Praktikum Pekerjaan Sosial (PPS) Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Mengikuti Pendidikan Supply Chain (RANTAI PASOK) Industri Bersama SERBUK Indonesia

Aktivitas Mahasisw Praktikum Bersama Serikat Buruh Di Tawangmangu, 5-6 Oktober 2019
Cuaca Tawangmangu cukup dingin. Buruh-buruh dari berbagai daerah itu tetap terlihat bersemangat. Beberapa kali kopi dan teh diseduh. Semua larut dalam pembicaraan dan tawa. Suasananya pendidikan menjadi begitu menyenangkan.
Tepatnya, 5-6 Oktober 2019. Empat mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga mengikuti Pendidikan terkait Supply Chain (rantai pasok) dalam Industri yang diadakan Federasi Serikat Buruh Kerakyatan (SERBUK) Indonesia di Hotel Sido Langgeng, Tawangmangu, Jawa Tengah.
Mereka yang berpraktik itu adalah Dany Mustafa, Muhammad Dzikri, Siti Khomariah, dan Siti Khodiyah. Keempat orang tersebut merupakan mahasiswa IKS yang sedang melaksanakan Praktik Pekerjaan Sosial (PPS) di SERBUK Indonesia. Dalam agendanya, Pendidikan Mengenal Supply Chain dalam Industri ini diadakan dengan tujuan untuk memperkuat pemahaman serikat buruh dan anggotanya mengenai rantai pasok, membangun tim pengorganisiran, dan memperkuat kapasitas keterampilan dalam melakukan pengadvokasian anggota. Harapannya, buruh-buruh akan semakin bisa membela diri untuk mendapatkan hak-haknya dan mengetahui peta perjuangan rantai produksi dalam skala yang lebih luas.
Lebih lanjut lagi, pendidikan ini dilatarbelakangi oleh adanya perubahan mendasar dalam pola industri. Pola industri saat ini cenderung menciptakan rantai pasok yang semakin panjang. Dampaknya, pola-pola pengorganisasian buruh juga memerlukan kebutuhan baru, karena mereka telah dibuat semakin longgar dalam menciptakan sebuah komoditas.
Disisi lain, menurut Koordinator Kelompok PPS (Muhammad Dzikri F), “Pendidikan ini menjadi ajang pembelajaran yang sangat berharga bagi ia dan teman-teman. Menurutnya, dalam pendidikan ini kami mendapatkan pelajaran yang konkrit dan aktual. Semisal bagaimana rantai pasok itu berjalan dan apak dampaknya, kemudian bagaimana relasi antara sistem global dan sistem di Indonesia dan dampaknya bagi buruh-buruh, dan terahir upaya-upaya seperti apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya”. Lebih lanjut lagi, Ia menjelaskan soal peran pekerja sosial untuk aktif dalam upaya-upaya tersebut. Apalagi, ia dan teman-teman juga mendapatkan mata kuliah-mata kuliah terkait hal itu. Seperti advokasi sosial, gerakan sosial, perundang-undangan sosial, serta pekerja sosial industri.”
Detailnya, materi-materi yang disampaikan adalah terkait pemetaan rantai produksi dalam skala global. Pemetaan rantai produksi global ini perlu dilakukan sebagai upaya penegasan perlawananan terhadap privatisasi sektor publik. Ketika pemetaan rantai produksi skala global tersebut dilakukan, keuntungan bagi serikat buruh dan anggotanya adalah adanya kemampuan mengidentifikasi pihak mana yang paling memiliki kekuatan terbesar atau pihak mana yang paling bertanggungjawab. Konteks rantai produksi global kemudian akan dipecah menjadi kecil-kecil dimana nilai satu barang bisa terbagi-bagi di berbagai tempat mulai dari pengolahan bahan mentah, pemberian brand/merk, sampai dilakukan pemasaran oleh perusahaan di tempat yang berbeda.
Selanjutnya, rantai produksi yang terpecah di berbagai negara dilakukan untuk menciptakan harga yang kondusif (murah). Sebagai contoh adalah brand A (brand ternama internasional) yang tidak memiliki hubungan kepemilikan dengan merk dimana tidak adanya hubungan kepemilikan antara penyuplai dengan brand tersebut. Brand tersebut akan disuplai oleh perusahaan Vietnam, Indonesia, Cina dan Bangladesh tanpa melakukan produksi sendiri dan tanpa memiliki pabrik sendiri. Secara praktis, brand tersebut mendapat keuntungan karena tidak memiliki pabrik yang kemudian bisa menekan pendanaan menjadi lebih efisien. Sedangkan disisi lain, perusahaan akan berkompetisi untuk mendapatkan pasar sehingga brand tersebut bisa memilih perusahaan yang memiliki bahan baku lebih murah. Kondisi tersebut kemudian berimplikasi terhadap banyaknya tanah yang dirampas serta harga buruh yang murah atau upah buruh yang rendah. Model bisnis yang dilakukan tersebut semakin membuat dunia perburuhan semakin memburuk, diantaranya yaitu mencegah buruh berserikat dan mengelola diri, serta sulitnya bernegosiasi.
Menanggapi kondisi tersebut, Edward Miller, perwakilan dari Building and Wood woorkers International (BWI), yang berkesempatan hadir sebagai pemateri, mempunyai strategi sebagai upaya untuk mengorganisir buruh dalam rantai pasok. Strategi tersebut dilakukan dengan menekan brand atau perusahaan multinasional pemegang merk agar memiliki aturan atau kesepakatan global untuk menetapkan kesepakatan dengan buruh. Beberapa mekanisme yang dapat digunakan untuk memberikan tekanan yaitu melalui OECD, UN Global Compact, Foresty Certification Mechanisms, dan ADB dalam membuat framework agreement atau perjanjian kerja bersama.
Terakhir, diantara yang mengikuti pendidikan itu adalah anggota-anggota SERBUK Indonesia dari Serikat Pekerja Listrik Area Solo Raya (Splas), PT BMJ Karawang, PT SICP Karawang, juga perwakilan serikat buruh anggota dari Demak dan Semarang. Para peserta begitu antusias dalam forum dan pendiskusiannya.
BWI sebagai afiliasi internasional SERBUK Indonesia juga berkomitmen dalam perjuangan perbaikan kondisi kerja yang lebih baik untuk para Buruh. Hal itu bisa dilakukan dengan terus melakukan propaganda yang tepat, pengorganisiran yang baik, serta pendidikan yang berkelanjutan.
Mahasiswa praktikum pekerja sosial prodi IKS juga diharapkan bisa banyak berkontribusi dalam perjuangan buruh yang lebih lanjut. Buruh-buruh yang hadir berpendapat bahwa dukungan dari berbagai pihak memang dibutuhkan untuk memantapkan strategi-strategi perjuangan. Terlebih, situasi di Indonesia memang membutuhkan persatuan gerakan di semua elemen masyarakat yang ada.
Di hari terakhir, rangkaian acara pendidikan ditutup dengan perumusan rencana tindak lanjut paska pendidikan. Setiap serikat buruh anggota (SBA) menyusun langkah pengorganisiran di pabrik dan potensi lainnya yang memungkinkan. Semua yang hadir bersepakat bahwa perjuangan bukan slogan. Harus ada langkah kongkrit yang terhitung dan nyata.
Terakhir sekali. Meskipun cuaca tawangmangu masih saja dingin, terasa sekali api semangat dari buruh-buruh itu yang membara. Tak terkecuali, mahasiswa praktikum pekerja sosial juga.
Sumber : Dany Mustofa (Mahasiswa PPS di Serbuk Yogyakarta)