Kuliah Umum Mahasiswa Angkatan 2015

Mahasiswa 2015 memenuhi Convention Hall
FDK UIN Suka menyelenggarakan Studium General (kuliah umum) untuk mahasiswa angkatan 2015, Rabu kemarin (16/9). Bertempat di Convention Hall UIN Suka, panitia mengundang Prof. Akh. Muzakki, salah seorang dosen UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai narasumber. Beliau ditemani Dr. Hamdan Daulay selaku moderator.
Sebelum kuliah umum dimulai, satu grup pemusik menghibur menyemarakkan suasana. Ditambah lagi penampilan seorang komedian stand up comedy dari mahasiswa FDK sendiri, Miko Pentol Bakso sempat membikin bapak Muzakki terpesona, dan tentu saja gelak tawa peserta.
Akh. Muzakki menyampaikan materi berdasar tema dakwah bil hikmah untuk menangani masalah radikalisme dan terorisme. Penyampaian materi yang lugas disertai contoh-contoh kasus kontemporer membuat penjelasannya dapat dicerna dengan mudah.
Akh. Muzakki menerangkan, kata al hikmah itu menurut ibnu Faris, adalah kemampuan untuk mencegah/menahan dari perilaku aniaya. Kemudian yang kedua, perilaku menjauhkan diri dari kebodohan. “Kemampuan untuk mendewasakan diri, selain itu juga mencerdaskan,” kata Muzakki.
Sehingga dakwah bil hal berarti, dakwah yang tidak saja berimplikasi pada level individual saja, namun juga replikasi kepada orang lain. “Kalo cuma mikirin diri sendiri, berarti tidak bil hikmah, jadi ini justru penekanannya keluar,” tambahnya.
Ada contoh salah satu ustad yang memberi solusi terhadap permasalahan pasiennya sangat mistik. Seorang ibu mengeluh sakit encok. Ustad tersebut bilang: “sampean pulang langsung minta maaf sama suami, karena ibu selama ini berani sama suami.”
Disitulah, kata Muzakki, terdapat ruang kosong yang tak terjelaskan. Tak mencerdaskan. Alih-alih menjadikannya itu mistis, solusi harusnya menjelaskan permasalahan dengan jelas dan solusi yang masuk akal, atau demistifikasi. “Mendewasakan melalui mendemistifikasi agama,” terang Muzakki.
“Soal ceramah, saat ini harus hati-hati. Karena terkait dengan maraknya radikalisme dan terorisme. Ada istilahguilty by association,” lanjutnya.
Misal ada mahasiswa pelaku teroris, nah dia ternyata sebelum kejadian, mengikuti perkuliahan seorang dosen. Dicek lah buku catatannya. Nah ternyata ditemukan catatan-catatan perkuliahan yang mengarah terkait kasus terorisme tersebut. Dalam hal ini bisa-bisa dosen tersebut ikut disangka. “Ini karena dihubung-hubungkan tadi, padahal belum tentu terlibat, jadi harus benar-benar hati-hati, pemilihan diksi, kata-katanya…” tandas Muzakki.
Di akhir sesi, mahasiswa baru angkatan 2015 berlomba-lomba mengungkapkan idenya serta menanyakan hal-hal yang dirasa mengganjal. Seperti diungkapkan penanya Yudi Hasian Harahap, menanyakan mengapa media hanya mengalihkan isu-isu yang dikehendaki, sementara banyak permasalahan lebih besar dihadapi bangsa ini. Yudi yang mengaku banyak membaca perkembangan media ini gusar dengan permainan media-media Indonesia.