Catatan harian AsiaBound (8) Desa Wisata Brayut

Sabtu, 21/11/15
Agenda peserta AsiaBound hari ini, Sabtu (21/11) adalah kunjungan ke desa wisata Brayut. Setelah sebelumnya peserta berkunjung ke Museum Batik dan ke Kasongan untuk balajar membuat kerajinan tangan gerabah. Kali ini peserta belajar tentang karawitan, belajar membatik serta belajar tentang tarian tradisional Jawa, khususnya Yogyakarta. Ini merupakan salah satu ajang untuk memperkenalkan berbagai budaya khas di Indonesia. Karena tiap-tiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan tradisonal tersendiri.
Sesampainya di Brayut, pertama para peserta belajar karawitan. Karawitan merupakan seni suara daerah, baik vocal maupun instrumental. Karawitan sendiri dibagi menjadi 3, yakni Karawitan Sekar, Karawitan Gending dan Karawitan Sekar Gending. Karawitan Sekar merupakan salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya lebih mngutamakan terhadap unsur vocal atau suara manusia. Berbeda denga Karawitan gending yang lebih mengutamakan unsur instrumental atau alat music. Karawitan Sekar Gending merupakan perpaduan antara vocal dan instrumental.
Peserta terlihat menikmati alunan music yang keluar dari alat music tradisional Jawa ini. Selain itu mereka juga senang memainkan alat-alat music seperti gendang, gong, suling, kenong, kempul dan lainnya. Mereka sedikit tidak telah mengenal beberapa alat music tradisional Indonesia.
Setelah belajar karawitan, peserta belajar membatik. Batik merupakan khas dari Indonesia. batik Jawa terkenal karena ke khasan serta kesulitan dalam pembuatannya. Batik Jawa dibuat dengan goresan tangan serta terbuat dari pewarna alami. Peralatan membatik terdiri dari gawangan yang berfungsi sebagai tempat menggantung kain yang akan dibatik; bandul berfungsi untuk menjadikan kain mori tidak bergelantung oleh angina; wajan berfungsi untuk melelehkan malam yang digunakan untuk membatik; kompor untuk memanaskan wajan untuk melelehkan malam; taplak berfungsi untuk melindungi tubuh agar tidak terkena tetesan malam; saringan malam berfungsi sebagai saringan malam yang kotor agar bersih ssat digunakan membatik; canting sebagai alat untuk menggoreskan batik di kain; mori yang merupakan kain yang akan dibatik; lilin (malam) sebagai bahan untuk membatik; dhingklik sebutan untuk tempat duduk; dan yang terakhir pewarna alami yang terbuat dari bahan-bahan alami yang berwarna.
Ini merupakan pengalaman pertama peserta dalam membatik. Meskipun mengalami kesulitan saat proses membatik bahkan salah satu peserta, Roshaan terkena lilin panas. Namun mereka tetap menikmati dan melanjutkan proses mambatik di atas kain mori.
Setelah belajar karawitan dan membatik, mereka kemudian belajar tari tradisional. Salah satunya mereka belajar tari merak yang menggambarkan tentang kehidupan burung merak. Tata cara dan gerakannya diambil dari kehidupan dari kehidupan merak, yaitu menggambarkan bagaiman merak jantan memamerkan bulu ekornya untuk mearik perhatian merak betina. Tarian ini biasanya ditampilkan sebagai tarian pesrsembahan atau tarian penyambutan.
Meskipun mengalami kesulitan dalam mengikuti gerakan pelatih tari, namun mereka tetap antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka terkesan senang mempelajari kesenian tradisional Indonesia yang sangat beragam.