DEKLARASI PEKERJA SOSIAL PROFESIONAL INDONESIA

 
Peringatan Hari Pekerjaan Sosial Sedunia, 15 Maret 2016 yang lalu berbeda dari tahun sebelumnya. Selain seminar yang menghadirkan narasumber dari luar negeri, nasional dan juga praktisi, kali ini diwarnai dengan pengenalan latar belakang praktik pekerjaan sosial yang beragam dan pembacaan bersama deklarasi Pekerja Sosial profesional Indonesia. Lebih dari 1000 orang yang hadir dalam acara peringatan tersebut, turut mengikuti pembacaan deklarasi tersebut. Pembacaan profil latar belakang dan deklarasi Pekerja Sosial profesional dipandu oleh DR. Sugeng Pujileksono, M.Si.
Para Pekerja Sosial yang dipilih untuk mewakili sekaligus memperkenalkan praktik-praktik yang beragam diantaranya ialah; Ade Reno Sudiarno, MSW bekerja di Oxfam Indonesia dengan isu pengembangan masyarakat, Ade menyatakan harapannya “Semoga pekerja sosial indonesia dapat melakukan upaya-upaya transformatif baik secara perorangan maupun kolektif /kelembagaan sehingga kinerja pekerja sosial semakin nyata dan dapat diakui eksistensinya lebih baik lagi”; Agustus Fajar Sanjaya, MPS.Sp bekerja di Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial Kota Cimahi, Agustus menyampaikan harapannya bahwa “Perlu upaya percepatan hadirnya perundang-undangan praktik pekerjaan sosial agar dalam melaksanakan praktik, pekerja sosial dapat lebih terlindungi”.
Selanjutnya, Amoye Pekei, M.Si bekerja di HIV Cooperational Program for Indonesia Papua (HCPI-PAPUA), Amoye menyampaikan pesan perlunya “Membangun sistem terpadu layanan kesejahteraan sosial dalam penanganan PMKS sebagai wadah pengembangan praktik peksos dan optimalisasi pelayanan”; Arde Wisben, MA bekerja sebagai Corporate Affair/ Community Relation pada Perusahan Hutan Tanaman Industri Kalimantan Timur, harapannya agar “Pekerja Sosial harus berani keluar dari zona nyaman dan bekerja pada bidang-bidang yang menantang”; Endang Suharjanti, M.Si bekerja sebagai Pekerja Sosial di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO), harapannya “Kiranya Pekerja Sosial Medis dapat terus berkembang dan memperkuat kapasitas keilmuan dan keterampilan dalam praktek pekerjaan sosial”; Eny Susilawati, M.Si bekerja di Pusat Rehabilitasi Kementerian Pertahanan RI, harapannya “ IPSPI dan Pusbangprof Peksos memberikan motivasi dan program pengembangan demi kemajuan profesi Pekerja Sosial”.
Selain itu, ada Lilin Darmiyanti, M.Si bekerja sebagai Pekerja Sosial Medis di Rumah Sakit Jiwa dr. Marzuki Mahdi Bogor sejak tahun 1998 sampai sekarang; Nancy Sunarno, M.Sc bekerja sebagai Programme Consultant for the Indonesia for Humanity for PEDULI Program dan Sekretariat KKPK (Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran); Piri Adi, S.Sos pendiri lembaga Komunitas Resam Provinsi Bengkulu, harapannya dapat “mengajak Pekerja Sosial untuk kembali membangun kesetiakawanan, solidaritas, kepedulian, empati dan altruisme”; DR. Puji Pujiono, MSW bekerja sebagai Penasihat Regional Bidang Pengurangan Risiko Bencana, Divisi Teknologi Komunikasi Informasi dan Pengurangan Risiko Bencana – Komisi Regional PBB untuk Ekonomi dan Sosial di Asia Pasifik (ESCAP);
Kemudian, Rolianna Darawani Harianja bekerja sebagai Pekerja Sosial Medis di RS Kanker Dharmais, juga menjabat sebagai Ketua APSMI (Asosiasi Pekerja Sosial Medis Indonesia); Dra. Sri Musfiah bekerja sebagai Pekerja Sosial Anak di PSMP Handayani Jakarta, semboyannya ialah “Mengutuk atau memeluk ,Memukul atau merangkul Mencaci atau merehabilitasi ADALAH PILIHAN Meski tidak mudah ,Kami persembahkan yang terbaik, Yang terpantas BAGI MEREKA Semoga Yang dulu nakal, makin berakal. Yang sempat bengal, segera terkenal. Yang pernah brandal, menjadi handal Aamiin Ya Rabbal Alamin”; Suarni Daeng Caya, M.Si bekerja sebagai peneliti di Nexus Indonesia, harapannya ialah “Semua pihak harus komitmen untuk menggunakan istilah pekerja sosial untuk orang yang berprofesi sebagai pekerja sosial dan semoga peksos memiliki kepekaan, komitmen, militansi dan totalitas dalam merespon isu-isu sosial”.
Terakhir, Widodo Suhartoyo, M.Sc bekerja sebagai Education Specialist UNICEF Indonesia, semboyan yang disampaikan ialah "Be Best, Be Better, Be Different and Be Yourself”; Yanti Kusumawardhani, MSW bekerja sebagai Education and Protection Specialist for IDEAL (Inclusive Community Development and Education for All) Project at Save the Children, harapannya agar “Memegang peranan penting pekerja sosial dalam pembangunan negara Indonesia melalui intervensi level mikro, mezo dan makro”.
Tepuk tangan yang ramai serta iringan musik melengkapi suasana haru dan bahagia para Pekerja Sosial dan para tamu yang hadir. Para Pekerja Sosial yang disebutkan dalam profil latar belakang praktik menuju panggung yang tersedia. Mereka membacakan deklarasi secara bersamaan dan diikuti oleh seluruh hadirin dengan sikap berdiri, dan ditutup dengan Salam Solidaritas Pekerja Sosial! Berikut merupakan kutipan deklarasi bersama:
Deklarasi Pekerja Sosial Profesional Indonesia
Kami Pekerja Sosial Profesional Indonesia sebagai profesi terdepan dalam menghormati, melindungi,dan memperjuangkan harkat serta martabat manusia menyatakan:
  1. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Memiliki komitmen terhadap nilai dan prinsip pekerjaan sosial serta memegang teguh kode etik profesi dalam melaksanakan praktik.
  3. Menjaga hubungan baik dengan penerima manfaat, rekan sejawat, rekan profesi lain, para pemangku kebijakan, dan pemangku kepentingan.
  4. Mengutamakan kepentingan terbaik bagi penerima manfaat diatas kepentingan pribadi dan memandang penerima manfaat sebagai mitra sejajar.
  5. Menghormati segala perbedaan pandangan, pemikiran, dan sikap diantara rekan sejawat, rekan antar profesi serta profesi lainnya dalam memberikan     layanan kepada penerima manfaat.
  6. Mengusahakan dan mengupayakan perbaikan serta pengembangan layanan profesional bagi penerima manfaat.
Jakarta, 15 Maret 2016
(MIS)
Sumber 
http://www.socialworksketch.com/en/publikasi/34-deklarasi-pekerja-sosial-profesional-indonesia