WHAT'S NEW?
Loading...

Kerjasama dengan Luar Negeri, Jurusan IKS Gelar Workshop Bencana Sosial

Sampai saat ini Yogyakarta masih menyandang predikat city of toleran. Sebutan itu menunjukkan bahwa masyarakat Yogyakarta seharusnya memiliki kultur dan sikap yang senang perdamaian dengan siapa saja yang beda agama, etnis, bahasa, adat-istiadat bahkan sampai pada persoalan pilihan hidup. Namun, apa yang terjadi pada akhir-akhir ini di Yogyakarta masih ada peristiwa kekerasan atas nama agama atau isu-isu agama sebagai akar konflik.
Pada prinsipnya siapapun yang menghuni di Yogyakarta harus menjaga harmonisasi apapun agamanya dan keyakinannnya. Sebagai kota toleran, dalam kehidupan sosial, jika terjadi persoalan perbedaan keyakinan atau persoalan sosial, dialog adalah cara paling terhormat, karena dengan dialog dapat menurunkan tensi ketegangan sosial dan mencari jalan keluar dari ketegangan tersebut.
Karena itu, Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan workshop dua hari 25-26 Juni 2014 di Hotel Cakra Kembang Yogyakarta untuk mengupas tuntas dengan tema konflik agama sebagai bencana sosial.
Kegiatan workshop ini dibuka oleh Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus sebagai pembicara kunci. Sebagaimana dijelaskan oleh Ketua Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr. H. Zainudin, M.Ag bahwa kegiatan workshop ini dilaksanakan atas kerjasama Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Yogyakarta dengan UEM Jerman dan GKJTU Salatiga untuk bekerja bersama membahas bencana sosial. Peserta workshop diikuti oleh tokoh dari berbagai agama-agama di DIY dan Jateng dengan model sharing pengalaman agama masing-masing terkait dengan penanganan bencana sosial.
Tujuan workshop ini adalah dapat memberikan kontribusi dari para tokoh agama-agama dalam menangani bencana sosial. Diskusi ini didesain lebih menarik, karena biasanya yang terlibat dalam konflik antar agama adalah para tokoh antar agama, maka yang menyelesaikan juga tokoh antar agama, sehingga nuansa diskusi dialogis mencari titik temu perdamaian lebih dikedepankan.
Isu konflik antar agama adalah isu yang tidak pernah mati, karena isu itu selalu muncul dimanapun dan kapankun. Hal ini dilatar belakangi oleh perbedaan-perbedaan dalam ajaran agama-agama selalu dijadikan alasan untuk bertikai. Alasan perbedaan ajaran merupakan alasan paling utama akar konflik, meskipun faktor lainnya juga banyak sebagai pemicu konflik.
Karena itu, Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memandang perlu menggelar dan mempertemukan tokoh agama-agama guna berbicara bareng dan duduk bersama bagaimana tokoh agama bisa menciptakan perdamaian dan mencega konflik yang berakar dari isu agama.
Konflik atas nama agama baru saja terjadi di Sleman menjadi keprihatinan kita bersama, satu sisi kita merindukan hidup damai dengan siapa saja, tetapi di sisi yang lain masih ada juga aksi-aksi kekerasan terhadap orang yang beda agama atau keyakinan. Sebagai outcame dari kegiatan ini adalah peserta diharapkan mampu menjadi agen perdamaian di komunitasnya masing-masing dan mengkampayakan pentinganya perdamaian dalam berbagai kegiatan sosial keagamaan.