Wednesday, November 18, 2015

Catatan Harian AsiaBound 2015 (6) Kunjungan ke al-Munawwir dan Gereja Ganjuran

(Rabu, 18/11/15)
Rombongan AsiaBound 2015 beserta tim Buddies hari ini, Rabu (18/11) melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Krapyak serta ke Gereja Katolik Ganjuran. Dengan ditemani oleh Kaprodi IKS, rombongan mengawali kunjungan ke Ponpes Al-Munawir Krapyak. Kunjungan ini bertujuan untuk merubah mindset orang luar tentang Islam yang beranggapan bahwa segala hal tentang Islam berbau teroris. Setelah kembali ke Australia, diharapkan persepsi mereka tentang Indonesia dan Islam berubah, bahwa Islam bukan teroris.
Sesampainya di Al-Munawir, rombongan disambut oleh ketua pengurus pondok, As’ad. Dalam sambutannya, ia menuturkan bahwa Islam adalah agama yang toleran bukan seperti apa yang dipikirkan kebanyakan  orang, bahwa Islam adalah teroris. Hal ini dibuktikan dengan relasi yang baik antara pondok dan warga non-muslim yang bermukim di sekitar pondok. Kerukunan di tengah perbedaan tetap terjaga serta bukan penghalang untuk bersilaturrahmi antar sesama.
As’ad juga sedikit menyinggung tentang sejarah ponpes Al-Munawir. Al-Munawir sendiri berdiri pada tahun 1911 dan didirikan oleh K.H. Munawir bin Abdullah Rasyad. Beliau sempat menetap di Makkah sekitar 23 tahun lamanya.
Santri di ponpes ini tidak hanya berasal dari Indonesia, melainkan juga berasal dari Negara tetangga, Thailand dan Kanada. Para santri tidak hanya yang menetap di pondok, tapi ada juga “santri kalong” yang hanya mengikuti kegiatan pondok pada malam hari saja atau hanya mengaji saja. Kebanyakan para santri di al-Munawir adalah lulusan SMA. Berdsarkan penuturan pengurus, terdapat sekitar1700an santri di Al-Munawir.
Rombongan kemudian diajak berkeliling ponpes sembari melihat kegiatan para santri. Namun karena kunjungan berlangsung siang hari, kebanyakan santri sedang tidak berada di asrama. Kerana kebanyakn sedang sekolah atau kuliah.
Selepas kunjungan ke Al-Munawir, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Gereja Katolik Ganjuran. Gereja Ganjuran merupakan gereja yang memadukan antara agama dan kebudayaan Jawa. Ditandai dengan adanya candi yang berada di area gereja.
Sejarah gereja Ganjuran sebagaimana dijelaskan oleh salah satu pengurus gereja, Aris Dwiyanto, diawali oleh seorang awam bernama Smutzer. Beliau merupakan keturunan Belanda yang hidup pada zaman penjajahan. Sekitar tahun 1912, area gereja dulunya merupakan pabrik gula yang dikelola oleh Smutzer. Kemudian pada tahun 1920an beliau mulai memperkenalkan ajaran Katolik kepada penduduk pribumi. Baru kemudian pada tahun 1924, Smutzer membangun sebuah gereja sebagai tempat peribadatan.
Tahun 1927, Smutzer membangun prasasti yang berbentuk candi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan karena bisnisnya berjalan lancar serta dapat diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar. Perkembangan penyebaran Katolik yang signifakan, menjadikan gereja Ganjuran sebagai Gereja yang mandiri (hirarki).
Penyebaran ajaran katolik didasari pada kebudayaan setempat. Tradisi Jawa sangat kuat dan bertahan sampai sekarang. Yesus dihadirkan dalam bentuk budaya Jawa di dalam gereja, patung Yesus bertahta di singgasana. Hal ini bertujuan agar masyarakat mudah memahami ajaran katolik melalui budaya Jawa. Anak-anak juga dilatih memainkan music tradisional Jawa, seperti gamelan di dalam gereja.
Kegiatan sosial juga tidak luput dilakukan oleh pangurus gereja. Biasanya pada akhir Juni, dilakukan upacara prosesi agung sebagai bentuk ucapan rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat-Nya. Upacara dan doa dibarengi dengan akasi sosial, seperti donor darah dan sebaginya. Upacara dilakukan dengan upacara dan doa bersama, baik dengan sesama katolik maupun non katolik. Doa dipimpin oleh pemuka agama masing-masing. Proses upacara dilaksanakan di area candi.
Kerukunan antar umat beragama sangat kental dan sangat toleran. Seperti yang diungkapkan Supriatno, bila ada perayaan ibadah agama lain, seperti Idul Fitri, para pemuka gereja datang untuk sekedr mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri. Selain itu bertujuan untuk menyambung silaturrahmi antar umat beragama.