WHAT'S NEW?
Loading...

Workshop Peksos 2014

Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga (FDK UIN Suka) menyelenggarakan workshop pekerja sosial se-DIY dan Jateng dengan tema “membangun sinergitas antara pekerja sosial di di DIY dan Jateng”, Selasa (10/06) kemarin. Workshop bertempat di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga.

Workshop ini dihadiri pembicara-pembicara antara lain : Latiful Khuluk Ph.D., Eka Nurul Hidayati, M.Si., Drs. H. Untung Sukaryadi, M.M. (Kadinsos DIY) dan sekretaris dari Kadinsos Jateng. Seorang pekerja sosial dari California University, Hadijah Abdul Matin, turut hadir dalam workshop ini. Peserta workshop terdiri atas pekerja sosial di DIY dan Jateng, para dosen IKS, dan perwakilan mahasiswa IKS.


Salah satu panitia workshop, Asep Jahidin menulis dalam rilis yang diterima FDK hari ini, dasar pemikiran wokhsop ini adalah bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang berada dalam posisi rawan bencana secara geografis. Hampir setiap tahun, Indonesia menghadapi kejadian alam yang berdampak pada kehidupan manusia seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami, banjir, tanah longsor, dan berbagai kejadian alam lainnya.

“Selain bencana alam, dari sisi demografi, jumlah penduduk Indonesia yang menempati posisi ke-4 terbesar di dunia, mengandung potensi bencana sosial yang mungkin timbul dalam bentuk konflik suku, agama, politik dan konflik psikologis,” tulisnya, “konflik-konflik tersebut bisa membawa dampak tidak sederhana pada individu, kelompok maupun masyarakat luas.”

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah gambaran Indonesia kecil. Jika dilihat dari komposisi penduduk, hampir semua suku di Indonesia ada di DIY. Mereka tinggal bahkan menetap di Yogyakarta untuk berbagai kepentingan, baik terkait pendidikan, pariwisata, bisnis, maupun alasan sosial. Demikian juga bila dilihat dari kondisi alam, Yogyakarta telah mengalami berbagai jenis bencana paling parah seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Dalam menghadapi berbagai kondisi tersebut, kehadiran dan keberadaan pekerja sosial dipandang sangat penting. Pekerja sosial harus mengambil tanggungjawab dalam memecahkan berbagai persoalan di atas.

“Untuk itu, pekerja sosial harus senantiasa meningkatkan kapasitas kemampuan baik dari sisi pengetahuan, keterampilan maupun nilai-nilai profesionalisme yang selama ini telah dikembangkan di kalangan pekerja sosial Indonesia termasuk di wilayah DIY,” lanjut dosen jurusan IKS ini.

“Dalam workshop ini telah dihasilkan beberapa rekomendasi terkait perkembangan profesi pekerja sosial di Indonesia, yaitu membangun jaringan antara pekerja sosial baik di pemerintahan maupun di masyarakat, penguatan spesialisasi pekerja sosial, pelatihan advokasi, penghargaan bagi pekerja sosial tidak selalu dalam bentuk materi, tapi yang terpenting adalah pengakuan atas kinerjanya,” tambahnya.