WHAT'S NEW?
Loading...

Catatan Harian AsiaBound 2015 (7) Field Trip Borobudur dan Mendut

(Kamis, 19/11/15)
Setelah melakukan kunjungan ke beberapa tempat yang berkaitan dengan politik serta keagamaan di Indonesia. Hari ini, Kamis (19/11) rombongan mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berkitan dengan budaya serta spiritual. Menurut agenda, rombongan akan mengawali trip pertama dengan mengunjungi candi Mendut kemudian akan melanjutkan trip ke candi Bororbudur.
Candi mendut merupakan candi bercorak Budhha. Candi ini didirikan pada masa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam candi terdapat tiga arca, yakni arca Dhyani Budhha Wairocana diapit Boddhisatwa Awalokiteswara dan Wajrapani. Candi ini memang terbilang kecil, karena hanya ada satu bangunan candi.
Ada kejadian yang cukup menggelitik ketika rombongan berada di candi Mendut. Sebelum masuk ke candi, petugas keamanan telah menyampaikan bahwa rombongan tidak boleh foto dengan menggunakan baner di area candi kecuali di halaman sekitar candi. Saat tim dokumntasi akan mengambil foto di atas candi, dua buddies malah membentangkan baner. Alhasil petugas keamana pun marah-marah karena rombongan telah melanggar peraturan. Foto yang diambil pun segera dihapus karena dianggap illegal.
Sepulangnya dari Mendut, rombongan kembali melanjutkan trip ke candi Bororbudur. Ketika memasuki kawasan candi, peserta AsiaBound tertarik untuk mengelilingi sekitaran area candi dengan menunggangi gajah. Mereka terlihat antusias melihat pemandangan dari atas gajah.
Dengan ditemani tourguide dari kawasan candi, rombongan mulai manapakki dan mendengarkan dengan seksama penjelasan dari tourguide mengenai sejarah serta makna dari tiap-tiap sudut candi.
Tidak beda jauh dengan candi mendut, candi Borobudur merupakan candi yang bercorak Budhha. Menurut sejarah, candi mulai dibangun sekitar 770 masehi dan selesai sekitar 825 masehi. Boroubudur memiliki koleksi relief Budhha terlengkap dan terbanyak di dunia. Namun sayang, patung dan bangunan candi banyak yang mengalami kerusakan akibat dari gempa yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006. Namun hal ini tidak mengurangi keindahan candi yang masuk kategori 7 keajaiban dunia ini.
Bangunan ini terdiri atas enam berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya tersapat 504 arca Budhha. Bangunan ini dibangun sebagai tempat suci untuk memulikan Budhha sekaligus sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Budhha.
Selain menjelaskan tentang sejarah candi, tourguide mengajak rombongan untuk melakukan gerakan Tai Chi di atas bangunan candi. Tai Chi merupakan seni bela diri “halus” Cina kuno. gerakan Tai Chi umumnya dilakukan dalam ritme lambat. Tai Chi selain berfungsi untuk menambah kekuatan, fleksibilitas, kesadaran tubuh dan konsentrasi mental, Tai Chi juga bisa meningkatkan kesehatan.
Diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini, para peserta lebih memahami tentang kebudayaan di Indonesia. tidak hanya mengetahui bangunannya, melainkan juga mengetahui sejarah serta manfaat dari monument-monumen yang menjadi ikon budaya Indonesia.