Exploring Cross-Cultural Social Work Bersama Prodi IIS, Prodi IKS dan the University of Sidney


Rabu, 3/2/20016, para mahasiswa Prodi Ilmu Kesejehateraan Sosial mengikuti Student Workshop yang diselenggarakan oleh atas kerjasama Prodi IKS, Prodi IIS (Islamic Interdisciplinary Studies) Pascasarjana UIN, dan Faculty of Education and Social Work, The University of Sydney Australia. Acara ini mengusung tema “Exploring Cross-cultural and Social Work”. Bertempat di hall Pascasarjana UIN pada hari Rabu (3/2). Kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta yang terdiri atas 9 mahasiswa Prodi IKS, 10 mahasiswa IIS, 10 mahasiswa Australia, 4 dosen dari UIN serta 2 dosen dari Australia.

Acara diawali dengan presentasi Prof. Fran Waugh. Dalam presentasinya, Fran menjelaskan intergrasi antara pendidikan dengan social work. Menurutnya, pendidikan adalah jangkar dari social work. Beliau juga menegaskan bahwa teori merupakan acuan ketika melakukan praktik lapangan (misalnya dalam kasus PPS di Prodi IKS UIN). Dari pengalaman praktik lapangan, pekerja sosial belajar tentang prinsip-prinsip dalam pekerjaan sosial. Praktik lapangan juga bertujuan untuk mengintegrasikan antara teori dan praktik.

Salah satu peserta, Nur Kholida menceritakan pengalamannya selama praktik. Dia mengatakan bahwa teori yang diajarkan tidak selamanya sesuai dengan praktik di lapangan. Menanggapi pertanyaan itu, Margareth menjelaskan bahwa untuk mengatasi masalah tersebut dibutuhkan skill sebagai seorang peksos. Semakin banyak pekerja sosial mempelajari teori dan semakin banyak pengalaman yang didapat, maka pekerja sosial akan mampu mengatasi tantangan dalam praktiknya.

Pada sesi berikutnya, peserta diberi kesempatan untuk mempresentasikan social work di Indonesia dan social work di Australia. Perwakilan dari Prodi S2 IIS, M. Najib mempresentasikan paradigma intergrasi dan interkoneksi UIN Sunan Kalijaga dan hubungan Islam dengan Social work. Dalam tesis yang sedang dikerjakan, dia melihat bahwa prinsip-prinsip peksos yang dikemukanna oleh para tokoh kesejahteraan sosial seperti Zastrow dinilai masih terlalu umum. Menurutnya, realita di lapangan masih memerlukan prinsip peksos yang lebih spesifik, dan nilai keislaman bisa menjadi salah satu alternatifnya.

Presentasi berikutnya disampaikan oleh perwakilan dari Prosi IKS, M. Aufal Marom. Dalam prsentasinya, ia menampilkan short movie “The Journey of a Social Worker” yang secara singkat menggambarkan profil Prodi IKS. Selain itu, Aufal menceritakan pengalamannya selama praktik pekerjaan sosial. Menurutnya dalam menghadapi klien seorang peksos harus menempatkan dirinya sebagai teman, agar klien merasa nyaman saat dilakukan assessment. Dia menambahkan bahwa masyarakat belum familiar dengan peksos, sehingga ketika mengalami suatu permasalahan mereka cenderung lebih percaya kepada tokoh-tokoh masyarakat.

Menutup sesi presentasi, perwakilan dari mahasiswa Australia, Margot dan Elisa memperkenalkan kampus The University of Sydney kepada para peserta workshop. Dua mahasiswa Australia lainnya, Katie dan Olivia menceritakan pengalaman mereka saat praktik di lembaga-lembaga layanan sosial di Sydney. Katie melakukan praktik di lembaga Women’s Domestic Violence Court Advocacy Center (WDVCAC). Lembaga tersebut menangani kasus wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan menangani korban penelantaran. Sedangkan Olivia melakukan praktik di lembaga yang menangani kasus para pencari suaka di Australia. “Di Australia, para pencari suaka tersebut kami tangani dengan baik. Ada banyak relawan yang membantu, seperti dokter, perawat, pendeta dan lain-lain.”, jelas Olivia.

Student workshop seperti ini, sangat bermanfaat bagi mahasiswa Indonesia maupun mahasiswa Australia. “Ini adalah sebuah pengalaman yang menarik, kita bisa saling bercerita mengenai social work di kedua negara. saya sangat menikmati Indonesia. ini akan sangat membantu untuk study saya.” Ujar Jack Whitney mewakili teman-teman dari Australia. (EMI)