Mitra IKS: LSPPA (Lembaga Studi Pengembangan Perempuan dan Anak)

A. TENTANG LSPPA

LSPPA (Lembaga Studi Pengembangan Perempuan dan Anak) berdiri pada tahun 1991. LSPPA adalah bagian dari Yayasan Prakarsa yang mengerjakan program penguatan perempuan dan anak. Kegiatan-kegiatan yang banyak dilakukan antara tahun 1991 – 1996 adalah melakukan diseminasi wacana permasalahan social akibat ketidak adilan gender melalui diskusi, seminar, penerbitan buku, dan kegiatan ekonomi kelompok perempuan miskin di pedesaan untuk peningkatan penghasilan perempuan dan keluarga.

Selama berinteraksi dengan sasaran di perkotaan, yang sebagian besar adalah kaum mahasiswa dan terpelajar kota lainnya, wacana yang dibangun LSPPA mengenai keadilan gender dalam kehidupan menghadapi reaksi pro dan kontra. Sikap kontra dari masyarakat pada kualitas tertentu sempat menimbulkan ancaman fisik dan emosional bagi staf dan relawan LSPPA. Hal ini membawa LSPPA untuk mencari alternatif strategi dan pendekatan yang lebih sesuai dengan kapasitas internal LSPPA. Di samping itu di perkotaan, terutama Yogyakarta, peran LSPPA dalam menyebarluaskan wacana keadilan gender mulai dilakukan juga oleh LSM-LSM yang lahir kemudian.

Sementara itu sasaran di pedesaan tenggelam dalam kesibukan kegiatan yang bersifat praktis ekonomis, yang sesungguhnya bagi LSPPA kegiatan tersebut hanyalah sebuah bungkus saja. Pesan esensial tentang pentingnya perempuan berdaya dalam ekonomi tidak terlalu dipedulikan oleh kelompok sasaran.Bagi mereka, kegiatan simpan-pinjam dapat membantu pemenuhan kebutuhan konsumsi rumah tangga secara jangka pendek.Gejala ini menggelisahkan LSPPA, meskipun respon masyarakat sangat positif terhadap program ini, karena LSPPA tidak mempunyai banyak waktu dan tenaga untuk menunggu mereka dapat memahami pesan esensial tersebut.

Di dalam LSPPA sendiri tengah terjadi ketertarikan yang besar untuk mengekplorasi isu pelemahan (de-empowering) terhadap anak perempuan, sebuah isu yang juga menjadi salah satu dari 12 area kritis dari Rencana Aksi Deklarasi Beijing tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Selain karena ketertarikan pada isu anak sejak lembaga ini didirikan, isu anak perempuan belum banyak diperhatikan oleh orang lain.

Pada tahun 1997 LSPPA kemudian mengadakan Strategic Planning untuk mengeksplorasi permasalahan anak perempuan. Hasil SP adalah mengubah focus LSPPA kepada permasalahan “sosialiasi nilai adil gender (SNAG) sejak dini”. Focus ini mempunyai tujuan akhir yaitu terwujudnya generasi baru, laki-laki dan perempuan, yang meyakini nilai keadilan gender sebagai dasar kehidupan mereka, sehingga kekerasan terutama terhadap perempuan benar-benar dapat dihilangkan.
Di Indonesia, dan di Yogyakarta pada khususnya, SNAG  sejak dini telah mulai disadari sebagai sebuah mata rantai penting dalam gerakan perempuan, namun belum banyak dilakukan oleh para aktivis. SNAG sejak dini sendiri adalah sebuah “belantara” baru yang memerlukan  eksplorasi dan pengembangan. Kenyataan ini justru memberikan dorongan yang kuat pada LSPPA untuk mengambil posisi sebagai perintis jalan menuju pengertian dan  penciptaan model  pelaksanaan SNAG sejak dini.

B.Sasaran Program lembaga / komunitas
a.Anak
b.Orang tua
c.Guru
d.Komunitas
e.Pemerintah

C. Visi dan Misi LSPPA

Visi :
Terciptanya masyarakat yang demokratis dan berkeadilan gender
Misi :
1.Mengadakan kajian dan penelitian dalam kerangka pengembangan wacana dan model pendidikan adil gender serta penghargaan terhadap keberagaman.
2.Mengembangkan wacana dan mensosialisasikan nilai gender serta penghargaan terhadap keberagaman sejak usia dini.
Mempengaruhi kebijakan dengan perspektif hak perempuan dan hak anak sebagai hak asasi manusia.

D. Program dan aktivitas LSPPA

LSPPA menjalankan program berdasarkan divisi-divisi, berikut diantaranya:
A.Divisi Litbang : Devisi litbang ini bertanggung jawab pada pengembangan konsep dan metodologi program Pendidikan Adil Gender dan Multikultur di Taman Kanak-kanak. Program yang dilakukan:
I.Perumusan konsep Pendidikan Adil Gender dan Multikultur di Taman Kanak-kanak
II.Pengembangan riset-aksi Pendidikan Adil Gender dan Multikultur di Taman Kanak-kanak
III.Diskusi kasus (case conference) temuan dari lapangan
IV.Perpustakaan

B.Devisi Pengembangan : Divisi ini bertanggung jawab pada pengembangan program aksi dengan pendekatan berbasis komunitas. Program yang dilakukan :
I.Bersama masyarakat mengembangkan program pengembangan diri remaja perempuan dari keluarga rentan melalui pendirian Rumah Belajar “Mentari” di Kampung Cokrodirjan Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta. Kegiatan di rumah belajar ini antara lain: perpustakaan komunitas,tutorial dan pelatihan ketrampilan bagi anak, pendidikan keorangtuaan, jaringan penguatan anak perempuan rentan.

II.Mendirikan Rumah Produksi “Mentari” untuk peningkatan taraf hidup anak jalanan perempuan,dengan kegiatan produksi kerajinan tangan
III.Mengembangkan program pengembangan model Pendidikan Adil Gender dan Multikutur di Taman Kanak-kanak di Kecamatan Kasihan dan Bambanglipura Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

C.Divisi Kampanye & advokasi : Divisi ini bertanggung jawab pada kampanye nilai adil gender pada masyarkat luas & melakukan advokasi terhadap kebijakan pemerintah.
Program yang dilakukan :
I.Sosialisasi nilai adil gender lewat radio,ceramah,training, media cetak (rubrik), mailing list, pembuatan film & buku
II.Advokasi. Bersama masyarakat Mengkritis kebijakan yang berkaitan dengan perempuan & anak. Dan kemudian memunculkan referensi baru atau opini masyarakat tentang kebijakan tsb

D.Layanan Selain program yang dilakukan devisi-devisi tersebut, LSPPA juga memberikan layanan-layanan :
I.TRAINING (Pendidikan Kritis : Gender, KHA, dll)
II.Narasumber untuk : diskusi & ceramah
III.Pemutaran film untuk anak
IV.Perpustakaan

LSPPA memiliki 3 lembaga dibawahanya, yaitu:
  • Playgroup & Day Care Warna-warni | Memberikan pelayanan pendidikan pada anak usia dini dalam bentuk playgroup dan penitipan anak. Dimana kurikulumnya menerapkan kurikulum inklusif yang mengedepankan keragaman dan kesetaraan gender.
  • Lembaga Pendidik & Pengasuh Anak Usia Dini (LPPAUD) Warna Warni | Memberikan pelayanan pendidikan bagi calon pengasuh anak usia dini. Di dalam kurikulumnya yang terdiri dari 10 modul, LPPAUD lebih menekankan praktek daripada teori, dengan harapan calon pengasuh anak akan lebih banyak mendapatkan kesempatan berinterkasi langsung dengan anak untuk menambah pengetahuannya.
  • ECCD – RC ( Early Childhood Center And Development – Resources Center) | ECCD – RC merupakan pusat informasi untuk anak usia dini. Selain itu di ECCD – RC juga memberikan pelayanan lab school , area bermain untuk anak, perpustakaan (mainan & buku) dan training untuk Guru TK & Playgroup. Pelayanan yang diberikan ECCD – RC diprioritaskan bagi kelompok marginal.

E.Pendanaan Dan Jaringan
a.Dana dari Pemerintah Pusat contohnya yaitu dari Kementrian Departemen Pendidikan Nasional dan dari Pemerintah Daerah contohnya yaitu dari Pemerintah Kota DIY.
b.Dana mandiri, yaitu dana yang diperoleh LSPPA bersumber dari aktifitas kelembagaan seperti saat menjadi narasumber yang mengisi dalam suatu sosialisasi dan saat menjadi trainer. Selain itu LSPPA mendapatkan dana dari penjualan hasil karya masyarakat dampingan (perempuan dan anak) mereka seperti menjual buku dan mainan.

B. PRAKTIKUM IKS DI LSPPA

Didalam menjalankan Praktek pekerja sosial , mahasiswa Ilmu kesejahteraan sosial yang menjadi Praktikan di lembaga melewati berbagai kegiatan yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan dari praktek ini. Kegiatan tersebut di mulai dari pembekalan di kampus sampai dengan pembekalan yang diberikan dilembaga. Dari kegiatan-kegiatan tersebut berikut urutan kegiatannya:
  1. Pembekalan Praktikum selama setengah semester atau selama 3 bulan oleh Dosen matakuliah PPS I. Dalam pembekalan yang ada di kelas, kami diberikan ancang-ancang seta gambaran kegiatan yang akan dilakukan di lembaga.
  2. Setelah itu mahasiswa diminta menentukan 3 lembaga yang sesuai dengan minat masing-masing mahasiswa, dengan catatan urutan pertama adalah lembaga yang memang benar-benar diminati.
  3. Setelah itu penentuan tempat PPS. Dosen Matakuliah PPS mengharuskan sebelum kita praktek ke lembaga kita harus memasukkan surat ijin untuk praktek ke lembaga. Sebagai syarat untuk melakukan Praktek.
  4. Setelah surat ijin masuk ke Lembaga , kita langsung terjun ke lembaga dan membaur dengan staf yang ada di Lembaga serta penentuan tempat praktek sesuai dengan konsentrasi minat.
Ketika sudah terjun ke lembaga, mahasiswa praktikan harus benar-benar serius dalam menjalankan profesinya dan belajar menjadi pekerja sosial profesional. Hal selanjutnya yang dilakukan oleh mahasiswa Praktikan adalah koordinasi sekaligus konsultasi dengan pihak lembaga, untuk menentukan isu yang di minati. Dalam hal ini LSPPA mempunyai dua konsentrasi, yaitu pelayanan dan penanganan kasus, yaitu Perempuan dan Anak. Fokus yang saya pilih adalah isu mengenai anak. Cabang LSPPA yang membantu menangani permasalahan anak adalah Taman Kanak-kanak Warna-warni yang beralamatkan di Jln. Amarta No.362 Puluhdadi, Seturan, Depok, Sleman 55281. TK Warna-warni mempunyai kurikulum pendidikan yang sangat jelas.

Kegiatan selanjutnya dilakukan oleh mahasiswa adalah observasi TK Warna-Warni. "Setibanya di TK Warna-warni disana kami sudah merasakan nuansa kedamaian dan kesejukan serta kenyamanan sesuai dengan apa yang dibutuhkan anak-anak. Di TK Warna-warni kami disambut dengan petugas yang ada disana, ada 4 pendamping yang mengurus dan memberikan pelayanan kepada anak-anak. Setelah menunggu beberapa menit kemudian akhirnya kami bertemu dengan Kepala sekolah Warna-warni yaitu Ibu Jundayah. Disana kami menjelaskan maksud kedatangan serta meminta ijin untuk melakukan praktikum serta meminta bantuan agar tetap memonitoring kami selama praktek disana," kisah Indri.