WHAT'S NEW?
Loading...

Raker Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Add caption

Selama dua hari (7-8 Oktober 2015), Fakultas Dakwah dan Komunikasi menyelenggarakan rapat kerja. Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan diberi pengantar penyegaran oleh Dr. Hj. Ida Rochani tentang pengembangan fakultas berbasis outputs dan outcomes. Acara dihadiri oleh segenap pimpinan fakultas, para pengelola prodi, perwakilan dosen, dan staf fakultas.

Dengan gaya humor, Bu Ida mengkritik sekaligus memberikan masukan konstruktif untuk bagaimana membangun layanan yang baik untuk costumer  (mahasiswa) di fakultas. Upaya itu bisa dari hal-hal sederhana seperti bagaimana menyapa costumer lebih baik. Kalau pegawai bank bisa ramah menyapa, "selamat siang, ada yang bisa kami bantu?", perguruan tinggi harus bisa lebih baik lagi. Kalau terminal saja sudah dijaga kebersihannya 24 jam dengan karyawan shift, mengapa PT tidak? Bu Ida menggarisbawahi pentingnya komitmen untuk berubah sebagai modal terpenting untuk meningkatkan mutu layanan fakultas.

Untuk sesi siang, acara dilanjutkan dengan review program-program 2015. Review dimulai dari WR2, dilanjutkan WR1, semua kaprodi, PTIPD, dan laboratorium. Para 'pemilik anggaran' umumnya mengeluhkan sulitnya prosedur keuangan untuk bis amengimplementasikan semua program. Dengan demikian, harus dimaklumi bila serapan anggarannya. kurang dari 30%. Sayangnya, dalam agenda reker, tidak disebutkan sesi untuk mengatasi masalah-masalah itu. Kegiatan review program 2015 akhirnya hanya jadi parade presentasi capaian anggaran.

Hari kedua diawali dengan penyegaran dari Dr. Nurmandi, direktur pascasarjana UMY. Mirip seperti bu Ida di hari pertama, ini adalah sesi sharing yang baik. Topik yang didiskusikan adalah penjaminan mutu. Sesi dimulai dengan pengalaman Pak Nur sebagai fellow di beberapa universitas Katolik dan bagaimana komitmen kita sering kalah dengan mereka. Pak Nur juga mendiskusikan tentang standar-standar yang perlu dicapai oleh prodi untuk memenuhi standar nasional maupun internaisonal.

Pak Nurmandi juga menawarkan tip mencari dana: (1) Kerjasama dengan donatur; (2) Kerjasama dengan alumni; (3) Program akademik dengan menggunakan nama orang.

Kalau direfleksikan ke prodi, ada beberapa hal yang kita masih lobang-lobang: (1) Data PDPT IKS, setelah dicek, ternyata perlu dipdate; (2) Perlunya update visi, misi; (3) Perlunya penataan adminsitrasi, karen abanyak dokumen yang tidak ada SK-nya; (4) Perlunya membuat manajemen yang baik bagi target-target tri-darma dosen. (5) Inovasi. (6) Pentingnya sistem informasi dan teknologi (7) RAAKL kita belum diarahkan untuk mendukung "target" menjadi universitas  research university. Misalnya, tidak ada anggaran untuk merekrut mahasiswa asing, tidak ada anggaran untuk menarik visiting professor, dan semisalnya. Malah, sistem anggaran kita membuat kita tidak leluasa memenuhi kebutuhan riil di lapangan.

Hari kedua dilanjutkan dengan diskusi tentang kegiatan 2016 yang sesungguhnya sudah tercantum di RKAAKL.