WHAT'S NEW?
Loading...

Mitra IKS: BRTPD Pundong


Perpisahan Praktikan di BRTPD
 TENTANG LEMBAGA MITRA 
A.    Sejarah Lembaga
Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) terletak di Dusun Piring, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Menempati lahan seluas 4 hektar dan berada jauh dari perkotaan, membuat BRTPD menjadi sebuah tempat yang cocok untuk penyelenggaraan kesejahteraan sosial bagi penyandang disabilitas.
Sebelum berganti menjadi BRTPD, dulu lahan seluas 4 hektar ini hanyalah pabrik gula dan kemudian dialih fungsikan menjadi Pusat Rehabilitasi Terpadu Penyandang Cacat (PRTPC) yang diresmikan pada tanggal 27 Mei 2009. Tujuan didirikannya PRTPC adalah untuk membantu korban gempa bumi di Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 silam. Seiring dengan berjalannya waktu dan kemunculan beberapa aturan-aturan baru terkait disabilitas seperti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas) dan Peraturan Daerah (PERDA) DIY Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas, maka PRTPC digeser paradigmanya dari pelayanan dan rehabilitasi sosial dari bentuk kepedulian (charity), bergeser kepada upaya pemenuhan hak—hak dan kebutuhan penyandang disabilitas. Tepat pada tahun 2012, PRTPC resmi berganti nama menjadi BRTPD dan berada di bawah naungan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta hingga sekarang.

B.    Kondisi Geografis
Adapun batas wilayah Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) Yogyakarta adalah sebagai berikut:
1.    Sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Jetis
2.    Sebelah selatan berbatasan dengan pantai Parangtritis
3.    Sebelah barat berbatasan dengan Bambanglipuro
4.    Sebelah timur berbatasan dengan Imogiri.

C.    Sasaran Program Lembaga
Adapun sasaran program Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) dibagi menjadi 3, yaitu:
1.    Dasar Pelaksanaan
Adapun dasar pelaksanaan penyelenggaraan kesejahteraan sosial oleh Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) adalah:
a.    UU RI Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.
b.    UU RI Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas.
c.    PERDA D.I. Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tatakerja Dinas Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
d.    PERDA D.I. Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas.
e.    PERGUB D.I. Yogyakarta Nomor 40 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas PERGUB D.I. Yogykarta Nomor 36 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tatakerja Unit Pelaksana Teknis Dinas dan Unit Pelaksana Teknis Lembaga Teknis Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
f.    PERGUB D.I. Yogyakarta Nomor 53 Tahun 2010 tentang perubahan atas PERGUB D.I, Yogyakarta tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas dan Unit Pelaksanaan Teknis Pada Dinas Sosial.
2.    Tujuan
Adapun tujuan didirikannya Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) adalah membantu membangun kembali rasa percaya diri, harga diri, pengembangan potensi dan pemberdayaan penyandang disabilitas. Sehingga mampu melaksanakan fungsi sosialnya agar mandiri dalam  tatanan kehidupan keluarga dan masyarakat.


3.    Tugas dan Fungsi
a.    Tugas
Melaksanakan perlindungan pelayanan, rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial bagi penyandang disabilitas daksa, netra, grahita, rungu wicara, dan wreda disabilitasi
b.    Fungsi
Adapun fungsinya sebagai berikut:
1)    Penyusunan program balai.
2)    Penyusunan program operasional.
3)    Pengembangan mutu layanan rehabilitasi sosial dan medis.
4)    Identifikasi, seleksi dan penilaian (assesment).
5)    Penyelenggaraan perlindungan, pelayanan, rehabilitasi medis dan sosial.
6)    Penyelenggaraan rujukan bagi penyandang disabilitas sebelum, selama dan sesudah rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
7)    Pelaksanaan kemitraan dengan instansi/lembaga lainnya.
8)    Fasilitas pemberdayaan penyandang disabilitasi daksa, netra, grahita, rungu wicara dan kehidupan masyarakat.
9)    Palayanan konsultasi, penelitian dan pengembangan kesejahteraan sosial.
10)    Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan program balai.
11)    Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai tugas dan fungsinya.

D.    Visi dan Misi
1.    Visi
Pusat perlindungan, pelayanan, rehabilitasi medis dan sosial bagi penyandang disabilitas yang kreatif, inovatif dan profesional.
2.    Misi
Terdapat beberapa misi dari Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas, antara lain sebagai berikut:
a.    Penyelenggaraan perlindungan, pelayanan, rehabilitasi medis dan sosial, keterampilan bagi penyandang disabilitas netra, grahita, daksa, rungu wicara dan wreda disabilitas.
b.    Peningkatan profesionalitas Sumber Daya Manusia penyelenggaraan pelayanan.
c.    Pengembangan mutu, metode, model dan standar layanan rehablitasi.
d.    Memperluas rujukan baik pada tahap sebelum rehabilitasi, selama proses rehabilitasi maupun setelah rehabilitasi.
e.    Menjadi pusat penelitian dan pengembangan TKSP dan TKSM.

E.    Struktur Organisasi
1.    Kepala Balai
2.    Pekerja Sosial
Peranan/Tugas Pekerjaan Sosial
a.    Perantara (broker)
Ada tiga tugas utama bagi pekerja sosial dalam melakukan peranan sebagai broker: Pertama, mengidentifikasi dan melokalisir sumber-sumber kemasyarakatan yang tepat. Kedua, menghubungkan konsumen atau klien dengan sumber secara konsisten. Ketiga, mengevaluasi efektifitas sumber dalam kaitannya dengan kebutuhan-kebutuhan klien.
b.    Pendidik (educator)
Pekerja sosial sebagai pendidik harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan menyampaikan informasi dengan baik dan benar serta mudah diterima oleh individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat yang menjadi sasaran perubahan.

c.    Pembela (advokator)
Beberapa strategi dalam melakukan peran pembela adalah: keterbukaan (membiarkan berbagai pandangan untuk didengar), perwakilan luas (mewakili semua pelaku yang memiliki kepentingan dalam pembuatan keputusan), keadilan (kesetaraan atau kesamaan sehingga posisi-posisi yang berbeda dapat diketahui sebagai bahan perbandingan, pengurangan permusuhan (mengembangkan keputusan yang mampu mengurangi permusuhan dan keterasingan, informasi (menyajikan masing-masing pandangan secara bersama dengan dukungan dokumen dan analisis), pendukungan (mendukung patisipasi secara luas), kepekaan (mendorong para pembuat keputusan untuk benar-benar mendengar, mempertimbangkan dan peka terhadap minat-minat dan posisi-posisi orang lain).
d.    Fasilitator
Peran pekerja sosial sebagai fasilitator bertujuan untuk membantu klien agar menjadi mampu menangani tekanan situasional atau transisional. Menurut Barker (1987:49) terdapat berbagai strategi khusus yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, meliputi: pemberian harapan, pengurangan penolakan dan ambivalensi, pengakuan dan pengaturan perasaan-perasaan, pengidentifikasian dan pendorongan kekuatan-kekuatan personal dan aset-aset sosial, pemilahan masalah menjadi beberapa bagian sehingga lebih mudah dipecahkan, dan pemeliharaan sebuah fokus pada tujuan dan cara-cara pencapaiannya.
Pengertian ini didasari oleh visi pekerjaan sosial bahwa setiap perubahan terjadi pada dasarnya dikarenakan oleh adanya usaha-usaha klien sendiri dan peranan pekerja sosial adalah memfasilitasi atau memungkinkan klien mampu melakukan perubahan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama.
3.    Sub Bagian Tata Usaha
4.    Seksi Rehabilitasi Medik
5.    Seksi Bina Netra Dan Grahita
6.    Seksi Bina Daksa, Rungu Dan Wicara
7.    Kelompok Jabatan Fungsional

F.    Program dan Aktifitas Lembaga
1.    Proses Pelayanan
a.    Tahap pendekatan awal
1)    Orientasi dan konsultasi
Warga binaan sosial BRTPD sebelum masuk lembaga akan diberikan orientasi awal terkait lembaga dan memberikan konsultasi kepada calon warga binaan sosial.
2)    Identifikasi
Selanjutnya mengadakan identifikasi awal kepada warga binaan sosial tentang data-data diri mereka.
3)    Motivasi dan seleksi
Menjelaskan motivasi warga binaan sosial ingin masuk ke BRTPD dan juga akan melakukan seleksi nantinya, terkait umur dan sebagainya.
b.    Tahap penerimaan
1)    Registrasi
Warga binaan sosial akan melakukan registrasi atau mengisi data diri mereka secara lengkap, meliputi fotokopi KTP, fotokopi KK, dll.


2)    Assesment
Selanjutnya para asesor akan melakukan assesment kepada warga binaan sosial agar data diri warga binaan sosial diketahui secara utuh. Baik itu dari potensi diri dan masalah yang dihadapinya.
3)    Penempatan dalam program
Selanjutnya warga binaan sosial akan ditempatkan ke dalam program-program atau kelas keterampilan sesuai dengan minat dan bakat mereka.
c.    Tahap pembimbingan rehabilitasi
1)    Rehabilitasi medis
a)    Pelayanan klinik
Terdapat unit pelayanan klinik yang dapat diakses oleh seluruh warga binaan sosial. Bisa untuk mengecek kesehatan dan berobat-berobat ringan.
b)    Fisioterapi, hydroterapi
BRTPD juga memiliki pelayanan fisioterapi dan hydroterapi bagi seluruh warga binaan sosial. Pelayanan ini ditujukan untuk menterapi bagian tubuh klien yang lemah fungsinya menjadi lebih kuat kembali.
c)    Speechtherapy, ADL, OM.
Selain itu BRTPD juga ada pelayanan terapi
2)    Rehabilitasi sosial
a)    Pembinaan fisik
Untuk menunjang program-program yang diadakan, lembaga juga menyediakan pembinaan fisik bagi setiap warga binaan sosial. Baik berupa olahraga dan lain sebagainya.
b)    Bimbingan mental-sosial, spiritual dan psikologis
BRTPD juga menyediakan bimbingan mental-sosial, spiritual dan psikologis bagi semua warga binaan sosial. Itu ditujukan agar para penyandang disabilitas menjadi lebih percaya diri dan mandiri.
3)    Bimbingan keterampilan
a)    Massage (sport, sixte, shiatsu)
Terdapat keterampilan massage yang ditujukan untuk bagi warga binaan sosial yang menyandang disabilitas netra
b)    Desain grafis
Selanjutnya terdapat keterampilan desain grafis yang dapat diakses oleh disabilitas daksa.
c)    Komputer
Karena sekarang sudah jauh memasuki zaman globalisasi, BRTPD juga mengantisipasi keterbelakangan informasi yang bisa diakses oleh siapa saja, oleh karena itu BRTPD juga menyediakan keterampilan komputer.
d)    Elektronika
BRTPD juga mempunyai program keterampilan elektronika yang dapat diakses oleh disabilitas daksa.
e)    Kerajinan perak
Selain itu, BRTPD juga mempunyai program keterampilan kerajinan perak, karena bahan bakunya yang tidak sulit dicari dan pada waktu itu juga banyak peminatnya.
f)    Kerajinan kulit
BRTPD juga mempunyai program keterampilan kerajinan kulit yang dapat diakses oleh disabilitas daksa.
g)    Menjahit dan bordir
Keterampilan menjahit dan bordir merupakan keterampilan yang cukup diminati di BRTPD oleh warga binaan sosial. Dapat diakses oleh disabilitas daksa.
d.    Tahap resosialisasi
1)    Praktik Kerja Lapangan
Ini adalah tahap dimana para warga binaan sosial dilatih untuk melakukan praktik kerja lapangan. Mengaplikasikan keterampilan yang telah diperolehnya sewaktu di BRTPD. selain itu untuk melatih rasa kepercayaan diri mereka serta mengubah mindsei masyarakat bahwa penyandang disabilitas juga bisa mandiri.
2)    Bantuan sosial (UEP)
Terdapat juga bantuan sosial yang akan diberikan kepada warga binaan sosial agar mempunyai modal awal untuk bersosialisasi lagi di masyarakat, serta memfasilitasinya untuk menjadi mandiri.
e.    Tahap pembinaan lanjut
1)    Bimbingan peningkatan kehidupan bermasyarakat
Di BRTPD juga terdapat program bimbingan peningkatan kehidupan bermasyarakat bagi para warga binaan sosial. Dapat dijadikan salah satu upaya untuk membuat warga binaan sosial menjadi lebih optimis dalam menjalani hidup.
2)    Bimbingan peningkatan keterampilan
Selain itu, BRTPD juga mempunyai program bimbingan peningkatan keterampilan. Itu bisa diakses oleh warga binaan sosial melalui kelas-kelas keterampilan/pelajaran disetiap harinya.
3)    Bimbingan pengembangan/peningkatan usaha
Untuk menunjang kemandirian warga binaan sosial setelah lulus, BRTPD juga mempunyai program pengembangan / peningkatan usaha. Melalui kemampuan dalam mengelola usaha, diharapkan para lulusan dari BRTPD dapat mandiri sewaktu di masyarakat.
f.    Terminasi
Terminasi merupakan tahap terakhir dimana pada tahap ini pemutusan hubungan kegiatan pelayanan kepada para warga binaan sosial yang telah dinyatakan lulus.


2.    Proses Pelayanan Rehabilitasi




E. Pendanaan dan Jaringan


Pada awal balai ini diresmikan, sumber pendanaannya berasal dari APBN yang dikelola Pemerintah Pusat. Tetapi hanya sebatas dana awal untuk pengadaan sejumlah peralatan dan perlengkapan di balai. Setelah itu pengelolaan balai diserahkan kepada Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta karena lingkup balai hanya sebatas DIY dan sekitarnya. Jadi sekarang sumber pendanaan di BRTPD berasal dari APBD DIY. Untuk di bagian jaringan, BRTPD bermitra dengan pengusaha di daerah Bantul, lembaga-lembaga sosial di bawah naungan Dinas Sosial DIY dan Lembaga Swadaya Masyarakat/swasta.

KEGIATAN PPS DI BRTPD
(Dikutip dari Laporan Muhammad Makhribi)

A.    Analisis
Setidaknya terdapat 6 tahapan yang harus dilaksanakan pada Praktik Pekerjaan Sosial 1 kali ini, meliputi engagement, assesment, perencanaan, intervensi, evaluasi dan terminasi. Tahap pertama yang dilakukan ialah engagement (perkenalan, pendekatan dan kontrak awal). Praktikan melakukan engagement ke lembaga terlebih dahulu, mengetahui lembaga secara  umum, selanjutnya praktikan melakukan engagement kepada calon klien dan membuat kontrak yang nantinya akan dilaksanakan selama proses intervensi berlangsung.
Setelah itu, praktikan melakukan assesment terhadap klien. Data yang dicari adalah seputar data diri klien, permasalahan yang dihadapi, serta sumber eksternal lainnya yang juga terkait dengan permasalahan yang sedang dihadapi klien. Selanjutnya mengolah data yang telah diperoleh dan merumuskan suatu perencanaan intervensi. Setelah penyusunan rencana, intervensi dilakukan dengan target yang akan dicapai demi kebaikan bersama. Setelah itu proses dan hasil intervesi di evaluasi bersama klien, yang pada akhirnya akan dilakukan terminasi atau pemutusan kontrak karena hasilnya sudah tercapai dan waktunya telah selesai.
Permasalahan klien adalah tidak harmonisnya hubungan antara klien dengan orang tua. Intevensi yang dilakukan ialah memberikan konseling kepada klien dan motivasi untuk mengubah mindset serta membuat klien lebih bersemangat lagi. Setelah itu melaksanakan home visit yang didalamnya terdapat konseling dan pemberian edukasi kepada orang tua terkait pengetahuan pola pengasuhan anak. Selain itu membawa klien saat acara kelulusan warga binaan sosial dan di dudukan dengan orang-orang baru, agar lebih intensifnya sosialisai klien dengan lingkungan luas serta menambah teman baru.


B.    Pendekatan Teori
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna. Begitu pula dengan kebutuhan dan segala keinginannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa keinginan manusia tidak terbatas dan seringkali hanya sekedar menjadi harapan belaka. Tetapi ada hal-hal tertentu yang wajib dipenuhi oleh manusia, yaitu kebutuhan. Kebutuhan sendiri terbagi lagi menjadi 3 bagian, yaitu kebutuhan primer, kebutuhan sekunder dan kebutuhan tersier.
Abraham Maslow di dalam teori kebutuhannya memetakan kebutuhan manusia menjadi 5 bagian, sebagai berikut  :
1.    Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling mendasar dan sangat penting untuk bertahan hidup. Diantaranya adalah kebutuhan udara, air, makanan, tidur, dan lain-lain. Kebutuhan ini dinamakan juga kebutuhan dasar, jika tidak terpenuhi dalam keadaan yang sangat ekstrim maka manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri karena seluruh kapasitas manusia tersebut dikerahkan dan dipusatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya itu.
2.    Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Ketika kebutuhan fisiologis telah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan akan keamanan dan keselamatan. Diantaranya sebagai berikut:   aman dari kejahatan dan agresi, keselamatan kerja, keamanan sumber daya, keamanan fisiologis, keamanan keluarga, keamanan kesehatan, dan keamanan kekayaan pribadi dari kejahatan. Maka dari itu dibuatlah aturan untuk  mengarahkan perilaku agar tetap positif.
3.    Kebutuhan Akan Rasa Cinta
Manusia sebagai makhluk sosial tentu saja membutuhkan rasa memiliki dan dimiliki serta diterima, mereka juga membutuhkan rasa mencintai dan dicintai oleh yang lainnya. Kebutuhan itu bisa datang dari mana saja, seperti keluarga, teman sepermainan, dan lingkungan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi maka orang tersebut akan menjadi rentan merasa sendirian, gelisah, dan depresi. Kebutuhan akan rasa cinta paling erat kaitannya dengan keluarga, karena keluarga adalah agen pertama dalam membentuk kepribadian seseorang.
4.    Kebutuhan Penghargaan
Semua manusia pasti membutuhkan penghargaan, meliputi menghargai diri sendiri, dan juga menghargai orang lain. Orang perlu melibatkan diri untuk mendapatkan pengakuan dan mempunyai kegiatan atau kontribusi kepada orang lain serta menilai diri sendiri, baik di dalam pekerjaan ataupun hobi. Terdapat dua tingkatan kebutuhan penghargaan / penghormatan. Tingkatan yang lebih rendah terkait dengan unsur-unsur ketenaran, rasa hormat dan kemuliaan. Tingkatan yang lebih tinggi mengikat pada konsep kepercayaan diri, kompetensi, dan prestasi.
5.    Aktualisasi Diri
Aktualisasi diri adalah kebutuhan naluriah manusia untuk memanfaatkan kemampuan mereka yang unik dan berusaha menjadi yang terbaik. Ini adalah bagian kebutuhan yang paling puncak. Kebutuhan ini akan tercapai manakala kebutuhan-kebutuhan sebelumnya sudah tercapai.
Teori Maslow jika dikaitkan dengan kasus klien, maka akan mengacu pada kebutuhan nomor 3, yaitu kebutuhan akan rasa cinta. Karena hubungan antara klien dengan orang tua sedang tidak harmonis, hal itu berpengaruh pada tidak bersemangatnya klien mengikuti kegiatan kelas dan bimbingan di BRTPD. Kebutuhan akan rasa cinta sangatlah penting terlebih lagi dari keluarga, karena keluarga merupakan sistem terkecil yang saling berkaitan, saling memahami dan saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua, menjadikan klien lebih gelisah dan malas melakukan apa-apa.
Melalui pemberian intervensi yang tepat, dapat membuat klien lega dan bersemangat kembali dalam menjalankan fungsi sosialnya. Konseling dan pemberian motivasi menjadi langkah awal dalam intervensi kepada klien. Selanjutnya melakukan home visit dan bertemu dengan orang tua klien. Metode yang digunakan adalah konseling keluarga dan pemberian edukasi terkait pola pengasuhan anak. Menurut (Edwards, 2006), beliau menyatakan bahwa pola asuh merupakan interaksi anak dan orang tua, mendidik, membimbing, dan mendisplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Interaksi tersebut mencakup perawatan seperti mencukupi kebutuhan, mendorong keberhasilan, melindungi, dan mengajarkan tingkah laku umum yang diterima oleh masyarakat.
Pada interaksi antara anak dengan orang tua, seringkali ditemui perbedaan di dalamnya. Anak cenderung menggunakan cara-cara tertentu yang dianggap paling baik olehnya. Disinilah letak terjadinya beberapa perbedaan dalam pola asuh. Disatu sisi orang tua harus bisa menetukan pola asuh yang tepat dalam mempertimbangkan kebutuhan dan situasi anak, disisi lain sebagai orang tua juga mempunyai keinginan dan harapan untuk membentuk anak menjadi seseorang yang dicita-citakan yang tentunya lebih baik dari orang tuanya (Jas dan Rachmadiana, 2004).
Menurut (Edwards, 2006), terdapat tiga faktor yang memperngaruhi pola pengasuhan terhadap anak, yaitu :
1.    Pendidikan orang tua
Pendidikan dan pengalaman orang tua dalam perawatan anak akan mempengaruhi persiapan mereka menjalankan pengasuhan terhadap buah hati mereka. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang tokoh (Supartini, 2004), orang tua yang sudah mempunyai pengalaman sebelumnya dalam mengasuh anak akan lebih siap menjalankan peran asuh, selain itu orang tua akan lebih mampu mengamati tanda-tanda pertumbuhan dan perkembangan yang normal terhadap anaknya.
2.    Lingkungan
Lingkungan juga merupakan faktor yang banyak mempengaruhi perkembangan anak, maka tidak mustahil jika lingkungan juga ikut serta mewarnai pola-pola pengasuhan yang diberikan orang tua terhadap anaknya.
3.    Budaya
Sering kali orang tua mengikuti cara-cara yang dilakukan oleh masyarakat sekitar ataupun masyarakat terdahulu dalam mengasuh anak. Kebiasaan-kebiasaan seperti itu dipegang erat karena pola-pola pengasuhannya dianggap berhasil dalam mendidik anak kearah kematangan.
Maka dari itu, sangat perlu diberikannya eukasi kepada orang tua klien tentang pola pengasuhan anak agar tidak ada lagi perselisihan paham antara keinginan orang tua dan keinginan klien. Segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih bijak dan tentu saja demi kebaikan bersama. Setelah itu, intervensi dilanjutkan dengan memberi tugas kepada klien agar dapat lebih intensif dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, melalui wadah acara pelepasan kelulusan warga binaan sosial Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas. Tujuan dari keseluruhan intervensi tersebut agar terpenuhinya kebutuhan klien akan rasa cinta dari orang-orang terdekatnya, terutama orang tuanya. Karena pada dasarnya klien kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

C.    Hikmah
Hikmah yang dapat saya ambil dari pelaksanaan Praktik Pekerjaan Sosial ini adalah kepedulian merupakan kata kunci dari segala kunci kehidupan. Kepedulian untuk menolong sesama akan membuahkan hasil yang luar biasa jika di dalam proses kita menolong di dasari dengan rasa ikhlas dan tanggung jawab. Melalui pelaksanaan Praktik Pekerjaan Sosial ini, kita diajarkan untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT dan  selalu berfikir positif terhadap semua kemungkinan yang terjadi, karena setiap apapun yang diberikan Allah kepada kita ialah untuk mengukur derajat ketaqwaan kita sebagai hamba Allah.
Sebenci-bencinya anak kepada orang tua akan luluh dan sadar bahwa tidak sepantasnya anak memiliki perasaan seperti itu. Begitupun sebaliknya, sejahat apapun orang tua pasti memiliki rasa sayang dan cinta kepada anaknya. Anak hanya mengetahui hak-haknya dan selalu menuntut itu dari orang tua, anak sukar sekali memikirkan dari mana asalnya uang itu, seperit apa pekerjaan yang orang tua lakukan untuk mencukupi kebutuhannya, dan apakah anak pernah berterima kasih untuk itu semua. Hal itu perlu diluruskan dan dicarikan solusi terbaiknya agar keluarga tersebut dapat terus harmonis.
Kasus yang dihadapi oleh klien mengajarkan saya betapa pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak. Kadang ada orang tua yang mengeksklusifkan diri bagi anaknya yang membuat si anak menjadi takut untuk berbagi cerita dengan orang tua. Selain itu, butuhnya pendidikan pengasuhan anak terhadap orang tua, agar orang tua dapat dengan maksimal mengenal potensi diri anak dan cara mengasuhnya. Semua hal itu selalu berkesinambungan dan akan membentuk pola yang indah jika ada cinta di dalamnya.

D.    Rekomendasi
Rekomendasi yang dapat saya berikan untuk kedepannya adalah butuhnya ruang dialog bagi para praktikan dalam mendapatkan pemahaman dan arahan dari supervisior baik itu kampus ataupun lembaga dengan waktu dan tempat yang jelas. Memang di dalam perjalanan dan tujuan diadakannya Praktik Pekerjaan Sosial ini adalah agar mahasiswa dapat mengaplikasikan teori yang diperolehnya dari kampus ke lapangan, tetapi praktikan juga membutuhkan dampingan agar mereka tetap berjalan sesuai koridor. Tidak etis rasanya jika saling menyalahkan, hanya saja butuh introspeksi dari semua elemen yang berpengaruh terhadap pelaksanaan Praktik Pekerjaan Sosial ini.
Rekomendasi selanjutnya adalah memperbaiki sistem, administrasi dan kesiapan dari pelaksanaan Praktik Pekerjaan Sosial itu sendiri. Praktikan melihat masih banyak kekurangsiapan dari panitia dalam mempersiapkan dan menjalankan Praktik Pekerjaan Sosial ini. Yang mana kekurangsiapan tersebut berdampak pada proses yang dijalankan oleh praktikan dan kepercayaan lembaga tempat mahasiswa praktik. Akan muncul tanda tanya dari semua lembaga tentang kesiapan dari panitia pelaksana Praktik Pekerjaan Sosial ini.
Selain itu, butuhnya mata kuliah tambahan untuk membahas administrasi pekerja sosial. Karena mulai dari Praktik Pekerjaan Sosial, praktikan telah dihadapkan langsung dengan sistem administrasi yang cukup rumit dan penting untuk diketahui. Sedangkan untuk keseluruhannya, praktikan merasa bahwa dengan diadakannya Praktik Pekerjaan Sosial ini sangatlah berguna baik bagi mahasiswa itu sendiri, maupun bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan orang lain