. M. Fakhri Husen, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu UIN Sunan Kalijaga. Dalam paparannya, Dr. Ety Rahayu berbagi pengetahuan tentang penerapan sistem OBE dalam Kurikulum Merdeka Belajar di Prodi Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia. Menurutnya, Kesos-UI harus melakukan penyesuaian berupa pemindahan mata kuliah wajib Prodi menjadi mata kuliah pilihan yang bisa ditempuh oleh mahasiswa dalam delapan model merdeka belajar, dengan tetap mempertimbangkan kurikulum inti Asosiasi Pendidikan (ASPEKSI), kurikulum global, dan masukan dari alumni dan pengguna. Pengalaman menantang dari UI yang membolehkan Merdeka Belajar bagi angkatan sebelum tahun 2020 adalah banyaknya minat mahasiswa untuk melakukan magang dan kuliah di Prodi lain, namun hal tersebut membuat Prodi “kewalahan” dalam mengatur karena mahasiswa kurang berkoordinasi dengan pembimbing Akademik dan Prodi sebelumnya. Karena dalam MBKM, mitra lebih banyak berperan dalam menyusun kegiatan belajar, maka Rencana Pembelajaran Semester (RPS) perlu disusun secara jelas pencapaian CPL, CPMK dan Sub CPMK setiap mata kuliah.

Sementara Prof Edi Istiono menyampaikan berbagai model assesmen belajar mahasiswa berdasar capaian pembelajaran mata kuliah dan lulusan. Pengetahuan dapat diuji dengan tes tulis, lisan dan tugas, sikap dinilai berdasarkan observasi, penilaian diri dan antar teman, sementara ketrampilan diuji dengan observasi, partisipasi dan unjuk kinerja. Contoh rubrik dan instrument pun dipaparkan dalam penjelasan ini.

Dr. M. Fakhri Husein lebih menekankan pada tahapan rencana LPM dalam mempersiapkan penerapan model delapan pembelajaran MBKM di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di tahun depan, antara lain memverifikasi mitra agar pembelajaran tidak berjalan liar, misalnya belajar di Universitas yang akreditasinya A juga, bukan yang lebih rendah. Tahap berikutnya adalah menyusun RPS hak belajar seperti magang dan lain-lain yang ditawarkan oleh banyak mata kuliah, karena aspek-aspek belajar dalam MBKM belum banyak dieksplor di borang akreditasi. Dalam menyusun RPS beliau mengingtakan perlunya memasukkan hasil penelitian dan pengabdian dalam materi atau kajian mata kuliah.

Sesi workshop dimanfaatkan oleh para dosen untuk menyusun RPS mata kuliah yang diampu masing-masing dengan merujuk pada Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), sesuai kurikulum yang telah disusun. Para dosen diberikan kebebasan berinovasi dalam menentukan capaian pembelajaran sub Mata Kuliah selama masih seiring dengan CPMK dan CPL.Peserta dalam kegiatan ini adalah Wakil Dekan 1 FDK, Kasub Akademik FDK, Staf akademik Prodi IKS, seluruh dosen tetap dan dosen LB prodi IKS, stakholder Prodi IKS, dan perwakilan mahasiswa Prodi IKS.

Berita Terkait