Sunday, June 28, 2015

Sejarah IKS

Delegasi Jurusan PMI ke McGill University, Canada (2004): Cikal bakal lahirnya IKS
Lahirnya Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) di Fakultas Dakwah adalah wujud dari pergulatan intelektual yang panjang, melibatkan banyak pihak, dan meramu berbagai tradisi Barat dan Timur. Ada tradisi yang harus dijaga. Ada kontribusi dari berbagai pihak di luar negeri. Ada pula sikap kritis terhadap perubahan. Kelahiran IKS tak bisa dilepaskan dari saudara tuanya, Jurusan pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dan pergulatan sejarahnya. Sebab dari PMI-lah cerita IKS dimulai.

A. Berawal dari PMI 
Saat itu, memasuki usianya yang kedelapan, Jurusan PMI telah dan terus melakukan pencarian identitas dan positioning di dunia akademik. Sebab, sejak semula disadari bahwa pengembangan dakwah bi al-hâl dalam arti community development adalah hal baru di lingkungan Islamic studies dan belum memiliki body of knowledge yang mapan.
Dalam hal pencarian identitas dimaksud, Jurusan PMI mempunyai beberapa pilihan yang bisa ditempuh: (1) mencari jawaban dalam lingkungan Islamic studies; (2) keluar dari lingkungan islamic studies; atau (3) dengan meramu keduanya.
Semata-mata mencari dalam lingkungan Islamic Studies tentu bukan pilihan yang tepat. Dalam lingkungan Islamic studies yang didominasi oleh epistemologi bayâni, pengembangan masyarakat belum pernah menjadi disiplin ilmu. Serakan-serakan analisis sosial burhânî yang termuat dalam literatur Islam klasik, seperti dalam Muqaddimah Ibn Khaldun, selain langka juga belum pernah diakui sebagai anak kandung ilmu dalam keluarga keilmuan Islam. Sehingga, kalaupun bukan hal yang mustahil, menutup diri dalam tradisi Islamic studies bukan pilihan yang bijak.
Alternatif kedua, semata-mata mengadopsi tradisi ilmu pengembangan masyarakat dari luar Islamic studies juga bukan langkah yang bisa dibenarkan dari aspek aksiologis. Selain bisa kehilangan core normatif Islam, pengadopsian-mutlak justru menempatkan PMI pada posisi yang tidak penting, karena tidak menawarkan sesuatu yang baru dan khas.
Dengan demikian, pencarian identitas melalui jalan tengah perlu ditempuh: selagi terus mengumpulkan serakan-serakan teoritis dalam literatur Islam, PMI perlu terbuka dengan tawaran-tawaran dari luar.
Proses yang sudah ditempuh oleh PMI selama delapan tahun pencarian ini bisa digambarkan dalam empat tahap utama:
1 Tahap belajar dari PLS UNY.
2 Tahap Proyek IISEP yang memberikan kontribusi berupa:  Perkenalan dengan tradisi social work  Fasislitasi studi banding ke UI dan STKS dan UIN Syarif Hidayatullah  Perbandingan dengan Schools of Social Work di berbagai negara  Pergulatan identitas dengan Jurusan yang mirip (BPI)
3 Tahap Pembukaan Konsentrasi
4 Tahap Kelahiran Jurusan Kesejahteraan Sosial Islam

B. Belajar dari Banyak Pihak. 
Tradisi keilmuan yang pertama kali ditemukan oleh PMI dalam proses pencarian basis epistemologis adalah program Pendidikan Luar Sekolah di UNY. Ada dua alasan yang bisa dikemukakan. Pertama, faktor geografis, yang memudahkan PMI dalam mengakses program ini. Kedua, alasan yang lebih mendasar, PLS UNY menawarkan tradisi keilmuan yang — dalam penelaahan PMI saat itu — benar-benar bisa mengarahkan jurusan ini. Kalau PMI diberi mandat untuk mengembangkan masyarakat, PLS UNY memberikan cara: mengembangkan masyarakat melalui pendidikan. Dengan kata lain, perubahan sosial akan terjadi bila masyarakat terdidik.
Pendidikan seperti apa yang bisa menghasilkan perubahan sosial? Pendidikan yang, dalam bahasa Freirian dan banyak diacu oleh PLS, membebaskan —menggugah kesadaran masyarakat untuk berubah, memperbaiki, dan mengembangkan diri. Menurut pertimbangan Jurusan PMI waktu itu, “pendidikan masyarakat yang membebaskan” adalah pendekatan yang bisa dipinjam oleh Jurusan PMI dalam mengembangkan masyarakat.
Jurusan PLS juga tidak hanya menawarkan pendekatan, ia juga menawarkan basis epistemologis dan sekaligus wujud praktisnya dalam berbagai mata kuliah yang bisa diadopsi menjadi mata-kuliah mata-kuliah di PMI. Selama tahap awal berdirinya PMI, dari PLS UNY itulah kurikulum didesain dan mata kuliah ditentukan dan diajarkan kepada para mahasiswa PMI. Apalagi, PMI telah memiliki empat orang dosen yang berhasil lulus PLS UNY dengan keahlian masing yang bisa mewarnai Jurusan PMI.
Di tengah upaya Jurusan PMI menemukan pijakan-pijakan epistemologis dan aksiologis, mulai tahun 2002 Jurusan PMI dilibatkan dalam Proyek IISEP (Indonesian Islamic Social Equity Project) yang didanai oleh Departemen Agama RI dan CIDA (Canadian International Development Agency, milik pemerintah federal Canada).
PMI dilibatkan karena akses dan komitmen akademiknya dalam mengembangkan masyarakat. Proyek IISEP secara garis besar memberikan support di dua level: pengembangan kapasitas kelembagaan (institutional capasity building) dan pengembangan program-program pendampingan masyarakat. Di tingkat pengembangan kelembagaan, Proyek IISEP membantu jurusan PMI dengan membiayai studi lanjut S2 dan S3 di dalam (UI) dan luar negeri (McGill), penyelenggaraan workshop-workshop yang ditujukan untuk lebih meningkatkan kapasitas community development dosen-dosen PMI, evaluasi dan revisi kurikulum Jurusan PMI, studi-studi banding di dalam dan luar negeri yang terkait dengan pengembangan jurusan dan community development, maupun bantuan fasilitas administratif dan akademik.
Di tingkat pengembangan program-program pendampingan masyarakat, IISEP memberikan kontribusi yang berarti bagi Jurusan PMI dalam mendampingi secara langsung kegiatan di masyarakat lewat program desa mitra, penyelenggaraan workshop fundrising, dll.
Dalam konteks pencarian basis epistemologis, prosyek IISEP mempunyai kontribusi dalam membuka horizon-horizon akademis yang tak terbayangkan sebelumnya, terutama perkenalan dengan tradisi social work. Masuknya tradisi social work terbaca dengan jelas dari pengiriman studi lanjut S2 dan S3 social work ke McGill University (5 orang), ke Jurusan Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia (4 orang), dan adanya program IIS (Interdiscyplinary Islamic Studies) di Pascasarjana yang berkonsentrasi social work.
Paling penting dari semua itu, yang kemudian mempengaruhi identitas PMI, adalah sumbangan kurikulum Islamic Social Work yang dirancang oleh Prof. Bill Row, dekan School of Social Work di McGill University dalam perkembangan Jurusan PMI berikutnya, konsep Islamic Social Work usulan Prof. Bill Row waktu itu dapat dikatakan sebagai prototype of Social Work yang kelak menjadi basis berdirinya Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial di Fakultas Dakwah.
Selain tradisi social work yang dikembangkan di Barat, Kanada khususnya, proyek IISEP juga membuka perhatian PMI untuk belajar dari social work yang sudah diadopsi dan dikembangkan di Indonesia: Jurusan Kessos Universitas Indonesia dan STKS (Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial) di Bandung.
Dari Studi Banding ke Jurusan Kessos Fisip UI diperoleh informasi bahwa jurusan ini dibangun dengan mengacu pada perspektif pembangunan bidang sosial, sesuai dengan tantangan pembangunan di Indonesia, sehingga sasaran bukan bukan saja pada individu (mikro), namun juga kelompok dan keluarga (mezzo) dan komunitas dari organisasi (makro). Adapun Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung berorientasi pada upaya memajukan ilmu pekerja sosial yang diabdikan bagi penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan dalam mewujudkan kesejahteraan sosial.
Pergulatan dengan social work semakin intens ketika di akhir tahun 2003 McGill kembali mengirimkan salah seorang dosennya untuk mendampingi Jurusan PMI dalam mengevaluasi capaian dan merumuskan langkah selanjutnya. Dr. Jill Hanley saat itu dikirim oleh CIDA untuk mendampingi Jurusan PMI dalam membandingkan apa yang sudah diajarkan di PMI, rumusan Prof. Bill Row, rumusan para dosen UIN yang tengah kuliah di Kanada, dan program social work di Filipina.
Setelah acara itu sendiri, Jurusan PMI, yang terinspirasi oleh metode fasilitasi Dr. Jill Hanley, juga mengeksplorasi kurikulum dari berbagai belahan dunia lain, seperti India dan Inggris, lalu membandingkannya.
Dari studi komparasi tersebut diperoleh horizon yang benar-benar menggugah. Nama social work ternyata beragam: ada yang social welfare ada pula yang public policy and administration, tergantung kepada sejarah, sudut pandang, dan fokus kegiatan masing-masing —sehingga memberikan alasan yang kuat bagi bagi jurusan PMI untuk berani mengembangkan social work ala PMI UIN Sunan Kalijaga tanpa menutup proses perkembangan.
Jadi, ringkasnya, perjumpaan dengan social work ini menjadi tanda pergulatan epistemologis babak kedua. Setelah relatif banyak dipengaruhi oleh PLS, kini PMI mempunyai pilihan yang tak kalah menariknya: tradisi social work dengan sejarah yang panjang, dengan profesi yang sudah mapan, dan terpenting dengan body of knowledge yang selama ini tengah dicari-cari oleh Jurusan PMI.

C. Pergulatan Identitas dengan Jurusan Semisal 
Salah satu hasil penting lainnya yang memperoleh perhatian khusus dari PMI waktu itu adalah: fakta bahwa pengembangan masyarakat (community development) justru hanyalah salah satu dari beberapa bidang yang berkembang dalam tradisi social work. Selain community development, dalam social work juga berkembang clinical social work, bahkan yang kedua ini malah lebih populer di Indonesia daripada community development. Para dosen yang dikirm ke Kanada pun lebih baanyak praktik di bidang clinical social work daripada community development.
Dalam konteks inilah timbul pertanyaan, apakah dengan demikian Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) yang ada di Fakultas Dakwah adalah bagian dari social work? Pada awalnya, kemiripan clinical social work dengan Jurusan BPI seperti memberikan kartu kuning untuk mengevaluasi Fakultas Dakwah secara keseluruhan.
Dalam perbincangan dengan para kolega dari Fakultas Dakwah UIN Syahid sempat terdengar pula pendapat dari salah seorang bahwa social work di Barat sebenarnya sama dengan Fakultas Dakwah di Indonesia. Social work awalnya juga kegiatan missionaris, sama seperti Dakwah. Jadi, menurut pendapat ini, ada baiknya mengubah Fakultas Dakwah menjadi Fakultas Social work.
Jurusan PMI sendiri tak sepenuhnya sependapat dengan pandangan tersebut. Dakwah perlu dipertahankan sebagaimana ide awal didirikannya fakultas ini. Tetapi, seperti yang diyakin sejak semula, Dakwah perlu belajar dari pengalaman dan tradisi lain. Untuk mencari jawaban persoalan ini, dalam perumusan konsep dan kurikulum PMI, kemudian melibatkan Jurusan BPI.
Secara formal, Ketua Jurusan BPI dilibatkan dalam mengevaluasi konsep awal yang ditawarkan oleh Bill Row dan konsep-konsep lain yang diusung dari berbagai perguruan tinggi di luar negeri (mulai dari Amerika Serikat sampai India dan Filipina).
Salah satu temuan Jurusan PMI dari proses penelaahan materi social work di berbagai negara ini yang paling relevan untuk menjawab persoalan PMI dan BPI adalah sifat social work sebagai multidiciplinary studies. Dalam diskusi-diskusi dengan para kolega di Jurusan BPI, sering diperoleh masukan bahwa materi kuliah klinis ini kurang SKS, kurang tajam, dan seterusnya — bila dilihat dari sudut pandang BPI. Tetapi PMI juga memperoleh masukan dari kolega-kolega alumni STKS, bahwa materi yang dirancang sudah cukup bila untuk memenuhi kebutuhan seorang social worker. Demikian pula jika mengacu kepada rancangan Prof. Bill Rowe yang justru lebih sederhana daripada rancangan PMI.
Jadi, tampaknya BPI melihat aspek klinis social work dari sudut pandang yang sangat psikologis, sementara social work melihatnya sebagai bagian dari intervensi yang lebih besar. Artinya, BPI lebih mengacu kepada tradisi ilmu psikologi sementara social work menjadikan ilmu psikologi sebagai salah satu disiplin di antara banyak disiplin lain yang dipadukan (multidiciplinary) untuk mencari solusi bagi permasalahan sosial. Pada perkembangan terakhir, Jurusan BPI sendiri tampaknya semakin mantap untuk mengembangkan kompetensi dan kini telah berubah menjadi Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam.

D. Pembukaan Dua Konsentrasi 
Pergulatan panjang itu melahirkan kompromi dalam Jurusan PMI. PMI membuka diri sebagai titik temu dari berbagai macam tradisi keilmuan dan sekaligus mempertahankan identitas keislamannya. Sebagaimana PMI dulu tidak menjadi PLS, PMI pun tidak menjadi social work seperti yang ada di McGill. PMI menyerap keduanya dan memadukannya untuk menjawab pertanyaan pokok: bagaimana mengembangkan masyarakat dengan pendekatan dakwah?
Dalam kasus PLS, PMI sejak semula tidak berniat menjadi PLS Islam, namun akan mengambilnya dari aspek titik tekannya di community development. Secara teknis, menjadi social work seperti di McGill atau STKS juga tidak mungkin karena beban SKS di lingkungan UIN sudah diambil banyak untuk UIN (36 SKS!) dan Dakwah (14 SKS) dari 145 SKS untuk S1. Apa yang bisa dilakukan adalah mencari kompromi dari berbagai hal: kompromi epistemologis antara Dakwah, PLS, dan Social Work; serta kompromi teknis untuk mengakomodir SKS UIN dan Dakwah.
Membuka dua konsentrasi, waktu itu, adalah cara terbaik untuk menyiasati hal-hal di atas. Dengan sisa sekitar 43 SKS, tidak mudah untuk memenuhi kebutuhan menjadi social worker yang sekaligus menguasasi clinical social work dan community development. Apa yang bisa dilakukan adalah membagi keduanya dalam dua konsentrasi, sehingga berbeda dengan lulusan social work yang diberi pilihan hingga lulus untuk memilih bidang klinis atau community, mahasiswa PMI diharuskan memilih sejak awal untuk menjadi social worker yang spesialis klinis atau community developer.
Dengan strategi ini, PMI telah membuka dua konsentrasi studi untuk angkatan 2005 (meski belum dipisahkan ke dalam konsentrasi masing-masing karena belum memperoleh landasan hukum).
Dua konsetreasi ini adalah:
• Konsentrasi Pengembangan Masyarakat (KPM)
• Konsentrasi Kesejahteraan Sosial (KKS)

E. Lahirnya Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial 
Pada akhirnya, setelah melalui proses ‘inkubasi’ dalam konsentrasi kesejahteraan sosial, Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial diresmikan lahir pada tanggal 20 Januari 2009, berdasarkan SK Dirjen Pendis Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor DJ.I/32/09.
Setelah resmi menjadi Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Prodi IKS menjadi program studi ilmu kesejahteraan sosial pertama di lingkungan PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam negeri) di Indonesia dan membuka babak baru integrasi ilmu-ilmu social work dengan tradisi keilmuan di Fakultas Dakwah khususnya.
Upaya integrasi itu dilakukan dengan berbagai upaya update ilmu pengetahuan keislaman maupun social work. Dalam hal pengembangan keilmuan keislaman, selain memperkuat sentuhan social work dalam mata kuliah ke-UIN-an, seperti al-Qur’an dan Hadits, upaya menegaskan pertemuan Islam dan social work itu dapat dibaca dari pengembangan mata-kuliah mata kuliah khas program studi ilmu kesejahteraan sosoail di UIN yang memberikan keunikan sekaligus dari mainstream kajian keislaman maupun mainstream ilmu kesejahteraan sosial di perguruan tinggi umum. Misalnya, di jurusan ini dikembangkan mata kuliajh Tafsir Ayat-ayat Kesejahteran Sosial, Hadits Kesejahteraan Sosial, dan Fiqih Sosial. Dalam tiga mata kuliah ini, tradisi Tafsir, Hadits, dan Fiqih direformulasi, diasah, dan dipadukan dengan isu-isu terkni dalam dunia kesejahteraan sosial.
Dalam bidang ilmu kesejahteraan sosial, selagi terus menyesuaikan dengan standar-standar komeptensi wajib yang menjadi kesepakatan Ikatan Pendidikan Pekerja Sosial Indoensia (IPPSI), Prodi IKS juga terus mengembangkan penelitian dan kajian yang lebih menjawab kebutuhan sosial lokal. Hal ini dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan berbagai instansi penyelenggara layanan sosial seperti rumah sakit, panti sosial, LSM, lembaga karitas keagamaan, yang dengan mereka para mahasiswa IKS mempertemukan langsung keilmuan yang mereka pelajari dengan kebutuhan riil di masyarakat.